ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA KEUANGAN PT. BERDIKARI UNITED LIVESTOCK (EKN-42)


Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang dituntut untuk senantiasa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya melalui pembinaan pilar ekonomi yang dianggap mampu menopang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata. Selain Koperasi, Swasta, maka salah satu pilar ekonomi yang dianggap mampu untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa setelah b`ngsa ini dilanda krisis moneter pada akhir tahun 1997 menyebabkan perekonomian masyarakat Indonesia mengalami keterpurukan. Berbagai bidang usaha yang dengan susah payah dibangun oleh pemetintah selama bertahun-tahun satu persatu mengalami kebangkrutan dan bahkan tidak cukup hanya sampai disitu para karyawan pun menuai dampak lebih parah dengan PHK secara besar-besaran. Dalam kondisi yang semakin terpuruk tersebut, pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan pembenahan, meski belum menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, akan tetapi Badan Usaha Milik Negara merupakan salah satu pelaku ekonomi yang diangap mampu dan dapat diandalkan untuk menjadi lokomitif ekonomi Indonesia dalam kompetisi ekonomi Nasional maupun Internasional. Dalam upaya perbaikan ekonomi pasca krisis tersebut, pemerintah pun melakukan kegiatan restrukturisasi yang dilakukan dengan memasukkan – swasta beserta seluruh jaminan kreditnya menjadi milik pemerintah, sehingga dengan demikian 80% aset produktif bangsa Indonesia berada dalam manajemen BUMN (Tanri Abeng, 2000).
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pelaku ekonomi terbesar di Indonesia diharapkan untuk mampu terus tumbuh dan berkembang agar mampu melakukan kompetisi di era yang semakin terbuka. Menurut Sofyan Jalil (1999) total asset BUMN sampai akhir 1997 mencapai Rp. 461 triliyun. Dengan aset yang begitu besar dan bergerak pada dua jenis BUMN yakni BUMN Infra struktur dan Non Infrastruktur hampir semua bidang ekonomi seperti : Industri dan perdagangan, Kawasan Industri dan Jasa Konstruksi, dan Konsultasi, Perhubungan telekomunikasi dan Pariwisata, pertanian dan perkebunan, pelayanan umum, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian kinerja BUMN dianggap sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian Indonesia pada umumnya.

Pada Akhir tahun 1997 bila ditinjau secara parsial, maka kinerja beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan kondisi yang menggembirakan, akan tetapi secara umum kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Hal ini ditunjukkan dengan total asset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akhir tahun 1997 senilai empat ratus enam puluh satu ( Rp. 461 trilliun ), ROA sebesar 2,25% dari total aset, ROI sebesar 3,55% dari total aset yang tergolong produktif Rp. 333,9 triliyun, serta ROE sebesar 9,56% dari total equity sebesar Rp. 123,4 triliyun (Tanri Abeng 2000). Return tersebut menunjukkan nilai yang jauh dibawah opportunity cost of capital.

Fenomena tersebut di atas mendorong pemerintah melakukan reformasi terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara besar-besaran, dengan perubahan dari dominasi peran pemerintah ke peran pasar. Meskipun demikian, dalam prakteknya birokrasi pemerintah enggan melepas kontrol. Meskipun demikian PT. Berdikari United Livestock sebagai salah satu anak perusahaan PT. Berdikari diharapkan untuk dapat memberi kontribusi terhadap keuangan negara melalui peningkatan kinerja yang dimiliki dari berbagai aspek, baik aspek keuangan, operasional, mapun administrasi.
Salah satu penelitian yang berhubungan dengan Kinerja PT. Berdikari United Livestock sebelumnya telah dilakukan oleh Syamsul Bachri Razak (2002) sebagai berikut :
“Evaluasi Kinerja PT. Berdikari United Livestock Parepare (Penerapan SK Menkeu RI No. 198/KMK.016/1998)”

Berdasarkan Hipotesis yang telah disusun dan diuji maka disimpulkan sbb:
1) Sesuai SK Menteri Keuangan RI No.198/KMK.016/1998, kinerja PT. Berdikari United Livestock (Persero) sebesar 76,75 atau berada pada tingkat kesehatan “Sehat” dengan predikat “A”. Pencapaian tingkat kesehatan ini berasal dari aspek keuangan, Operasional dan Administrasi masing-masing 52,75,15,0 dan 9,0 dari sumbangsih optimal setiap aspek tersebut masing-masing 70,15 dan 15.
2) Bobot penilaian kinerja PT. Berdikari United Livestock, atas aspek keuangan sebesar 52,75 dari total bobot sebesar 70. ini berarti bahwa kinerja aspek keuangan hanya mampu mencapai 75,36% dari nilai total. Rendahnya nilai kinerja ini disebabkan karena ada 4 elemen penilaian yang berada dibawah nilai optimal yaitu ROI dengan bobot 7,5% (50%), perputaran persediaan dengan bobot 0 (0%), perputaran total aset dengan bobot 3 (60%) dan rasio modal sendiri dengan bobot 7,25 (73%). Sedangkan 4 elemen penilaian lain mampu mencapai nilai optimal 100% yaitu ROE, Rasio Lancar, Rasio Kas dan Perputaran Piutang..

Penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Bachri Razak tersebut di atas berdasarkan pada data perusahaan tahun 1999-2000 dengan penilaian kinerja berdasarkan SK Menkeu RI No. 198/KMK.016/1998, dengan tujuan untuk mengetahui Tingkat Kesehatan dan Predikat yang diperoleh PT. Berdikari United Livestock tahun 1999-2000. Berdasarkan pada penelitian tersebut maka penulis akan melakukan pengembangan penelitian dengan menggunakan PT. Berdikari United Livestock sebagai Subjek Penelitian dengan melakukan penilaian kinerja keuangan berdasarkan SK Mentri BUMN No.100/MBU/2002 dan selanjutnya melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan PT. Berdikari United Livestock
Berikut ini perkembangan kinerja keuangan PT. Berdikari United Livestock selama tahun 2000-2004 sebagai berikut:

Tabel 1. Perkembangan Kinerja Keuangan PT. Berdikari United Livestock Periode 2000 – 2004 (dalam Jutaan rupiah)
Uraian Tahun
2000 2001 2002 2003 2004
Pendapatan 4.447 5.063 7.764 9.258 7.399
HPP Usaha 2.812 2.983 5.001 5.987 4.985
Laba Kotor 1.635 2.080 2.763 3.271 2.414
Biaya Usaha 1.243 1.282 1.534 2.483 2.306
Laba Usaha 392 798 1.229 787 108
Pend & Biaya Lainnya 34 (39) 75 (43) 294
Laba sebelum Pajak 426 759 1.304 744 402
Aktiva 6.861 7.285 8.410 10.918 11.210
Hutang 4.494 4.529 5.053 7.503 7.505
Equitas 2.367 2.756 3.357 3.416 3.705
ROE (%) 15,78 25,88 38,01 18,46 8,75
ROI (%) 9,67 14,63 18,33 10,71 5,59
Sumber : PT. Berdikari United Liverstock

Memperhatikan tabel tersebut diatas, nampak secara keseluruhan selama kurun waktu 2000-2004 beberapa indikator menunjukkan kinerja yang baik, akan tetapi tahun 2002-2004 terdapat kecendrungan penurunan kinerja keuangan dari aspek Profitabilitas/rentabilitas, hal ini ditunjukkan bahwa pada tahun 2002 ROE 38,01, tahun 2003 menjadi 18,46, dan secara signifikan tahun 2004 turun menjadi 8,75. Adanya kecenderungan penurunan kinerja keuangan, terutama terjadinya penurunan laba selama kurun waktu 5 tahun hal ini terlihat terutama pada tahun 2002-2004, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor internal perusahaan, maupun eksternal perusahaan. Eksistensi perusahaan di tengah masyarakat , termasuk PT. Berdikari United Livestock sejalan dengan sukses tidaknya perusahaan tersebut dalam mengelola operasi perusahaan ditunjukkan dengan indikator keberhasilan dan sulbangan maksimum yang diberikan oleh perusahaan dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakat umumnya dan karyawan serta pemilik perusahaan pada khusnya. Hal ini menunjukkan bahwa sukses perusahaan dapat diukur dari suksesnya memproduksi barang dan jasa sehingga barang dan jasa yang diproduksi pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil operasi perusahaan tersebut. Terdapat banyak kriteria yang dapat digunakan sebagai variabel penilaian hasil operasi perusahaan diantaranya perobahan volume dan omzet penjualan, tingkat laba kotor, laba bersih. Akan tetapi kriteria tersebut tidak tidak terlepas dari besarnya kecilnya jumlah investasi dan sumber permodalan yang digunakan untuk merealisasikan laba tersebut. Menurut Harnanto (1991:302), bahwa struktur permodalan perusahaan berbeda disebabkan oleh perbedaan karakteristik di antara tiap-tiap sumber/jenis permodalan tersebut. Perbedaan kareakteristik di antara tiap-tiap jenis/sumber permodalan itu, secara umum mempunyai akibat atau pengaruh pada dua aspek penting di dalam kehidupan setiap perusahaan, yaitu : 1) terhadap kemampuannya untuk menghasilkan laba, dan 2) terhadap keampuan perusahaan untuk membayar kembali hutang/kewajiban-kewajiban jangka panjangnnya. Hal ini berarti bahwa jumlah komposisi aktiva, dan sumber permodalan yang digunakan (Modal sendiri dan Hutang Jangka Panjang) merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi perusahaan yang salah satu indikatornya adalah perolehan pendapataan/Laba.

Berbagai fenomena tersebut di atas menjadi dasar pemikiran bagi penulis untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan PT. Berdikari United Livestock.”

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Themes