Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012 (PMT-10)

Pendidikan merupakan suatu hal yang fundamental bagi kemajuan bangsa, maju dan mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dengan kata lain kualitas pendidikan berimplikasi secara tidak langsung terhadap tingkat kesejahteraan manusia tidak terkecuali kualitas pelaksanaan proses belajar matematika.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di setiap jenjang pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Peranan matematika sangat penting dalam menunjang pembangunan di bidang pendidikan, bagi siswa penguasaan matematika akan menjadi sarana yang ampuh sebagai penunjang mempelajari mata pelajaran yang lain. Matematika juga membentuk kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, serta dinamis, sehingga manusia mampu menemukan dan menentukan ide-ide baru yang berguna bagi kepentingan teknologi dalam peranan bagi manusia.

Kenyataan yang dihadapi di SMA, bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika mempunyai nilai rata-rata yang rendah. Hal ini dibuktikan pada Ujian Nasional Tahun 2010/2011, untuk SMA, nilai rata-rata untuk Matematika adalah 6,69, sedangkan nilai rata-rata untuk mata pelajaran lain lebih tinggi, yaitu rata-rata nilai Bahasa Inggris sebesar 6,80, rata-rata nilai Bahasa Indonesia sebesar 7,00, dan rata-rata nilai IPA sebesar 7,00 (Pusat Penelitian Pendidikan, Balitbang Depdiknas). 

Hal ini disebabkan oleh kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, dan siswa belum memahami suatu materi diakibatkan ketidakpahaman dalam materi penunjang sebelumnya. Selain itu, proses pembelajaran matematika tidak menarik bagi siswa karena matematika di anggap pelajaran yang sukar dipahami dan menakutkan bagi siswa. Siswa sering tidak dapat menyelesaikan soal-soal matematika karena pemahaman konsep dasar yang mereka miliki sangat lemah. Matematika lebih mudah diingat apabila siswa belajar secara bermakna, yaitu siswa dapat mengaitkan konsep baru dengan konsep yang telah diketahui sebelumnya. Menurut Dahar (1989:54) mengemukakan bahwa: “Syarat untuk belajar ialah harus terjadi hubungan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya”. Belajar juga merupakan aktivitas proses berfikir, Abdurahman (2005:155): “Berfikir adalah proses pemindahan realitas secara menyeluruh ke otak manusia melalui indera dan menjelaskan realitas tersebut menggunakan informasi terdahulu yang berkaitan dengan realitas tersebut”.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, salah satu usaha yang harus di lakukan adalah mengajarkan matematika dengan metode dan penyampaian yang tepat sehingga menyenangkan dan menarik bagi siswa, seperti yang diungkapkan  Simajuntak (1993:63): “Hendaknya sejak dini konsep-konsep matematika dapat diajarkan oleh guru dengan metode dan penyampaian yang tepat, sehingga siswa diharapkan dapat menguasai dengan baik suatu materi matematika yang selanjutnya dapat menjadi dasar untuk materi selanjutnya yang lebih sukar.”

  Salah satu yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah menggunakan peta konsep. Peta konsep merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Peta konsep ini diperkenalkan oleh Novak dalam bukunya yang berjudul : Learning  How To Learn”. Menurut Dahar (1989:131) mengemukakan: “Gagasan peta konsep yang menyatakan hubungan antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi untuk menolong guru guna mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsung. Untuk mengetahui penguasaan konsep-konsep pada siswa dan untuk menolong para siswa mempelajari cara belajar”. Dengan menggunakan peta konsep siswa dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru dan belajar bermakna dapat berlangsung.

  Penggunaan peta konsep dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran kooperatif sehingga memudahkan proses belajar mengajar. Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Johar (2006:30): “Pembelajaran kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar  yang digunakan guru untuk menciptakan kondisi belajar sesame siswa. Siswa yang satu membantu siswa lainnya  dalam mempelajari sesuatu”. Dengan pendekatan pembelajaran kooperatif kegiatan diarahkan secara sadar untuk menciptakan interaksi yang saling membantu belajar sesama anggota kelompok. Sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesame siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang sangat positif terhadap siswa yang hasil belajarnya rendah. Manfaat pembelajaran kooperatif untuk siswa dengan hasil belajar rendah, antara lain dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, retensi atau penyimpangan materi pelajaran lebih lama.

Kooperatif memiliki beberapa tipe diantaranya yaitu kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Tipe TPS merupakan salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif. Pada model TPS siswa belajar secara berpasangan, dengan belajar dalam kelompok kecil seperti ini (hanya 2 orang) diharapkan siswa dapat berbagi tanggung jawab merata dibandingkan kelompok biasa (yang tediri atas 4-5 orang). Hal ini memungkinkan siswa lebih mandiri dan serius dalam belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk mengganti suasana pola diskusi kelas dengan asumsi bahwa semua resitusi dan diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, merespon dan saling membantu (Arends, 2001:325).

            Menurut kurikulum KTSP (2006), matematika adalah pelajaran wajib pada sekolah lanjutan. Ruang Lingkup Matematika di Sekolah Menengah Atas antara lain mencakup Aritmatika, Logika, Aljabar serta Trigonometri. Trigonometri merupakan materi yang di ajarkan di kelas XI SMA/MA semester ganjil. Disamping sebagai salah satu materi penyumbang soal dalam distribusi soal UN (Ujian Nasional) maupun tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), aplikasinya juga banyak dijumpai dalam berbagai bidang ilmu lainnya. Misalnya fisika, kimia. Materi trigonometri harus dikuasai oleh siswa pada sekolah lanjut. Namun, kenyataan di lapangan sangatlah memprihatinkan. Ternyata kebanyakan siswa dibeberapa SMA/MA sederajat di Banda Aceh masih memiliki kendala dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan trigonometri jumlah dan selisih dua sudut, siswa sulit dalam mengingat dan menggunakan rumus-rumus trigonometri yang telah diperoleh sebelumnya untuk menyelesaikan masalah trigonometri yang dihadapinya. Oleh sebab itu, penerapan model pembelajaran TPS dirasakan cocok untuk diterapkan dalam materi trigonometri, dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir (think) dalam menentukan langkah mana yang akan ditempuh untuk menyelesaikan masalah, menurut Edward de Bono (dalam http://politikana.com/baca/2011/02/02/belajar-berpikir.html). Berfikir adalah “keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dengan pengalaman sehingga murid menemukan sendiri konsep yang sebenarnya ingin disampaikan guru”. Penalaran seperti ini bukan memberikan hafalan rumus, tetapi kesempatan latihan berfikir untuk menentukan rumus atau suatu konsep yang akan diingat seumur hidup. Selanjutnya, siswa dapat berpasangan  (pair) dengan kawan sebangkunya dan berbagi (share) dengan kelompok lain sehingga lebih aktif dalam proses pembelajaran.

  Penelitian sebelumnya menggambarkan hasil penggunaan peta konsep  meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Nur (1999:51): “Suatu kelompok siswa diajarkan 112 kata yang berhubungan dengan mineral dalam urutan acak. Kelompok yang lain diajarkan kata yang sama tetapi dengan urutan tertentu yaitu dengan menggunakan peta konsep, siswa pada kelompok ini mampu mengingat rata-rata 100 kata dibanding dengan kelompok yang diajarkan urutan acak hanya mampu mengingat  65 kata.

            Dari hasil yang dilakukan oleh Rahmi Maulida (2009) disimpulkan bahwa (1) Dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat dapat mencapai ketuntasan belajar siswa di kelas VII-4 SMP Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009, (2) kemampuan siswa dalam membuat peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 belum bias dikatakan baik (3) respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 adalah positif.

Berdasarkan uraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa penggunaan peta konsep dan pembelajaran kooperatif untuk materi trigonometri sangat cocok digabungkan. Sehingga penulis tertarik untuk mengamati apakah dengan menggunakan peta konsep melalui model pendekatan Think Pair Share (TPS) dapat mencapai hasil belajar yang baik dalam proses pembelajaran materi trigonometri. Dalam hal ini, maka penulis akan menuangkan dalam sebuah penelitian dengan judul “Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Contoh Skripsi PPKN

Download Contoh Skripsi PPKN Lengkap. Mendengar kata skripsi pasti yang ada dalam pikiran anda Mahasiswa dan Sarjana. Ya Skripsi merupakan terpenting dalam memperoleh gelar Sarjana. Banyak perjuangan waktu, tenaga dan pikiran yang digunakan dalam pembuatan skripsi. Maka pada postingan kali ini saya ingin berbagi contoh skripsi lengkap koleksi saya.

Tentunya Download Contoh Skripsi PPKN Lengkap ini ditujukan buat Mahasiswa tingkat akhir yang masih bingung dalam menentukan judul skripsinya dan cara membuat skripsi yang baik, Khususnya bagi Mahasiswa yang belum mengajukan judul. Banyak contoh-contoh skripsi bertebaran di internet, tapi kebanyakan dari contoh skripsi yang tersedia di internet kebanyakan tidak lengkap dan setengah-setengah. Artinya tidak lengkap dari BAB awal sampai BAB terakhir, sehingga contoh skripsi yang kita terima menjadi tanggung.

Contoh Skripsi Lengkap ini dalam format MS Word dan bukan PDF. Hal ini untuk memudahkan agar bisa digunakan sebaik mungkin. Dan Jadikan contoh skripsi yang saya share ini sebagai REFERENSI anda dalam membuat skripsi.

Contoh skripsi PPKN bisa dilihat disini.





    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Hubungan Motivasi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi PPKn di SDN Tasikmadu 2 Kota Malang Tahun Pelajaran 2010-2011 (PPKN-1)

    Hubungan orang tua adalah hubungan yang paling mendasar dalam tumbuh kembangnya seorang anak. Prestasi belajar siswa juga tidak dapat terlepas dari kondisi lingkungan keluarga siswa. Siswa yang memiliki prestasi baik biasanya berasal dari lingkungan keluarga yang baik, begitu pula sebaliknya, apabila lingkungan keluarga kurang baik prestasi siswa juga memiliki kecenderungan yang rendah. Kondisi lingkungan keluarga yang baik dapat diharapkan dapat memberikan motivasi belajar yang baik sehingga prestasi belajar siswa dapat lebih maksimal
                Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dibatasi pada mata pelajaran PPKN kelas VI semester 2.
                Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN Tasikmadu 2 tahun pelajaran 2010-2011. Selanjutnya diambil sample siswa kelas VI, yaitu sebanyak 25 anak. Untuk mengumpulkan data digunakan angket dan nilai Try out ke 3 siswa khususnya mata pelajaran PPKN kelas VI semester 2 tahun ajaran 2010-2011.

     

                Berdasarkan analisis data, dengan menggunakan korelasi product moment pearson dengan taraf signifikansi 5% denga N = 25, hasilnya signifikan, karena dalam pengujian hipotesis, yaitu hubungan motivasi orang tua terhadap prestasi belajar siswa diperoleh r hitunglebih besar dari r tabel, yaitu 0,664 > 0,396.

                Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa  terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi orang tua terhadap prestasi belajar bidang studi PPKn di SDN Tasikmadu 2 tahun ajaran 2010-2011

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Pengajaran Bahasa Arab Di Madrasah Ibtidaiyah Miftakhul Huda Temanggung Siswa Kelas V (PBA-6)

    Menurut Al-Ghazzawi yang dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang banyak digunakan oleh masarakat dunia, yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 (dua ratus juta) umat manusia dan bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 (dua puluh) Negara.[1]Bahasa Arab adalah salah satu bahasa hidup, yang dipakai sehari-hari dan merupakan bahasa resmi di Saudi Arabia, Marokko, Aljazair, Libya, Tunisia, Mesir, Sudan, Lebanon, Syria, Irak, Kuwait, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, Palestina, dan beberapa negara di semenanjung Arabia.[2] Di samping itu bahasa Arab juga merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an dan al-Hadist. Bahasa Arab adalah bahasa ilmu pengetahuan agama Islam. Disamping digunakan sebagai alat komunikasi bahasa Arab juga dipakai sebagai bahasa ilmu pengetahuan, sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Dalam ritual ibadah khususnya sholat, haji, dan doa juga menggunakan bahasa Arab. 

    Dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam lebih mendalam, sebelumnya ia perlu menguasai bahasa Arab, karena dengan menguasai bahasa Arab pintu gerbang untuk mendalami al-Qur’an, hadist dan ilmu pendukungnya menjadi terbuka lebar. 

    Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 dan 29 Tahun 1990, yang dimaksud dengan Madrasah adalah sekolah umum yag berciri khas agama Islam. Jadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah sekolah yang berciri khas agama Islam yang setingkat sekolah dasar.[3]Pelajaran bahasa Arab di madrasah sudah barang tentu diajarkan karena bahasa Arab termasuk bagian dari pelajaran yang harus diajarkan di madrasah, mulai dari tingkat MI sampai perguruan tinggi.

     

    Para lulusan madrasah seyogyanya memiliki kebanggaan tersendiri karena kemapuannya dalam membaca, menulis dan memahami bahasa Arab, yang merupakan kunci untuk memahami al-Qur’an dan Hadis serta kitab-kitab keagamaan klasik.[4]Sayangnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Arab para lulusan madrasah semakin menurun, kalau tidak bisa dikatakan sangat lemah. Salah satu contoh untuk mendukung pernyataan ini, bisa dilihat dari kasus para calon mahasiswa IAIN Jakarta (yang sekarang telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri), pada tahun 1995 berikut ini:

    Persyaratan untuk diterima sebagai mahasiswa baru di UIN Jakarta pada tahun 1995 adalah bahwa calon harus mendapat nilai tes bahasa Arab minimal 6 sampai 10. Hasilnya lebih kurang hanya lima yang mendapat nilai tes bahasa Arab 7 – 9, 132 anak memperoleh nilai 5 – 7, dari lebih kurang hampir 5000 (lima ribu) calon yang mayoritas adalah para lulusan madrasah dan lainnya mendapat nilai kurang dari 5. Keadaan serupa ternyata tidak hanya terjadi di UIN Jakarta saja, akan tetapi juga terjadi di IAIN dari daerah lain dan PTAIS lainnya. Dengan kata lain, di IAIN dan PTAIS lainpun banyak calon mahasiswa yang tidak atau kurang mampu menguasai bahasa Arab sesuai dengan standar kemampuan menguasai bahasa Arab untuk lulusan Madrasah Aliyah.[5]

    Penurunan prestasi belajar khususnya pelajaran bahasa Arab pada dewasa ini menjadi perhatian dan sekaligus kekhawatiran yang dirasakan penulis dan ini juga merupakan salah satu faktor pendorong penulis dalam mengangkat tema ini dengan judul “Pengajaran Bahasa Arab di MI Miftakhul Huda Temanggung (Telaah Metode)“.

    Mengapa pengajaran bahasa Arab yang penulis kemukakan? Adanya gagasan untuk mengetengahkan masalah metode dalam tulisan ini, dimaksudkan untuk memberikan manfaat pada dunia pengajaran bahasa, khususnya bahasa Arab. Sebab, setiap orang yang bergelut di bidang ini pasti menyadari pentingnya metode pembelajaran yang selayaknya dikuasai oleh calon pendidik atau pengajar.[6]Penguasaan materi ilmu bukanlah merupakan suatu jaminan kemampuan bagi seseorang untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun juga. Di samping itu, masalah metode bukanlah sesuatu yang mudah dicerna di dalam pengaplikasiannya (heuristik). Seperti yang ditulis oleh Edward M. Anthony dalam artikelnya dengan judul “Approach, Method and Technique” pada tahun 1963, dan dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar bahwasannya lapangan pengajaran bahasa diusahakan bisa mencapai taraf ilmiah ketimbang hanya mengambang pada taraf eksperimental dan empiris dan bisa juga memperdalam hakekat belajar dan mengajar bahasa. Dan bagaimana teknik yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas dan merupakan pelaksanaan dari metode yang sifatnya implementatif.[7]

    Adapun alasan penulis memilih MI Miftakhul Huda Temanggung sebagai subjek penelitian adalah karena ada indikasi MI Miftakhul Huda Temanggung memiliki kelebihan dalam penguasaan bahasa Arab di antara MI-MI lainnya yang berada di wilayah sekecamatan Bulu, kabupaten Temanggung. Hal ini bisa dilihat dari hasil nilai rata-rata yang diperoleh ketika ujian semester genap pada tahun ajaran 2004-2005, yakni dengan nilai rata-rata 7,65. Sedangkan nilai rata-rata pelajaran bahasa Arab untuk MI sekecamatan Bulu adalah 60,01.

    Alasan inilah yang membuat penulis merasa perlu melakukan suatu peneltian. Bagaimana cara pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut? Dan bagaimana peranan serta pengaruh guru –gurunya?

    Penelitian ini diharapkan berhasil mendeskripsikan proses pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut disertai analisis kelebihan dan kekurangannya, kemudian memberi sumbangan pikiran bagi pengajaran bahasa Arab bagi lembaga-lembaga pendidikan lain setingkat Madrasah Ibtidaiyah.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Pembelajaran Kitab Kuning Dengan Arab Pegon (PBA-5)

    Arab pegon, sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu6. Jadi, huruf Arab pegon atau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal. Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis, dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu. 

    Keberadaan Arab pegon di Nusantara sangat erat kaitannya dengan syi’ar Agama Islam, diduga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para ulama sebagai upaya menyebarkan Agama Islam7. Selain itu aksara Arab ini juga digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, dalam kesusasteraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, penggunaan huruf ini terutama untuk kesusasteraan Jawa yang bersifat agama Islam,8 aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Jawa disebut dengan aksara Pegon.9Bukan hanya kesusasteraan Jawa saja tapi ternyata mencakup Nusantara karena menurut Drs. Juwairiyah Dahlan, bagi mereka yang mempelajari kesusasteraan Indonesia seringkali menggunakan aksara Arab ini, bahkan di Malaysia disebut dengan aksara Jawi.

    Dengan aksara Arab ini, telah ditulis dan dikarang ratusan buku mengenai ibadah, hikayat, tasawuf, sejarah nabi-nabi dan rosul serta buku-buku roman sejarah.  Pada zaman penjajahan Belanda, sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, seringkali aksara Arab dipergunakan dalam surat menyurat, bahkan dikampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan, banyak sekali orang yang masih buta aksara latin tetapi tidak buta aksara Arab, karena mereka sekurang-kurangnya dapat membaca aksara Arab, baik untuk membaca Al-Qur’an maupun menulis surat dalam bahasa daerah dengan aksara Arab.10Menurut Prof. Dr. Denys Lombard, menjelang tahun 1880 aksara Arab masih digunakan luas untuk menuliskan Bahasa Melayu dan beberapa bahasa setempat (seperti Bahasa Aceh atau Minangkabau) 11

     

    Beragam usaha untuk mempertahankan penggunaan aksara Arab ini, salah satunya di daerah Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Buton. Menurut Laode Zaedi,12  aksara Arab dengan Bahasa Bugis/Walio dianggap sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah dan kini sedang digalakkan pelestariannya, salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi sebagai salah satu pilihan dalam kurikulum muatan lokal.  

    Selain itu, keberadaan penggunaan Arab pegon di pondok pesantren terutama yang masih kuat kultur masyarakatnya13sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Karena selama ini pesantren masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam pencapaian berhasilnya pelajaran dan pengajaran Bahasa Arab. Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon dalam pengajarannya biasa disebut dengan Ngabsahi14atau Ngalogat15 dalam menerjemahkan dan memberi makna pada Kitab Kuning.

    Pengertian umum yang beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan berbahasa arab, atau berhuruf arab, sebagai produk pemikiran ulama masa lampau (as-salaf)yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning adalah kitab-kitab yang, ( a) ditulis oleh ulama-ulama “asing”, tetapi secara turun-temurun menjadi referenceyang dipedomani oleh para ulama indonesia, (b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang “independen”, dan c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing”. 

    Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di timur tengah, dikenal dua istilah yang menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-ashriyyah). Perbedaan pertama dari yang kedua dicirikan, antaara lain,  cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (baca: sandangan- fatkhah, dhommah, kasroh). Dan sebutan kitab kuning pada dasarnya mengacu pada katagori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah)

    Spesifikasi kitab kuning secara umum terletak pada formatnya (lay-out), yang terdiri dari dua bagian: matn, teks asal (inti), dan syarh (komentar, teks penjelas atas matn). Dalam pembagian semacam ini, matnselalu di letakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarh-karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matn-diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning. Ukuran panjang-lebar kertas yang digunakan kitab kuning pada umumnya kira-kira 26 cm (quarto). Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 2 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkn salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara terpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengajian, santri hanya membawa korasantertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai-ulama. 

    Hal yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal bahwa ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: adalah metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning dihadapan kiai-ulama yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahw dan sharf). Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai-ulama sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syaklatau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Penting ditegaskan bahwa  di kalangan pesantren, terutama yang klasik (salafi), memiliki cara membaca tersendiri yang dikenal dengan cara utawi-iki-iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan tata bahasa (nahw dan sharf) yang ketat. 

    Selain kedua metode diatas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren, dewasa ini telah berkembang  metode jalsah (diskusi kelompok) dan halaqoh(seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan ditingkat kiai-ulama atau pengasuh pesantren, namun sekarang pun sudah sering dilakukan oleh santri. Guna membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.16   
             

    Ilustrasi berikut ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas bagaimana metode ini dilaksanakan dalam praktik:


                    الحمد لله الدي فضل بني ادم بالعلم والعمل على جميع العالم    

    Teks tersebut diatas diambil dari kitab Ta’lim al Muta’lim. Huruf-huruf besar syang horisontal adalah teks asli Bahasa Arab, sedangkan huruf-huruf kecil di antara tulisan horisontal yang ditulis miring kebawah adalah terjemahannya dalam bahasa Jawa. Teks asli dalam Bahasa Arab ditulis dengan vowels (dalam bahasa Jawa disebut nganggo sandangan) atau Arab Pegon. Murid-murid harus belajar dari kitab-kitab gundul yang ditulis tanpa huruf hidup atau tanpa syakal. Ilustrasi tersebut menunjukkan bagaimana cara penerjemahan teks Arab ke dalam Bahasa Jawa. Perkataan Arab Al-Hamdu lillahiditerjemahkan utawi sekabehane puji iku keduwe Alloh, yang berarti ”Segala puji adalah kepunyaan Alloh”. Perkataan Al hamdu yang didahului oleh al dan diakhiri dengan huruf hidup U (dzamah U) dan dalam Bahasa Jawa didahului dengan kata utawi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perkataan tersebut adalah mubtda’ atau pokok kalimat. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh murid-murid, sebab kitab-kitab yang diajarkan dalam metode sorogan dan bandongan ditulis tanpa syakal, sehingga untuk dapat membacanya dengan benar dan cocok  para murid harus menguasai tatabahasa Arab.17

    Tulisan sebagai lambang tertulis dari suatu bahasa berfungsi sebagai alat untuk dibaca agar dipahami maksud yang terkandung didalamnya. Kemampuan membaca dipakai untuk memahami maksud tulisan sehingga membaca untuk menjadi paham. Pemakaian Bahasa Jawa dalam penulisan Arab Pegon sebagai sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren merupakan salah satu simbol masuk dan bercampurnya Budaya Jawa sebagai usaha untuk lebih dapat memahami isi kitab kuning yang didalamnya menggunakan Bahasa Arab. 

    Skripsi ini disusun sebagai salah satu upaya dalam pengembangan keilmuan yang mengkaji tentang permasalahan tradisi Arab pegon di pondok pesantren, dengan harapan dapat membantu mendudukkan pada proporsinya. Mengingat keterbatasan waktu dan pengetahuan, skripsi ini sengaja membatasi kajiannya pada proses penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon saja.  

    Pada kesempatan ini penulis mengambil studi kasus di Madrasah Salafiyah III, Komplek Q, Krapyak, Yogyakarta. Alasan pemilihan tempat merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan, selain karena secara geografis dekat dengan kampus Universitas Islam Negeri Yogyakarta, segala macam informasi mudah didapat, dan satu hal yang sangat penting yaitu karena Madrasah Salafiyah III ini masuk dalam lingkup salah satu pesantren tradisional yang dari awal pendiriannya hingga saat ini masih konsistenmenggunakan Arab pegon

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Tingkat Perbandingan Bahasa Indonesia,Arab,Dan Inggris (PBA-4)

    Skripsi ini  berjudul “Tingkat Perbandingan Dalam Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris Serta Implikasinya Dalam Pengajaran Bahasa Arab   (Suatu Analisis Kontrastif ).” Dari judul tersebut agar tidak terjadi asumsi serta pernafasan yang keliru mengenai obyek pembahasan yang dimaksud, di sini penulis perlu menguraikan, menjelaskan dan menegaskan judul tersebut.

    1.                   Tingkat Perbandingan

    Perbandingan berarti memberi nilai lebih terhadap sesuatu. Sehingga tingkat perbandingan dapat diartikan sebagai bentuk morfologi yang menunjukkan keadaan lebih dari sesuatu terhadap yang lain.

    2.                   Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris

    Yang dimaksudkan dengan ketiga bahasa adalah bahasa baku yang menjadi bahasa resmi negara masing-masing dan sesuai dengan tata bahasa yang sudah ditentukan.

     

    3.                   Analisis Kontrastif

    Analisis kontrastif adalah aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan antara kedua bahasa. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan atau memprediksi kesulitan-kesulitan belajar berbahasa yang akan dihadapi para siswa.[1]

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Prilaku Sifat Dan Mausuf Dalam Hubungan Sintaksis Bahasa Arab (PBA-3)


    Sebagai manusia kita tidak akan pernah berhenti saling berinteraksi dengan manusia yang lainnya karena antara manusia yang satu dengan yang lainnya sangat saling membutuhkan dan sebagian cara berinteraksi manusia dengan manusia yang lainnya adalah dengan cara komunikasi antara sesama, baik itu dengan bahasa lisan atau bahasa tulisan. Sebagai media komunikasi berbagai Bahasa mengalami kemajuan sejalan dengan perkembangan budaya-masing-masing termasuk Bahasa Arab.

    Bahkan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sudah dijadikan Bahasa Internasional dan kedua bahasa ini dijadikan sebagai mata pelajaran yang penting di Lembaga Pendidikan yang berciri khas Agama Islam. Dalam mempelajari bahasa-bahasa tersebut para siswa tidak akan luput dari kesulitan-kesulitan, karena bahasa-bahasa tersebut sangat variatif dan mempunyai aturan-aturan yang sangat banyak terutama Bahasa Arab. 

    Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki tingkat kemajuan yang sangat pesat, sehingga Bahasa Arab sangat potensial untuk dijadikan sebagai Bahasa Internasional, karena Bahasa Arab dijadikan sebagai  pelajaran yang sangat mendasar di lembaga-lembaga pendidikan terutama Lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah Depertemen Agama.

    Mempelajari Bahasa Arab, tidak akan pernah sempurna hanya dengan mempelajari Bahasa Arab itu sendiri, karena siswa akan menemukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, sehingga memperlambat siswa dalam memahami Bahasa Arab tersebut. 

    Membicarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para siswa dalam mempelajari Bahasa, terutama Bahasa Arab, maka kita akan membicarakan pelajaran-pelajaran yang sangat mendukung para siswa untuk lebih cepat memahami Bahasa Arab terutama pelajaran Nahwu, karena dengan pelajaran Nahwulah para siswa bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar, bahkan dalam sebuah syair Bahasa Arab telah di sebutkan “ﻢﻬﻓﻴﻦﻠﻪﻧﻭﺩﻢﻼﻜﻠﺍﺬﺍ” (Muhammad, ibnu Aqil) yang artinya “Perkataan tanpa Ilmu Nahwu maka perkataan tersebut sulit dipahami”. 

    Dengan demikian pelajaran Nahwu merupakan pelajaran dasar bagi para siswa untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Tapi sering kita jumpai banyak para siswa yang mengeluh dengan pelajaran Nahwu, karena siswa  sering salah dalam menggunakan atau  menerapkan kaidah atau aturan  yang ada dalam pelajaran Nahwu tersebut. Terutama mengenai sifat dan mausuf (Na’at dan Man’ut) padahal Sifat dan Mausuf merupakan hubungan sintaksis frasiologis yang tidak mencapai makna klausa yang banyak digunakan dalam berbahasa, baik bahasa lisan atau tulisan. 

    Kemudian dalam penerapan hubungan sintaksis sifat dan mausuf sering kali terjadi kesalahan di kalangan pengguna Bahasa Arab, baik di Madrasah, Pondok pesantren, dan di Perguruan Tinggi khususnya di kalangan Mahasiswa STAIN sendiri.

    Dengan adanya fenomena seperti inilah yang menarik minat pengkaji untuk mengadakan kajian dengan judul “PRILAKU SIFAT DAN MAUSUF DALAM HUBUNGAN SINTAKSIS BAHASA ARAB

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Studi Tentang Pelaksanaan Metode Sam’iyah Wa Syafawiyah Dalam Pengajaran Bahasa Arab Di Kelas Ii Mts. Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat (PBA-2)

    Bahasa Arab adalah bahasa yang dipergunakan oleh Allah untuk menurunkan Al-Qur’an. Dengan demikian, maka bahasa Arab dan Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan, sehingga bahasa Arab memiliki peran yang istimewa dari bahasa-bahasa lainnya yaitu dengan ditakdirkannya sebagai bahasa  Al-Qur’an.

    ﻥﻮﻠﻘﻌﺘ ﻢﻜﻠﻌﻠ ﺎﻴﺒﺮﻋ ﺎﻨﺍﺮﻗ ﻩﺎﻨﻠﺰﻨﺍ ﺎﻨﺍ

    Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya. (Q.S. Yusuf : 2)

    Ayat di atas memberikan sinyalemen bahwa mempelajari bahasa Arab adalah syarat untuk memahami isi Al-Qur’an dan mempelajari Al-Qur’an berarti mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian, maka peran bahasa Arab disamping sebagai alat komunikasi antara sesama manusia juga alat komunikasi antara hamba dengan kholiqnya dalam bentuk sholat, do’a dan sebagainya.

    Adanya peran bahasa Arab yang sangat penting dan istimewa dalam kehidupan umat Islam tidak berlebihan jika pengajaran perlu mendapat penekanan dan perhatian yang serius dan seksama, baik di Lembaga Formal maupun Non Formal.

     

    Dalam pengajaran bahasa Arab atau bahasa Asing lainnya yang sering menjadi sorotan dan bahan pembicaraan adalah dari segi metode, sukses atau tidaknya suatu program pengajaran khususnya bahasa sering kali dinilai dari segi metode yang digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan bahasa (Sumardi, 1974 : 7).

    Karenanya tidak mengherankan kalau di bidang pengajaran bahasa sering terjadi perubahan-perubahan dari Metode A ke Metode B, kemudian kembali lagi ke Metode A. Hal ini dapat terjadi karena di bidang pengajaran bahasa terdapat berbagai macam metode pengajaran  dan di antara metode pengajaran bahasa Arab yanga ada, tidak ada satupun yang paling baik dipakai untuk bermacam-macam tujuan pengajaran bahasa Arab, sebab semua metode itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tetapi bila guru dapat memilih dan menggunakannya dengan tepat yaitu sesuai dengan tujuan, materi, kemampuan siswa, kemampuan guru maupun keadaan waktu serta peralatan atau media pengajaran yang memadai, maka dapatlah tercapai apa yang diharapkan dalam proses belajar mengajar.

    Untuk itu seorang guru harus benar-benar dapat memilih dan menentukan metode pengajaran bahasa Arab yang tepat dan cocok diterapkan dalam proses belajar mengajar, karena bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justeru akan mempersulit bagi guru dalam pencapaian tujuan.


    Dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan tumbuh berbagai kegiatan siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru, sehingga dapat mencapai apa yang diharapkan dalam proses belajar  mengajar. Juga dapat mendorong siswa mencapai prestasi yang optimal.

    Sekali lagi diantara metode pengajaran bahasa Arab yang telah berlaku masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, semula metode terjemah dinilai paling cocok untuk kemampuan membaca secara efektif dan memahami isi, kemudian muncul Direct Method (Metode Langsung) sebagai reaksi meskipun sejak ada pada Zaman Romawi, kemudian muncul Metode Aural Oral Approach(Sam’iyah Wa Syafawiyah) yang sempat dinilai paling  efektif karena berdasarkan prinsip-prinsip linguistik yang diharapkan dapat menjawab dan mengatasi berbagai permasalahan dalam proses belajar mengajar bahasa Arab yang tujuan utamanya agar siswa memiliki keterampilan berbahasa atau kemampuan berbahasa Arab dengan baik dan benar.

    Dari dasar tidak adanya metode yang paling baik dan cocok digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Arab, maka Madrasah Tsanawiyah Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat melaksanakan Metode Sam’iyah wa Syafawiyah (Audi-Lingual Method) yang merupakan salah satu metode pengajaran bahasa Arab yang mengutamakan latihan pendengaran dan ucapan (Aural Oral), dengan mengambil aspek-aspek kelebihan dari metode tersebut. 

    Dengan pelaksanaan metode Sam’iyah wa Syafawiyah di Madrasah Tsanawiyah Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat ini dimaksudkan supaya penguasaan empat keterampilan berbahasa seimbang, keterampilan berbahasa yang dimaksud adalah: Keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.  

    Di samping itu, dalam interaksi belajar mengajar ditemukan adanya bermacam-macam keadaan yang dialami oleh siswa yang berpengaruh pada proses pembelajaran, baik masalah intern belajar maupun masalah ekstern belajar yang perlu untuk disikapi secara serius serta didiskripsikan secara detail, sehingga bisa dimunculkan solusi atau jalan keluarnya.

    Mengacu pada gambaran-gambaran di atas, maka penulis ingin mencermati dan meneliti lebih jauh tentang pelaksanaan metode pengajaran bahasa Arab khususnya metode “Sam’iyah Wa Syafawiyah”, sehingga penulis tertarik untuk mengangkat judul tentang “Studi Tentang Pelaksanaan Metode Sam’iyah wa Syafawiyah dalam Pengajaran Bahasa Arab di Kelas II MTs. Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat”.
    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Upaya Guru Dan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar Di Madrasah Ibtidaiyah Roudlotun Nasyiin Pucungsari Kecamatan Garum Kabupaten Blitar (PAI-15)

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG MASALAH

    Sejarah telah mencatat bahwa pendidikan pada umumnya adalah hasil kreatifitas masyarakat yang sampai sekarang masih perlu mendapat perhatian segenap lapisan masyarakat.

    Oleh sebab itu dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan memajukan bangsa, maka pelaksanaan dan pengembangan pendidikan adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit guna mencapai tujuan yang diharapkan.

    Kenyataan ini benar-benar disadari oleh bangsa Indonesia sehingga dalam Undang-Undang dasar Negara republik Indonesia tahun 1945 pada pasal 31 berbunyi :

    1. “1. tiap-tiap warga Negara berhak mendapat pendidikan. 
    2. Setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. 
    3. pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem Pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdakan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.“


    Perlu diingat bahwa pendidikan sekolah merupakan salah satu dari tri pusat pendidikan, untuk itu yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah bukan hanya cara mendidik saja akan tetapi berusaha agar pelaksanaan proses belajar mengajar tersebut dapat menunjang dan berhasil dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

    Dalam hal ini sebagaimana firman Alloh dalam Al Quran surat luqman ayat :13 yang berbunyi sebagai berikut.

    وَإِذْقَالَ لُقْمنُﻹبْنِه وَهُوَيَعِظُه يبُنَىَّﻻَتُشْرِكْ

    بِاﷲِ إِنَّ الشّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

    Artinya:” Dan (ingatlah) ketika lukman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Alloh. Sesungguhnya  mempersekutukan Alloh adalah benar-benar kezaliman yang besar “

    Dari ayat tersebut dapatlah diambil pelajaran bahwa pendidikan itu sangat perlu dan dibutuhkan kapan saja dan dimana saja, demikian juga dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajarnya juga perlu diupayakan secara efektif dan efisien, dengan demikian siswa akan memperoleh pengetahuan yang berkualitas hasil guna dan merupakan dukungan terhadap pemerintah dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Dari kenyataan-kenyataan diatas bahwa penulis akan mengungkapkan usaha-usaha apa yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Huda Sidodadi Kecamatan Garum Kabupaten Blitar untuk mendapatkan gambaran untuk memecahkan suatu masalah.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Pengaruh Penggunaan Metode Sinergetic Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Biologi Di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin (PBIO-7)

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah

        Sekolah merupakan wadah dalam melaksanakan pendidikan dan sekaligus bertanggung jawab untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional, Maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertanggung jawab dalam menanamkan dan memberi bekal ilmu pengetahuan, sikap kecakapan dan budi pekerti serta keterampilan yang berguna bagi siswa sebagai individu maupun lingkungan dimana individu itu berada baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang.

    Proses pembelajaran merupakan proses yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran berasal dari kata belajar yang mempunyai arti ”suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan nya”.

          

    Seorang pendidik mempunyai peranan penting yaitu sebagai tokoh utama dalam keseluruhan proses pendidikan pada umumnya dan dalam proses pembelajaran pada khususnya. Seorang pendidik dalam menciptakan suasana pembelajaran yang baik harus berpedoman kepada kurikulum yang telah ditetapkan. Diantara 5 komponen kurikulum yang telah ditetapkan tersebut yakni sebagai berikut :

    1.                  Tujuan.

    2.                  Bahan Ajar / Materi Pembelajaran.

    3.                  Metode Pembelajaran

    4.                  Media Mengajar

    5.                  Evaluasi Pembelajaran”.

    Berdasarkan 5 komponen ini,maka penulis akan memfokuskan Pembahasan tentang komponen kurikulum yang ketiga, yaitu Metode Pembelajaran.


    Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional yang memegang peran sangat penting pada sistim pembelajaran.Wina Sanjaya menyatakan ”Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam suatu kegiatan, agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal”.

    Metode memegang peranan yang sangat penting dalam rangkaian sistim pembelajaran, keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Nana sudjana berpendapat ”Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlansungnya pelajaran”.

    Metode pembelajaran merupakan teknik penyajian bahan pelajaran kepada siswa dalam kelas, baik secara individu maupun kelompok/klasikal. Metode yang dipilih harus pula memperhatikan tujuan yang ingin dicapai serta sumber-sumber belajar yang ada. Penggunaan metode yang bervariasi tidak lain agar anak didik tidak merasa bosan selama pelajaran berlansung, serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa itu sendiri.

                

    Guru memiliki peranan penting dalam Proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, dengan menggunakan Metode Pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Siswa belajar dengan aktif artinya siswa yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dalam  belajar aktif, siswa diajak untuk ikut serta dalam semua proses pembelajaran tidak hanya mental tapi juga fisik. Dengan cara ini siswa akan merasakan suasana menyenangkan  sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Salah satu contoh pembelajaran aktif adalah Metode Sinergetic Teaching. Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat mempermudah siswa untuk memahami pelajaran, meningkatkan ransangan belajar, serta menimbulkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

    Penelitian awal yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin membuktikan bahwa, ada beberapa mata pelajaran yang sewaktu proses pembelajaran belum menggunakan metode pembelajaran aktif. Siswa hanya diajak untuk mendengarkan guru dalam menyampaikan materi sampai waktu habis. Hal ini menyebabkan siswa kurang fokus mengikuti proses pembelajaran.

    Proses pembelajaran seperti ini juga terjadi pada mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin. Siswa tidak begitu antusias mengikuti pembelajaran disebabkan guru tidak menggunakan metode yang bervariasi. Siswa tidak terlihat aktif dalam proses pembelajaran,mereka hanya menerima saja yang disampaikan guru dan hanya sedikit sekali siswa yang mau bertanya ataupun ingin menjawab pertanyaan.

    Berdasarkan  informasi yang ditemukan dilapangan tersebut, maka tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Akan tetapi, perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindak Lanjuti ketimpangan yang ada. Salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan metode Sinergetic Teaching pada proses pembelajaran khususnya pada pelajaran biologi.

    Metode Sinergetic Teaching merupakan sebuah metode pembelajaran yang menggabungkan dua jenis cara atau teknik belajar yang berbeda dengan membandingkan hasil dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan tersebut. Dalam hal ini peneliti akan menggabungkan dua strategi atau metode yang berbeda pada pelaksanaan proses pembelajaran. Strategi atau metode yang akan peneliti gunakan yaitu metode kelompok belajar (study group) dan metode Latihan (drill). Dengan menggunakan metode Sinergetic Teaching diharapkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar sehingga siswa akan mendapatkan hasil yang lebih baik.Oleh karena itu penulis tertarik untuk menggabungkan kedua metode tersebut kedalam Metode Sinergetic Teaching.

          

    Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin dengan judul: “PENGARUH PENGGUNAAN METODE SINERGETIC TEACHINGTERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 9 MERANGIN.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    WordPress Themes