Category: Akuntansi

ANALISIS LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA (Studi Perbandingan Pada Perusahaan Kosmetik Yang Listing Di BEI) (AK-52)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Perekonomian Indonesia pada saat ini sedang melaju pada era globalisasi yang memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan untuk mengembangkan usahanya. Dilain pihak dengan adanya perdagangan bebas pada era glonbalisasi ini menimbulkan persaingan yang ketat, dan perusahaan harus dapat mengantisipasi dan mengahdapi segala situasi dan kondisi agar dapat bertahan dan mampu terus maju dalam rangka memenangi persaingan usaha. Dalam mecapai tujuan yaitu memaksimalkan nilai perusahaan untuk memakmurkan para pemegang saham dan para karyawannya, para manajer perusahaan harus mampu mengantisipasi segala perubahan situasi maupun kondisi baik yang ada di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan yang dapat mempengaruhi jalannya perusahaan.
Perekonomian yang semakin kompleks dan tidak menentu dengan persaingan antar perusahaan yang semakin ketat membuat bidang keuangan harus mendapat perhatian yang lebih. Dalam bidang keuangan suatu media penting dibutuhkan dalam proses pengambilan keputusan ekonomis. Media tersebut adalah berupa laporan keuangan yang diterbitkan secara periodik biasa tahunan, semesteran, triwulan, bulanan, mingguan atau bahkan harian. Laporan keuangan tersebut sudah menjadi kebutuhan para pengusaha, investor, bank, manajemen, pemerintah maupun para pelaku pasar modal.
Prinsipnya laporan keuangan merupakan informasi yang dapat membantu investor dan para pelaku pasar modal dalam menginterprestasikan keadaan suatu perusahaan. Namun hanya dengan melihat laporan keuangan, informasi yang lebih dalam tentang kinerja tidak dapat diketahui. Oleh karena itu dibutuhkan suatu perhitungan lebih lanjut atau analisis yang tepat terhadap laporan keuangan tersebut. Pembaca perlu mengetahui apa arti angka yang ada dalam laporan keuangan yang ada dan bagaimana menganalisis dan menafsirkan data dalam cara yang logis dan sistematis. Dengan timbulnya persaingan yang semakin ketat, pihak manajemen perusahaan dituntut untuk dapat menganalisis keuangan perusahaan sehari-hari sehingga tujuan perusahaan tersebut dapat terealisasi. 

 

Manajer peusahaan tidak akan terlepas dari masalah permodalan, yaitu pemenuhan modal kerja maupun investasi. Sumber dan penggunaan modal kerja merupakan analisa yang bisa dijadikan acuan dalam mengambil keputusan yang tepat yaitu dengan analisa sumber dan penggunaan modal kerja pimpinan bisa mengetahui komposisi-komposisi modal kerja bersumber dari mana dan digunakan untuk apa, sehingga pimpinan bisa menggambarkan keadaan modal kerja itu sendiri. Modal kerja merupakan dana yang harus tersedia dalam perusahaan yang dapat digunakan untuk membelanjai kegiatan operasinya sehari-hari, misalnya untuk memberikan persekot pembelian bahan mentah, membayar upah buruh, gaji pegawai dan sebagainya, dimana uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu yang pendek melalui hasil penjualan produknya. 
Laporan sumber dan penggunaan modal kerja ini akan membantu manajer keuangan dalam melaksanakan kegiatan perusahaannya dalam hal menentukan jumlah dana yang harus tersedia dan untuk dapat melihat asal sumber dana itu diperoleh. Selain itu, laporan tersebut dapat juga membantu manajer keuangan dalam merencanakan berapa penggunaan dana dengan sebaik-baiknya untuk dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perusahaan sebab apabila perusahaan kekurangan dana tentu akan sulit berkembang. Kekurangan modal kerja terus-menerus yang tidak segera diatasi tentu akan menghambat perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Modal kerja merupakan hal yang penting dalam perusahaan hingga bisa dikatakan sebagai nyawa dari sebuah perusahaan artinya untuk menjalankan kegiatan operasinya sehari-hari ataupun untuk mengadakan investasi diperlukan modal kerja yang cukup. Untuk memperoleh modal kerja, pihak perusahaan harus memperhatikan setiap potensi keuangan yang ada dan bisa digunakan dengan memperhatikan segala kemungkinan risiko yang ditimbulkan.
Modal kerja yang terlalu besar memungkinkan terjadinya Idlefund (dana yang menganggur). Hal ini akan mengakibatkan terjadinya inefisien, demikian sebaliknya modal kerja yang terlalu kecil akan mengakibatkan terganggunya operasi perusahaan sehari-hari. Dengan demikian besarnya modal kerja hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan karenanya akan efisiensi dalam menggunakan modal kerja dan elemen modal kerja.
Saat ini perusahaan kosmetik yang mencatatkan sahamnya pada Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak tiga perusahaan yaitu PT. Mandom Indonesia Tbk,  PT. Mustika Ratu Tbk dan PT. Unilever Indonesia Tbk.. Neraca perusahaan kosmetik yang listing di BEI tersebut secara ringkas dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1. Neraca Perbandingan Perusahaan Kosmetik yang Listing di    BEI periode 2005-2008 (Dalam Jutaan Rupiah)
No
Nama Perusahaan
Periode
2005
2006
2007
2008
1.
PT. Mandom Indonesia Tbk.
Current Assets
Non-Current
291.252
254.443
354.586
317.611
396.330
328.867
497.212
413.578
        Total Assets
545.695
672.196
725.197
910.790
Current Liabilities
Non-Current Liabilities
65.848
20.453
40.382
24.166
22.507
29.050
61.401
33.223
         Total Liabilities
         Total Equity
  86.301
459.394
  64.548
607.648
51.557
673.640
94.624
816.166
2.
PT. Mustika Ratu Tbk.
Current Assets
Non-Current
210.011
  80.635
214.753
  77.015
235.829
  80.168
274.499
  80.282
        Total Assets
290.646
291.769
315.997
354.781
Current Liabilities
Non-Current Liabilities
29.896
  5.114
23.229
  4.215
30.706
  5.720
43.498
  7.648
         Total Liabilities
         Total Equity
35.010
255.636
27.444
264.325
36.426
279.571
51.146
303.635
3.
PT.Unilever Indonesia Tbk.
Current Assets
Non-Current
2.030.362
1.811.989
2.604.552
2.021.488
2.694.667
2.638.739
3.103.295
3.401.441
        Total Assets
3.842.351
4.626.000
5.333.406
6.504.736
Current Liabilities
Non-Current Liabilities
1.501.485
   156.906
2.057.451
  191.930
2.428.128
   211.159
3.091.111
   306.804
         Total Liabilities
         Total Equity
1.658.391
2.183.960
2.249.381
2.376.619
2.639.287
2.694.119
3.393.915
3.106.821
Sumber: www.idx.co.id (diolah)
Berdasarkan tabel 1.1. terlihat bahwa baik PT. Mandom Indonesia Tbk, PT. Mustika Ratu Tbk maupun PT.Unilever Indonesia Tbk mempunyai posisi keuangan yang baik dimana total assets lebih besar dari total liabilities dan selalu mengalami peningkatan assets setiap tahunnya. Terlihat  PT. Mandom Indonesia Tbk mengalami fluktuasi peningktan jumlah total aset dari tahun ke tahun. PT. Mustika Ratu Tbk pada tahun 2006 mengalami peningkatan aset yang cukup kecil, namun pada tahun 2007 dan 2008 peningkatan total assetnya cukup baik. Sedangkan PT. Unilever Indonesia Tbk menmgalami fluktuasi kenaikan total asset yang cukup satabil, yakni di tahun 2006 sebesar 16,94 %, pada tahun 2007 sebesar 13,26 % dan tahun 2008 sebesar 18 %.
Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul: “Analisis Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja (Studi Perbandingan pada perusahaan Kosmetik yang Listing di BEI)”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Evaluasi Biaya Pembelian Bahan Baku Untuk Efisiensi Biaya Produksi Pada Perusahaan Tahu “ADMA” Di Kecamatan Karangploso Malang (AK-51)

Bab 1
Pendahuluan 
A.     Latar Belakang.
Perusahaan untuk dapat berkembang haruslah melalui perjuangan dan didukung dengan perencanaan yang matang dalam menghadapi berbagai masalah dan rintangan yang timbul, seperti masalah operasional, keuangan, maupun masalah pemasaran dari produk yang  diproduksi. Masalah persaingan antar perusahaan mengharuskan perusahaan harus terus menerus melakukan perbaikan dalam mutu barang dan layanan serta efisiensi dalam menekan biaya produksi. Pada perusahaan manufaktur, penghasilan yang diperoleh dari hasil penjualan produk yang diolah sendiri dalam hal ini perusahaan manufaktur harus mengolah terlebih dahulu bahan baku melalui proses produksi menjadi barang yang siap dijual, oleh karena itu untuk memperoleh laba yang maksimal perusahaan manufaktur harus benar-benar memperhatikan biaya produksi, sehingga harga pokok produksi dapat ditentukan dengan tepat. Haryono (1999:403)
Berkaitan dengan kegiatan proses produksi, perusahaan harus mempunyai kemampuan untuk dapat mendaya gunakan segenap sumber-sumber yang dimiliki oleh perusahaan sebanding dengan bahan-bahan dan jasa-jasa yang diolah menjadi produk. Bahan-bahan yang diperlukan oleh perusahaan sangat menentukan atau mempengaruhi tingkat kualitas dan kuantitas produk dan harga jual produk karena bila harga bahan yang diperoleh terlalu tinggi dengan kualitas dan kuantitas yang kurang memuaskan tentunya akan mempengaruhi tingkat biaya produksi dan harga jual produk sehingga perusahaan akan mengalami kerugian, sebaliknya bila harga pembelian bahan rendah atau murah sesuai dengan harga yang berlaku dipasaran dengan kuantitas dan kualitas yang baik serta waktu penyerahan yang tepat, maka perusahaan dapat menekan tingkat biaya produksi dan harga jual produk mampu bersaing dengan perusahaan sejenis lainnya sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai.
Sebelum melakukan kegiatan produksi perusahaan terlebih dahulu menyiapkan faktor-faktor produksinya diantaranya adalah bahan baku yang akan diolah menjadi produk jadi. Didalam pengadaan bahan baku perusahaan dapat membuat sendiri atau membeli bahan baku tersebut dari pemasok. Pembelian bahan baku ini merupakan salah satu fungsi dari manajemen persediaan karena berkaitan dengan pengadaan barang, baik berupa bahan baku, bahan setengah jadi maupun bahan jadi. Menurut Fien (2005) peran manajemen pembelian ditunjang oleh besarnya biaya pembelian yang mencapai 50% sampai 70% dari total biaya produksi dan berdampak langsung pada kualitas produk. Tahap pembelian ini dimulai dari pengadaan, penyimpanan, sampai penyerahan barang untuk kegiatan proses produksi. 

Purchasing (pembelian) merupakan salah satu fungsi penting dalam menunjang keberhasilan produksi perusahaan, karena fungsi ini mempunyai tanggung jawab untuk mendapatkan  bahan baku dengan kuantitas dan kualitas yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, harga yang layak, penyerahan tepat waktu yang sesuai dengan ketentuan. Sebelum melakukan pembelian diperlukan adanya suatu strategi pembelian yang tepat bagi perusahaan untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas bahan pada harga yang pantas. Strategi pembelian yang digunakan oleh setiap perusahaan berbeda tergantung pada situasi yang dihadapi dan perkembangan usaha perusahaan. system penyediaan bahan dengan strategi pembelian yang tepat dapat menjamin kelancaran kegiatan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu perlu pertimbangan yang cermat dan tepat agar setiap rencana yang hendak dilaksanakan dapat terealisasikan seperti apa yang diharapkan dan kemungkinan faktor-faktor yang merupakan kelemahan atau penghambat dapat diantisipasi sedini mungkin. Penggunaan straregi yang tepat juga akan dapat menunjang tercapainya tingkat efisiensi biaya produksi sehingga keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan  dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Biaya pembelian material pada perusahaan supplier mencakup sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan supplier untuk melaksanakan proses produksinya. Sebelum harga beli ditetapkan departemen pembelian harus menghitung perkiraan harga material dan menetapkan harga standar sebagai harga patokan, dengan demikian harga beli yang akan ditetapkan akan menjadi harga yang wajar. Pembelian material dengan harga terlalu mahal mengakibatkan peningkatan biaya produksi yang kemudian dapat mengurangi keuntungan perusahaan. Sebaliknya pembelian material dengan harga yang terlalu murah meskipun dapat menguntungkan perusahaan akan tetapi dapat menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang yaitu perusahaan kesulitan dalam menetapkan standar pembelian dan penjualannya jika harga pembelian tiba-tiba menjadi naik.
Hasil produksi perusahaan dipengaruhi oleh pengadaan bahan baku, tenaga kerja serta biaya overhead pabrik. Pengadaan bahan baku adalah variabel yang memegang peran  penting bagi kelangsungan hidup perusahaan, dengan adanya bahan baku yang teredia memudahkan perusahaan untuk menjalankan operasinya. Variabel lain adalah tenaga kerja yaitu terdiri dari karyawan-karyawan yang melakukan proses produksi. Disamping itu biaya overhead juga merupakan faktor penting karena pada saat produksi berlangsung terdapat biaya tambahan selain biaya diatas.
Pada usaha tahu ADMA yang merupakan usaha industri rumah tangga, dibutuhkan perencanaan produksi yang baik jika usaha ini ingin berkembang. Pada kegiatan produksi perusahaan, efisiensi biaya sangat diperlukan guna  meminimalisasi modal dan peningkatan laba . Untuk menyesuaikan antara biaya pembelian dengan penjualan maka diperlukan perhitungan harga pokok produksinya, sebagai analisa biaya dan pendapatan untuk melihat efisiensi usaha tersebut. 
Dari uraian diatas perusahaan yang ingin menurunkan biaya produksinya salah satunya adalah dengan meminimalisasi biaya pembelian material. Pada  perusahaan manufaktur sangatlah diperlukan mengingat kondisi perekonomian saat ini sedang labil, perusahaan perlu menetapkan standar produksi dan penjualannya dengan menekan biaya pembeliannya. Dengan demikian penulis mengambil judul penulisannya Evaluasi Pembelian Material untuk Mencapai Efisiensi  Biaya Produksi Pada Perusahaan Tahu ADMA
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Kelayakan Atas Penggantian Aktiva Mesin Produksi Untuk Meningkatkan Laba Pada PT. Panca Wira Usaha Unit Pabrik Es Kasri Di Pandaan (AK-50)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Setiap perusahaan yang didirikan oleh seseorang atau sekelompok orang pada hakekatnya mempunyai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Tujuan utama dari perusahan adalah menghasilkan laba, karena itu manajemen perusahaan harus mampu menentukan tindakan yang harus dilakukan perusahaan baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Segala keputusan yang diambil oleh manajemen ditujukan untuk meningkatkan laba atau sekurang-kurangnya mempertahankan laba. 
            Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan banyak menghadapi masalah. Masalah yang dihadapi tidak hanya menjaga kelangsungan hidup perusahaan, memenuhi permintaan pasar tetapi juga memperhatikan faktor lain yang mempengaruhi meningkatnya penerimaan laba perusahaan. Faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut adalah produktif atau tidaknya mesin yang terpasang di perusahaan .
            Penggantian aktiva mesin produksi merupakan investasi jangka panjang dan memerlukan biaya modal yang cukup besar dalam pelaksanaannya, maka diperlukan perhitungan yang seksama sehingga tidak menimbulkan kerugian dalam pengambilan keputusan. Dalam melakukan perluasan usaha, perusahaan memerlukan alat untuk menganalisis, yaitu dengan menggunakan studi kelayakan. Studi kelayakan merupakan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pelaksanaan proyek dan merupakan dasar pertimbangan untuk memutuskan apakah investasi dalam proyek tertentu dapat dilaksanakan atau tidak. 

 
Seperti halnya pada PT. Panca Wira Usaha Unit Pabrik Es Kasri Pandaan yang bergerak dibidang industri, akhir-akhir ini mulai merasakan adanya kendala yang bisa menghambat perkembangan perusahaan, yaitu mesin yang digunakan dalam proses produksi sering mangalami kerusakan. Keadaan tersebut mengakibatkan meningkatnya biaya pemeliharaan mesin dan produksi perusahaan mengalami  penurunan sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Hai ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini 
Tabel 1
Perbandingan Permintaan Pasar, Realisasi Produksi,
dan Biaya Pemeliharaan Mesin
Tahun
Permintaan Pasar
Es Batu (Balok)
Realisasi Produksi
Es Batu (Balok)
Biaya Pemeliharaan (Rp)
2001
281.500
278.850
22.260.150
2002
298.205
289.658
39.028.021
2003
325.261
301.261
43.004.000
2004
310.174
287.156
64.823.562
2005
323.831
296.550
80.091.165,5
Sumber Data: PT. Panca Wira Usaha Unit Pabrik Es Kasri Pandaan
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa kedudukan produk di pasar sangat kuat, dimana permintaan pasar terus meningkat tiap tahunnya, sedangkan perusahaan tidak dapat memenuhi secara keseluruhan karena mesin yang digunakan dalam proses produksi sering mengalami kerusakan, sehingga membutuhkan biaya pemeliharaan mesin yang besar. Pada tahun 2005 perusahaan telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pemeliharaan mesin yaitu sebesar Rp 80.091.165,5 tetapi mesin yang digunakan hanya mampu memproduksi sebesar 296.550 balok. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2005 mesin produksi mengalami kerusakan yang cukup parah.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka untuk menghadapi dan mengendalikannya perusahaan memerlukan kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Salah satu cara yang digunakan yaitu adanya penggantian mesin lama yang tidak efisien lagi dengan mesin baru yang lebih besar dan lebih efisien. Penggantian mesin tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan khususnya yang berkaitan dengan proses produksi, menghemat biaya pemeliharaan, dan dengan penggantian mesin itu pula dapat memanfaatkan peluang pasar yang dapat dimasuki, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. 
            Berdasarkan uraian diatas dan pentingnya keputusan yang harus diambil oleh perusahaan, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Kelayakan Atas Penggantian Aktiva Mesin Produksi untuk Meningkatkan Laba Pada PT. Panca Wira Usaha Unit Pabrik Es Kasri di Pandaan”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Murabahah : Dasar Dan Metode Pengukuran Biaya Dan Laba Operasi (Studi Kasus Di Bank Muamalat Indonesia) (AK-49)

BAB I 
PENDAHULUAN 

1.1.  Latar Belakang Masalah 

Dalam dunia modern dewasa ini, kehidupan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keberadaan serta peran serta penting sektor jasa keuangan pada umumnya dan perbankan pada khususnya. Lembaga perbankan merupakan unsur pokok dari sistem pembayaran. Melalui sektor jasa keuangan inilah, dana atau potensi investasi yang ada pada masyarakat disalurkan ke dalam kegiatan-kegiatan produktif, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terwujud.

Bank Islam sebagai salah satu lembaga perbankan yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip  dan nilai-nilai syariah memiliki tiga azas yang melandasi praktek cara kerjanya, yaitu : azas moral kemanusiaan, azas tanpa bunga, azas profit and loss sharing. Konsep perbankan Islam dengan ketiga azas tersebut adalah bagian integral dari keseluruhan value system dalam Islam, sehingga karenanya memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, keadilan sosial dan stabilitas nasional yang merupakan syarat mutlak berseminya komitmen perbankan yang mendukung program-program restrukturisasi bidang ekonomi.
Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia sebagai suatu badan yang memiliki wewenang untuk mengatur perkreditan nasional telah mengeluarkan UU No. 10 Tahun 1998 yang merupakan perubahan dari UU No.7 tahun 1992 tentang Perbankan. UU tersebut memberikan pengakuan yang lebih tegas mengenai keberadaan dan perlunya bank-bank berdasarkan prinsip syariah, serta memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan bank-bank tersebut. UU tersebut antara lain mengatur mengenai dimungkinkannya bank-bank konvensional mendirikan cabang-cabang yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Dasar hukum yang lebih jelas ini serta peluang yang diciptakannya akan cenderung mendorong tumbuhnya bank Islam atau cabang syariat dari bank-bank konvensional pada masa mendatang. Semakin terbukanya peluang bagi pengembangan bank Islam di Indonesia harus didukung oleh penerapan metode  dan praktek akuntansi yang lebih mantap  dalam kegiatan operasional bank Islam.

Salah satu metode investasi yang terpenting dalam bank Islam adalah murabahah (penjualan kembali dengan laba) karena merupakan investasi jangka pendek dengan resiko yang sangat kecil dan paling menguntungkan (Al-Khadas, 1999, 2)  serta berhasil menguasai 98% dari total investasi (Omar, 1987, 224).
Bank-bank Islam melalui pembiayaan murabahah mulai mempertimbangkan eksistensi dirinya sebagai pihak perantara antara klien atau nasabah yang membutuhkan barang dan para supplier di luar bank yang memiliki ataupun menghasilkan produk tersebut. Untuk selanjutnya, bank Islam akan membeli produk barang secara tunai dan menjualnya kembali kepada klien atau nasabah yang membutuhkannya dengan dasar beban yang ditangguhkan.
Pembiayaan murabahah membutuhkan kerangka akuntansi yang menyeluruh yang dapat menghasilkan pengukuran akuntansi yang tepat dan sesuai, dapat mengkomunikasikan informasi akuntansi secara tepat waktu dengan kualitas yang dapat diandalkan serta mengurangi adanya perbedaan perlakuan akuntansi antara bank Islam yang satu dengan yang lain. Karena hal tersebut akan berdampak dalam hal keadilan untuk menentukan laba bagi pemegang saham (stakeholder) dan depositor (deposan).
Dalam hal perlakuan akuntansi untuk pembiayaan murabahah, bank-bank Islam menerapkan metode akuntansi yang berbeda (Al-Nagi, 1985;  Shahata, 1986 ).  Salah satu masalah penting  yang dihadapi oleh bank Islam untuk pembiayaan murabahah adalah pembagian laba bagi depositor (Abdel Majeed, 1994, 3). Dari hasil perbandingan laporan keuangan beberapa bank Islam, terdapat perbedaan diantara bank-bank Islam tersebut mengenai pengukuran biaya-biaya lain terkait  (subsequent costs) yang seharusnya dan  tidak seharusnya dibebankan  dalam biaya awal operasi pembiayaan murabahah (Al- Khadas, 1999, 7). Perbedaan tersebut selanjutnya akan menimbulkan adanya kesulitan dalam hal perbandingan realisasi laba oleh bank Islam yang satu dengan bank Islam yang lain (FAO-IBFI, 1998, 146).
Di samping itu, beberapa bank Islam mengakui  bahwa pendapatan dalam pembiayaan murabahah menggunakan dasar akrual  (accrual basis) yaitu pendapatan diakui pada saat nasabah atau klien telah melunasi seluruh pinjaman atau melunasi semua cicilannya. Sedangkan pada bank Islam yang lain mengakui pendapatan dari murabahah dengan  menggunakan dasar kas (cash basis) yaitu pendapatan diakui pada saat bank menerima kas dari nasabah atau klien ketika mengangsur ataupun mencicil pinjamannya (FAO-IBFI, 1998, 146).
Situasi tersebut diatas memperlihatkan bahwa bank-bank Islam ternyata  belum sepenuhnya  memakai satu standar yang baku sebagai acuan dalam operasionalnya dan selanjutnya akan mengurangi kegunaan informasi keuangan yang dihasilkan oleh bank Islam bagi para pemakai laporan keuangan. Oleh karenanya kebutuhan dalam menetapkan dasar dan  metode pengukuran akuntansi, khususnya untuk pembiayaan murabahah menjadi sangat penting dan harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan syariah yang telah diatur dalam “Financial Accounting Standards For Islamic  Bank and Financial Institutions”  (FAS – IBFI) agar para pemegang saham dan depositor mendapatkan bagian laba yang sesuai dengan haknya.
Untuk itu penulis mencoba menganalisa bagaimana praktek akuntansi untuk pembiayaan murabahah khususnya tentang metode pengukuran biaya, pendapatan dan laba operasi dalam Bank Muamalat Indonesia sebagai salah satu bank Islam terbesar di Indonesia yang menjalankan kegiatan operasi berdasarkan prinsip keadilan dan ketentuan syariah.
Berdasarkan uraian di atas, maka Skripsi ini diberi judul :  
PERLAKUAN AKUNTANSI  PEMBIAYAAN MURABAHAH :   DASAR DAN METODE PENGUKURAN BIAYA DAN LABA OPERASI    (STUDI KASUS DI BANK MUAMALAT INDONESIA)
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Penilaian harga wajar saham pt astra international tbk. Periode 2010 (AK-48)

BAB I 
PENDAHULUAN 
I.1  Latar Belakang Penelitian

Awal tahun biasany a merup akan titik awal bagi seseoran g untuk melakukan investasi. Dana y ang sudah dinv estasikan dalam b entuk p ortofolio akan diteruskan atau  melakukan  p erubahan  komp onen  investasi.  Pada  umumny a  oran g  akan memp ertimban gkan  beber apa  saham  untuk  menanamk an  investasiny a  ataup un men gubah komp onen investasi dalam p ortofolio-ny a. 
Salah satu sumber informasi bagi p ara investor y ang mudah dip eroleh dan menggamb arkan k inerja p erusahaan adalah lap oran keu an gan. B aik atau burukny a kinerja perusahaan  dap at  dicermink an  melalui har ga sahamny a di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor  y ang akan  men ginvestasikan  d ana-ny a ke sah am tertentu,  tidak hanya melihat  kiner ja p erusahaan  di  masa  lalu,  tetap i juga p erlu  men gan alis a kinerjperusahaan  d i  masa  y an g  ak an  d atang.  Oleh  karena  itu,  dip erlukan men ganalisa p enilaian  harga wajar  sah am di  masa y ang ak an  d atang  den gan men ghitung b iay a modal r ata-rata tertimbang ( WACC) dan p roy eksi arus kas.
Penelitian in i dilakukan untuk men ganalisis kinerja keuan gan dan lap oran arus kas y ang d igunakan untuk men gestimasi h ar ga wajar sah am d i masa dep an, sehingga investor dap at memp ertimbangkan d i saham mana ia ak an berinv estasi.
Dalam p enelitian in i, dip ilih PT Astra Internatonal Tbk. karena p erusahaan merup akan p erusahaan Indonesia y ang p aling dikagu mi oleh p embaca, memilik ihubungan y an g baik den gan investor, terbaik dalam corporate governance. Seirin g p erjalanan  waktu,  p erusahaan memakai strateg ic  alliances  d en gan  p erusahaan glob al lainny a. Perusahaan ini ju ga memiliki en am lin i bisnis dan sahamny a tetap terdaftar  dalam  LQ-45  selama  p eriode  2005   2009,  sehingga  investor  lebih tertarik untuk membeli saham ini. 
Hal-hal di atas membu at p enulis tertarik untuk menulis penelitian den gan judul Penilaian Harga Wajar S aham PT Astra International Tbk. Periode 2010”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Reaksi Pasar Modal Terhadap Peristiwa Stock Split Yang Ditunjukkan Oleh Abnormal Return Dan Trading Volume Activity (AK-47)

BAB I 
PENDAHULUAN 
A.                 Latar Belakang Masalah
Dunia bisnis sekarang, terutama perdagangan saham yang terdapat di pasar modal, banyak sekali aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para investor untuk memperoleh keuntungan (return). Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan di pasar modal, diantaranya adalah informasi yang masuk ke dalam pasar modal tersebut (Puspitaningsih, 2006).
Informasi memegang peranan penting terhadap transaksi perdagangan di pasar modal. Para pelaku di pasar modal sangat membutuhkan setiap informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga surat berharga di pasar modal. Informasi berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor untuk memilih portofolio investasi yang efisien.
Suatu informasi memiliki makna bila informasi tersebut menyebabkan investor melakukan transaksi di pasar modal yang akan tercermin dalam indikator atau karakteristik pasar modal, seperti volume perdagangan dan harga saham. Di pasar modal banyak sekali informasi yang dapat dimanfaatkan, salah satu informasi yang tersedia yaitu pengumuman stock split atau pemecahan saham. Stock split adalah memecah selembar saham menjadi n lembar saham, harga perlembar saham baru setelah stock split adalah 1/n dari harga sebelumnya (Jogiyanto 2003).
Tingginya harga saham akan mengurangi likuiditas saham karena investor kurang mampu membeli saham tersebut. Salah satu cara yang dilakukan emiten untuk mempertahankan agar sahamnya tetap berada dalam rentang perdagangan yang liquid sehingga daya beli investor meningkat terutama untuk investor kecil adalah melakukan stock split. Peristiwa stock split merupakan satu kejadian ekonomi. Dampak dari stock split adalah menigkatnya nilai likuiditas saham karena jumlah lembar sahamnya memiliki harga yang rendah, sehingga akan meningkatkan permintaan akan saham tersebut (Suntoro dan Subekti 2003).
Menurut Kurniawati (2003) apabila harga suatu saham terlalu tinggi, maka kemungkinan saham tersebut dapat dibeli oleh masyarakat semakin kecil. Manajemen perusahaan yakin bahwa apabila kepemilikan saham semakin luas, maka hubungan dengan masyarakat lebih baik, sehingga adanya stock split dapat mengurangi nilai pasar saham dan memiliki kemampuan menarik mayoritas investor potensi.
Menurut Suntoro dan Subekti (2003) tingginya harga saham akan mengurangi likuiditas saham karena investor kurang mampu membeli saham tersebut. Salah satu cara yang dilakukan emiten untuk mempertahankan agar sahamnya tetap berada dalam rentang perdagangan yang likuid sehingga daya beli investor meningkat terutama untuk investor kecil adalah melakukan stock split. Peristiwa stock split merupakan satu kejadian ekonomi yang popular dipelajari dalam transaksi saham di pasar modal. Dampak dari stock split adalah akan meningkatkan likuiditas saham karena jumlah lembar sahamnya memiliki harga yang rendah, sehingga akan meningkatkan permintaan akan saham tersebut.
Menurut Scott, Martin, Petty dan Keown (1999) dalam Harsono (2004) ada beberapa alasan mengapa manajer perusahaan melakukan stock split antara lain 1) agar saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham, 2) untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan, 3) untuk membawa informasi mengenai kesempatan berinvestasi yang berupa penignkatan laba dan dividen kas.
Tindakan stock split mengakibatkan jumlah saham yang beredar bertambah sehingga para investor yang berhubungan dengan aktivitas tersebut dapat melakaukan penyusunan kembali portofolio, investasinya. Penyusunan kembali portofolio tidak terlepas dari pertimbangan risiko saham yang membentuk portofolio sehingga diharapkan akan memeperoleh tingkat risiko yang lebih kecil. Investor rasional akan memilih investasi yang mempunyai risiko yang terkecil bila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat return yang sama. Oleh karena itu, tindakan stock split yang dilakukan oleh emiten perlu dipertimbangkan oleh investor dan calon investor dalam mengambil putusan untuk membeli atau melepas saham yang dimiliki berdasarkan analisis mereka mengenai informasi apa yang terkandung di dalam stock split (Harsono, 2004).
Ada dua teori utama yang mendominasi litelatur pemecahan saham adalah signalling theory dan trading range theory. Signalling theory menyatakan bahwa pemecahan saham akan memberikan informasi kepada investor tentang prospek peningkatan return masa depan yang substansial, sedangkan trading range theory menyatakan bahwa manajemen melakukan stock split didorong oleh prilaku praktisi pasar yang konsisten dengan anggapan bahwa dengan melakukan stock split dapat menjaga harga saham tidak terlalu mahal.
Saham bisa dikatakan liquid jika saham itu mudah diperjualbelikan, mudah dicairkan sehingga banyak peminatnya, dan likuiditas saham itu bisa diukur dengan frekuensi reaksi perdagangan saham di pasar modal (Adikusuma, 1997). Likuiditas saham bisa diartikan mudahnya saham diperjualbelikan. Semakin likuid saham suatu perusahaan, maka perusahaan akan lebih mudah mendapatkan dana, karena investor tertarik untuk membeli saham perusahaan. Likuiditas saham suatu perusahaan ditunjukkan oleh Trading Volume Activity.
Aktivitas stock split umumnya dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi kemampuan investor untuk membelinya, stock split hanya upaya untuk menarik investor untuk membeli saham yang dipecah tersebut karena harga setelah dipecah menjadi lebih terjangkau. Keputusan stock split merupakan kesempatan para pemegang saham yang dicapai dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Emiten harus menyampaikan kepada BAPEPAM dan diumumkan segera kepada masyarakat karena stock split dapat mempengaruhi nilai efek atau keputusan investasi oleh investor (Suntoro dan Subekti 2003).
Menurut teori keuangan tradisional, stock split hanyalah salah satu bentuk corporate action yang sifatnya kosmetik dan administratif. Berbeda dengan corporate action lainnya, tindakan tersebut tidak terkait sama sekali dengan kinerja dan cash flow, sehingga praktis tidak akan merubah kekayaan perusahaan. Ketika melakukan stock split, perusahaan sama saja dengan menerbitkan saham baru dan membagi-bagikannya kepada pemegang saham lama secara proporsional. Sederhananya, kertas yang ada di tangan si pemegang saham hanya akan bertambah banyak, tetapi nilai keseluruhannya tetap sama (Nuryadin, 2004).
Meskipun secara teoritis pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis, tetapi banyaknya peristiwa pemecahan saham di pasar modal memberikan indikasi bahwa pemecahan saham merupakan alat yang penting dalam praktik pasar modal. Pemecahan saham telah menjadi salah satu alat yang digunakan oleh manajemen untuk membentuk harga pasar saham perusahaan, maka dari itu, tidaklah mengherankan kalau banyak teori dan riset empiris yang dikembangkan untuk membahas tentang praktek pemecahan saham ke pasar modal (Marwata, 2002).
Penelitian yang dilakukan Hendiyanto (2006) membahas reaksi pasar modal pada saat terjadi stock split pada tahun 2002 sampai 2004 dengan menggunakan variabel average abnormal return dan cummulative average abnormal return, menunjukkan bahwa informasi stock split merupakan salah satu alat yang digunakan para investor dalam memilih portofolio investasi.
Puspitaningsih (2006) melakukan penelitian terhadap reaksi pasar dengan tentang menggunakan uji one sample t test menunjukkan bahwa terdapat reaksi pasar yang signifikan atas peristiwa stock split terhadap abnormal return saham dan Trading Volume Activity (TVA) perusahaan. Hasil analisis dengan menggunakan paired sample t test gagal membuktikan terdapat perbedaan besarnya abnormal return saham perusahaan periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split. Namun dalam penelitian tersebut mampu membuktikan terdapat perbedaan besarnya TVA perusahaan periode sebelum dan sesudah peristiwa stock split.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada perioda penelitian. Penelitian terdahulu menggunakan perioda jendela selama 11 hari (5 hari sebelum dan 5 hari sesudah tanggal pengumuman), sedangkan penelitian ini menggunakan perioda jendela selama 21 hari (10 hari sebelum pengumuman, 1 hari peristiwa, dan 10 hari setelah pengumuman) dengan menambah perioda jendela yang lebih panjang, maka informasi yang disampaikan  oleh split akan  mudah diserap oleh pasar (Indriastuti, 1998).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Rasio Pembayaran Deviden Pada Perusahaan Manufaktur Yang Membagikan Deviden Dan Terdaftar Di Bej Tahun 2003-2005 (AK-46)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Kebijakan bidang keuangan yang dijalankan perusahaan harus selaras dan serasi dengan tujuan maksimalisasi keuntungan yang merupakan tujuan utama dari perusahaan. Salah satu kebijakan yang utama untuk memaksimalisasi keuntungan perusahaan adalah kegiatan investasi. Dalam kegiatan investasi manajer harus mengalokasikan dana ke dalam bentuk investasi yang dapat menghasilkan keuntungan dimasa depan. Dalam kegiatan investasi tersebut perlu mempertimbangkan sumber pendanaan investasi tersebut apakah dari sumber internal atau dari sumber eksternal sehingga keuntungan yang dihasilkan bisa maksimal.

Kebijakan investasi berhubungan dengan pendanaan apabila investasi sebagian besar didanai dengan internal equity maka akan mempengaruhi besarnya deviden yang dibagikan. Semakin besar investasi maka semakin berkurang deviden yang dibagikan. Dan apabila dana internal equity kurang mencukupi dari dana yang dibutuhkan untuk investasi maka bisa dipenuhi dari external khususnya dari utang.
Perusahaan yang cenderung menggunakan sumber dana eksternal untuk mendanai tambahan investasi akan membagikan deviden yang lebih besar. Untuk itulah manajer harus dapat menentukan kebijakan deviden yang memberikan keuntungan kepada investor, disisi lain harus menjalankan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang diharapkan. Pembagian deviden bertujuan untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan yang ditunjukkan dengan nilai saham. Untuk mencapai tujuan tersebut melibatkan dua pihak yang berkepentingan dalam pembagian deviden yaitu investor dan emiten.
Dari sisi investor, deviden merupakan salah satu penyebab timbulnya motivasi investor menanamkan dananya di pasar modal. Investor lebih menyukai deviden daripada capital gain, alasanya adalah deviden merupakan penerimaan yang lebih pasti dibanding dengan capital gain. Mereka menganggap bahwa deviden sekarang lebih berharga dari pada capital gain yang diterima dikemudian hari. Kerena informasi yang dimiliki investor di pasar modal sangat terbatas, maka perubahan devidenlah yang akan dijadikan sebagai sinyal untuk mengetahui performance perusahaan. Sehingga perusahaan sering menggunakan pengumuman deviden untuk menaikkan harga saham.
Dari sisi emiten, sangat penting untuk menentukan apakah sebagian keuntungan yang dimiliki oleh perusahaan akan lebih banyak digunakan untuk membayar deviden dibandingkan dengan retained earning atau justru sebaliknya. Apabila proporsi keuntungan yang dibagikan sebagai deviden lebih besar dari laba ditahan, akibatnya adalah dana internal yang dimiliki perusahaan turun, dan perusahaan perlu mencari dana dari luar perusaahaaan bila perusahaan ingin melakukan ekspansi. Penentuan pembagian pendapatan antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai deviden atau untuk digunakan di dalam perusahaan disebut dengan politik deviden atau kebijakan deviden.
Kebijakan deviden merupakan bagian yang menyatu dengan keputusan pendanaan perusahaan. Rasio pembayaran deviden menentukan jumlah laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran deviden. Aspek utama dalam kebijakan deviden adalah alokasi penentuan laba sebagai deviden dan laba ditahan.
Laba sebaiknya tidak dibagikan sebagai deviden seluruhnya dan sebagian harus disisihkan untuk diinvestasikan kembali. Laba ditahan (retained earning) merupakan salah satu dari sumber dana yang berasal dari modal sendiri dan merupakan modal yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan.
Setiap perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut di satu pihak dan juga dapat membayarkan deviden kepada para pemegang saham di lain pihak, tetapi kedua tujuan tersebut selalu bertentangan. Sebab kalau makin tinggi tingkat deviden yang dibayarkan, berarti semakin sedikit laba yang ditahan, dan sebagai akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam pendapatan dan harga sahamnya. Kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar dari pendapatannya tetap didalam perusahaan, berarti bahwa bagian dari pendapatan yang tersedia untuk pembayaran deviden adalah semakin kecil. Persentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham sebagai “cash deviden” disebut devidend payout ratio. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa makin tingginya devidend payout ratio yang ditetapkan oleh perusahaan berarti makin kecil dana yang tersedia untuk ditanamkan kembali di dalam perusahaan yang ini berarti akan menghambat pertumbuhan perusahaan (Riyanto 2001:266). Kebijakan deviden yang optimal (optimal dividend policy) ialah kebijakan deviden yang menciptakan keseimbangan diantara deviden saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham perusahaan (Bringham 2001:198).
Bringham (2001:198) menyebutkan terdapat dua teori mengenai kebijakan deviden yaitu:
1. Devidend irrelevance theory.
Devidend irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan deviden perusahaan tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Teori ini mengikuti pendapat Modigliani dan Miller (M-M) yang menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya devidend payout ratio, tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan risiko bisnis. Dengan demikian kebijakan deviden tidak relevan untuk dipersoalkan.
2. Bird in the hand-Theory
Bird in the hand-Theory di ungkapkan oleh Gordon dan Lintner menyatakan bahwa biaya modal sendiri akan naik jika devidend payout ratio rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima deviden daripada capital gains.
Dari kedua teori diatas dapat diketahui bahwa kebijakan deviden merupakan kebijakan yang masih mengundang kontroversi untuk itulah sangat bervariasi kebijakan deviden yang dijalankan dalam perusahaan. Dewasa ini diperoleh fenomena perusahaan yang terdaftar di BEJ hanya sedikit yang membagikan deviden. Seperti data yang didapat dari perusahaan manufaktur di peroleh hasil bahwa perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ di tahun 2001 dari 155 perusahaan hanya 53 perusahaan yang membagikan deviden. Pada tahun 2002, dari 155 perusahaan hanya 50 perusahaan yang membagikan deviden. Rasio deviden yang dibagikan pada tahun tersebut sangat bervariatif sekali, banyak perusahaan yang membagikan deviden dengan proporsi yang sangat kecil dan sebaliknya ada pula yang membagikan dengan proporsi yang sangat besar. 
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rasio pembayaran deviden, antara lain yang dikemukakan oleh Riyanto (2001:267), bahwa kebijakan deviden itu dipengaruhi oleh likuiditas, kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat pertumbuhan, dan pengawasan terhadap perusahaan. Sedangkan yang dikemukakan oleh Hanafi (2004:378), bahwa rasio pembayaran deviden itu dipengaruhi oleh kesempatan investasi, profitabilitas, likuiditas, akses ke pasar uang, stabilitas pendapatan dan pembatasan-pembatasan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sri Sudarsi (2002), tentang “analisis faktor-faktor yang mempengaruhi devidend payout ratio pada industri perbankan yang listed di BEJ” di peroleh hasil bahwa cash position, profitabilitas, potensi pertumbuhan, ukuran perusahaan, dan debt to eqity ratio tidak mempunyai pengaruh terhadap devidend payout ratio. Hasil penelitian ini berbeda dengan teori yang dikemukakan oleh Riyanto dan Hanafi.
Dari fenomena dan teori yang diungkapkan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang deviden. Penelitian ini menggunakan variabel penelitian devidend payout ratio sebagai variabel dependen dan cash position, profitability, firm size dan debt to equity ratio sebagai variabel independent, dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Rasio Pembayaran Deviden pada Perusahaan Manufaktur yang Membagikan Deviden dan Terdaftar di BEJ Tahun 2003-2005”. Dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan kontribusi baru tentang kebijakan deviden sehingga dapat memberikan tambahan referensi dalam menentukan kebijakan deviden yang optimal.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Laporan Laba Rugi Departemen Kamar Pada Borneo International Hotel Di Samarinda (AK-45)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perusahaan  yang  menghasilkan  suatu  produk  dalam  operasionalnya memerlukan informasi mengenaiberapa besar jumlah biayayang digunakan dalammenghasilkan  produk-produk yang ditawarkan    kepada para pelanggannya.   Dengan demikian, peran akuntansi  menjadi   penting untuk mengolah dan  memberikan informasi keuangan bagi pimpinan perusahaan, yang akan dipergunakan sebagai dasar dalam perencanaan dan pengendalian, dan akhirnya pengambilan keputusan manajemen.
Sebagai suatu sistem informasi, akuntansi melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data  keuangan perusahaan untuk kemudian  hari mengkomunikasikannya kepada berbagai  pihak  yang berkepentingan  agar dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan. Sehubungan dengan   itu,   diperlukan   suatu   sistem   akuntansi  yang   andal   dan   tidak menyesatkan, sehingga mampu  menyajikan informasi  tentang posisi keuangan,   kinerja  dan  arus  dana  dari  suatu  unit  ekonomi  kepada  para pengambil keputusan.

 

Satu  di  antara  beberapa  jenis  informasi  yang  dihasilkan  akuntansi, laporan   laba  rugi  departemental.  Bagi  sebuah  hotel,  laporan  laba-rugi departemen  kamar  sangat penting  untuk  berbagai  tujuan.  Misalnya  untuk perencanaan biaya yang tercermin  dalam anggaran biaya, pengendaliannya, serta sebagai masukan untuk pengambilan keputusan keputusan pemasaran.
Sebagaimana diketahui, sebuah hotel,apalagi hotel yang tergolong berbintang, biasanya menawarkan berbagai kelas kamar.  Masing-masing kelas yang ditawarkan tentu berbeda tarif-nya. Perbedaantarif dikarenakan adanya perbedaan  fasilitas kamar atau layanan yang diberikan. Artinya,  biaya operasi  kamar  juga  bisa berbeda antar kelas kamar.
Umumnya pada perusahaan dagang dan manufaktur, secara tradisional komponen biayanya dapatdikelompokkan dalam tiga bagian, yaituharga pokok  penjuakan  (untuk perusahaan dagang)  atau  harga  pokok  produksi (untuk  perusahaan  manufaktur),  biaya administrasi & umum  serta  biaya pemasaran.  Sedangkan pada industri perhotelan, dipergunakan standar atau sistem akuntansi tersendiri yang disebut dengan Uniform System of Account for Hotel (USAH), yang     pengelompokan      biayanya     berbeda    pula, sebagaimana tercermin dalam laporan laba rugi, yaitu  biaya departemental (departemental expenses),  biaya  yang tidak  didistribusikan  (undistributed expenses)  dan  seterusnya. Dengan  lain  perkataan, berdasarkan  USAH, akuntansi  keuangan hotel merupakan akuntansi departemental. Artinya setiap departemen  ataudivisi hotel melaporkan hasil operasinya selama periode tertentu, termasuk  departemen kamar atau room department yang tugasnya adalah mengelola penjualan kamar-kamar hotel.
Pendapatan  departemen   kamar   diperoleh   dari   penyediaan   kamar akomodasi  (room sale)  merupakan  penjualan  utama  (primary  sale)  bagi industri perhotelan.  Untuk kepuasan  tamu,  juga  disediakan  makanan  dan minuman serta  jasa  lainnya sepertifasilitas   telpon, facsimail dan fasilitas perkantoran lainnya  (business  center)  serta  laundry, sehingga terjadilah penjualan jasa ikutan (drived sale).  Selain ditawarkan kepada tamu, hotel menawarkan  berbagai  jasa  ikutan  tersebut  kepada  konsumen  umum,  yang merupakan penjualan bebas (independent sale)
Menurut  USAH,  ada  tiga  kelompok  biaya  yang  mengurangi  total pendapatan,  hingga  menghasilkan  laba/rugi  sebelum  pajak  sebuah  usaha perhotelan,  yaitu  biaya  departemental,  biaya  yang  tidak  didistribusikan (Undistributed  Expenses)    dan    biaya    tetap.    Dalam     biaya    departemen (department  expenses),  umumnya  terkandung  dua kelompok  biaya,  yaitu harga pokok (cost of sales) dan biaya operasi. Khusus pada departemen kamar, tidak terdapat unsur hargapokok, tetapi hanya biaya operasi,karena itu pula pada Borneo International Hotel, RoomDepartement Expenses,  terdiri dari dua kelompok biaya,yaitu biaya tenagakerja (gaji dan biaya lainnyayang terkait), serta biaya operasional lainnya.
Dalam rangka      penyediakan      kamar-kamar      akomodasi,      Borneo Intenational Hotel membagi beberapa jenis/kelas kamar, yatu: Superior Room, Deluxe Room, Eecutive Club Room, Suite dan President Suite. Masing-masing jenis kamar berbeda tarifnya,mengingat fasilitas yang diberikan juga berbeda dan biaya operasional juga berbeda, sehingga pada akhirnya masing masing kamar   memberikan   konstribusi   laba  departemen   kamar   yang   mungkin berbeda.
Berdasarkan penjelasan tersebutdi atas, guna mengetahui alokasi biaya    masing-masing jenis kamar dan  konstribusinya terhadap  laba departemen, maka diambil judul penelitian ini: “Analisis Laporan Laba Rugi Departemen  Kamar Pada Borneo International Hotel di Samarinda”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

PENGARUH DIMENSI PROFESIONALISME AUDITOR TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS DALAM PROSES PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN (AK-44)

Audit  adalah  jasa  profesi  yang  dilakukan  oleh  Kantor  Akuntan Publik dan  dilaksanakan oleh seorang auditor yang sifatnya sebagai jasa pelayanan. Standar Profesi Akuntan Publik mengharuskan dibuatnya laporan disetiap kali melakukan audit. Kantor  Akuntan publik dapat menerbitkan berbagai laporan audit, sesuai dengan keadaan. Dalam melakukan audit atas laporan   keuangan,   auditor   tidak   dapat   memberikan   jaminan   mutlak (guarantee)  bagi  klien  atau  pemakai  laporan  keuangan  lainnya,  bahwa laporan keuangan auditan adalah akurat (Mulyadi, 2002:158). Auditor tidak dapat memberikan jaminan mutlak karena ia tidak dapat memeriksa semua transaksi yang            terjadi   telah     dicatat, diringkas,          digolongkan   dan dikompilasikan secara semestinya kedalam  laporan keuangan. jika auditor diharuskan   untuk   memberikan   jaminan   mengenai   keakuratan   laporan keuangan  auditan, hal            ini         tidak     mungkin            dilakukan          karena akan membutuhkan waktu dan biaya yang jauh melebihi manfaat yang dihasilkan. Disamping itu, tidaklah mungkin seorang menyatakan keakuratan laporan keuangan, mengingat laporan keuangan itu sendiri berisi pendapat, estimasi, dan pertimbangan tersebut tidak akurat seratus persen (Mulyadi, 2002 :158).

Tujuan  audit  atas  laporan  keuangan  oleh  auditor  adalah  untuk menyatakan pendapat atas suatu kewajaran semua hal yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku  umum. Audit dapat dikatakan jujur dan wajar, laporan keuangan tidak  perlu   benar-benar   akurat  sepanjang  tidak  mengandung  kesalahan material. Suatu persoalan dikatakan material jika           tidak     adanya pengungkapan atas salah saji material atau kelalaian dari suatu account dapat mengubah  pandangan yang   diberikan  terhadap  laporan   keuangan.  Materialitas   berhubungan   dengan   judgment,   ketika   dikaitkan   dengan evaluasi  resiko  pertimbangan  inilah  yang  akan  mempengaruhi  cara-cara pencapaian tujuan audit, ruang lingkup dan arah pekerjaan  terperinci serta disposisi  kesalahan  dan  kelalaian.  Dalam  perencanaan  audit  yang  harus dipertimbangkan oleh auditor eksternal adalah masalah penetapan tingkat resiko  pengendalian  yang  direncanakan  dan  pertimbangan  awal  tingkat materialitas untuk tujuan audit.
Materialitas itu sendiri adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah           saji informasi     akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya  dapat  mengakibatkan  perubahan  atau  pengaruh  terhadap pertimbanga orang   yang   meletakan   kepercayaan   terhadap   informasi tersebut, karena adanya  penghilangan atau salah saji itu (Mulyadi, 2002 :158). Materialitas adalah dasar penetapan standar auditing tentang standar pekerjaan  lapangan  dan  standar  pelaporan.  Oleh  karena  itu,  materialitas memiliki  pengaruh  yang  mencakup  semua  aspek  audit  dalam  audit  atas laporan  keuangan.  Suatu  jumlah  yang  material  dalam  laporan  keuangan suatu entitas tertentu mungkin tidak material dalam laporan keuangan entitas lain      yang memiliki    ukuran dan       sifat      yang     berbeda.           Begitu            juga, kemungkinan terjadi perubahan materialitas dalam laporan keuangan entitas tertentu dari periode akuntansi satu keperiode akuntansi yang lain.
Mengapa auditor harus mempertimbangkan dengan baik penaksiran materialitas pada tahap perencanaan audit, karena seorang auditor harus bisa menentukan  berapa  jumlah  rupiah  materialitas  suatu  laporan  keuangan kliennya.  Jika auditor dalam menentukan jumlah rupiah materialitas terlalu rendah, auditor akan mengkonsumsi waktu dan usaha yang sebenarnya tidak diperlukan,  sehingga  akan  memunculkan  masalah  yang  akan  merugikan auditor  itu  sendiri  maupun  Kantor  Akuntan  Publik  tempat  dimana  dia bekerja, dikarenakan tidak efisiennya waktu dan usaha yang digunakan oleh auditor   tersebut  untuk  menentukan  jumlah  materialitas  suatu  laporan keuangan  kliennya.  Sebaliknya  jika  auditor  menentukan  jumlah  rupiah materialitas  terlalu  tinggi,  audito akan  mengabaikan  salah  saji  yang signifikan sehingga ia memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian untuk laporan  keuangan  yang  sebenarnya  berisi  salah  saji  material,  yang  akan dapat   menimbulkan   masalah   yang   dapat   berupa   rasa   tidak   percaya masyarakat terhadap Kantor Akuntan Publik dimana auditor tersebut bekerja akan muncul  karena memberikan pendapat yang ceroboh terhadap laporan keuangan yang berisi salah saji yang material (Mulyadi, 2002: 161).
Auditor  menemui   kesulitan   dalam   menetapkan   jumlah   tingkat materialitas  laporan keuangan kliennya. Hal ini disebabkan karena auditor kurang dalam mempertimbangkan masalah lebih saji dan kurang saji, selain itu  auditor  juga  sering  menganggap  perkiraan  tertentu  lebih  banyak kekeliruannya   dari  pada  perkiraan  lainnya  sehingga  membuat  seorang auditor  kesulitan  dalam  menentukan  jumlah  tingkat  materialitas.  Disini dibutuhkan seorang auditor yang memiliki sikap profesionalisme yang tinggi untuk menentukan seberapa besar jumlah materialitas yang akan ditetapkan baik  dengan  menetapkan  tingkat  materialitas  laporan  keuangan  dengan jumlah yang     rendah  atau      tinggi,   sehingga diharapkan dengan profesionalisme  auditor yang semakin tinggi akan mampu      untuk mempertimbangkan tingkat materialitas semakin baik pula.
Pertimbangan auditor tentang materialitas berupa masalah kebijakan profesional  dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan yang beralasan  dari  laporan  keuangan.  Tingkat  materialitas  laporan  keuangan suatu entitas tidak akan sama dengan  entitas lain tergantung pada ukuran entitas tersebut. Tanggungjawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan yang material. Jika auditor  menemukan kesalahan   yang   material,   dia   akan   meminta   perhatian   klien   supaya melakukan  tindakan  perbaikan.  Jika  klien  menolak  untuk  memperbaiki laporan  keuangan, pendapat dengan kualifikasi atau pendapat tidak wajar akan dikeluarkan oleh  auditor, tergantung pada sejauh mana materialitas kesalahan penyajian.
Tanggung jawab inilah yang menuntut auditor harus bisa memeriksa dengan   teliti  laporan  keuangan  kliennya,  tentunya  berdasarkan  prinsip akuntansi berterima  umum. Contoh kasus yang terjadi adalah kasus yang menimpa  Bank  Lippo,  Kasus  yang  terjadi  adalah  penyimpangan  yang dilakukan  oleh Bank Lippo terhadap Laporan keuangan yang dikeluarkan. Laporan  keuangan  yang   dikeluarkan  oleh  bank  Lippo  yang  dianggap menyesatkan tenyata berisi banyak  sekali  kesalahan material. Disini peran auditor sangat dibutuhkan untuk memeriksa laporan keuangan tersebut. Hal tersebut dapat muncul karena adanya omission atau penghilangan informasi fakta material, atau adanya pernyataan fakta material yang salah.
Selain fenomena  diatas,  muncul  issue  yang  sangat  menarik  yaitu pelanggaran etika  oleh akuntan     baik ditingkat nasional          maupun internasional.  Di Indonesia  issue  ini  berkembang  seiring  dengan  adanya pelanggaran etika baik yang dilakukan oleh akuntan pubik, akuntan intern, maupun  akuntan  pemerintah.  Contoh  kasus  ini  adalah  pelanggaran  yang melanda  perbankkan  Indonesia  sekitar  tahun  2002.  Banyak  bank  yang dinyatakan  sehat  oleh  akuntan  publik            atas   audit  laporan  keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Perbankkan Indonesia.  Ternyata  sebagian bank tersebut kondisinya tidak sehat, hal ini dapat terjadi karena  auditor memberikan pendapat yang wajar            terhadap          laporan keungan            yang sebenarnya berisi salah saji material dan ini adalah tanggungjawab auditor. Kasus lainnya adalah rekayasa atas  laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor  intern  yang  banyak  dilakukan  sejumlah  perusahaan  Go  Public (Winarna dan retnowati, 2004:839).
Penelitian  mengenai   Profesionalism auditor   sebelumnya   telah dilakukan  oleh  Theresia  (2003).  Penelitian  tersebut  mengkaji  pengaruh Profesionalisme auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Hasil penelitian  itu  menemukan ada satu variabel profesionalisme auditor yang hasilnya tidak signifikan. Hal tersebut tidak kontradiktif dengan teori yang dikembangkan Kalbers dan Forgaty.
Dengan           profesionalisme              yang     baik,        seseorang     akan mampu melaksanakan tugasnya meskipun imbalan ekstrinsiknya berkurang, selain itu dengan profesionalisme seorang akan mampu untuk membuat keputusan tanpa tekanan pihak lain, Akan selalu bertukar pikiran dengan rekan sesama profesi,  dan  selalu  beranggapan   bahwa   yang  paling  berwenang  untuk menilai pekerjaanya       adalah     rekan         sesama   profesi  sehingga           dengan profesionalisme yang tinggi kemampuan dalam mempertimbangkan tingkat materialitas suatu laporan keuangan akan semakin baik pula
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang PENGARUH  PROFESIONALISME  AUDITOR TERHADAP PERTIMBANGAN    TINGKAT MATERIALITAS DALAM PROSES PENGAUDITAN LAPORAN KEUANGAN” ( Studi empiris pada Auditor di KAP Kota Semarang ).
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

AUDIT OPERASIONAL ATAS MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PADA PT ROMANCE BEDDING AND FURNITURE (AK-42)

Dewasa ini sering terdengar pernyataan bagaimana menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dapat bersaing dalam era yang kompetitif. Persaingan d`lam dunia bisnis semakin tajam. Perusahaan-perusahaan sekarang ini memerlukan orang-orang yang kreatif, loyal, inovatif, komunikatif dan produktif. SDM merupakan elemen organisasi yang sangat penting dan berpengaruh terhadap maju tidaknya suatu perusahaan, karena tanpa keikutsertaannya, aktivitas perusahaan tidak akan berjalan. 
Kemampuan manajemen dalam mengelola dan memanfaatkan SDM sangat menentukan perkembangan perusahaan serta mendukung terwujudnya peningkatan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja suatu perusahaan. Setiap perusahaan dihadapkan pada kenyataan bahwa keberhasilan usaha bertumpu pada kemampuan bersaing di pasar, sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas untuk mencapai sasaran perusahaan dalam mengembangkan usahanya. Penulis memilih PT Romance Bedding and Furniture sebagai objek penelitian karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang cukup berkembang dan telah memiliki pangsa pasar yang cukup luas dan dikenal oleh masyarakat, terbukti dari volume penjualan yang terus meningkat. PT Romance Bedding and Furniture merupakan perusahaan manufakturing yang memproduksi tempat tidur pegas dan memiliki slogan ”Tiga kali lebih sempurna”. 

Hal ini merupakan keyakinan yang berusaha diciptakan dalam memberikan kenyamanan bagi para konsumen. Persaingan yang kian meningkat mengharuskan perusahaan untuk tanggap dalam mengatasi masalah-masalah yang ada, khususnya secara internal yakni SDM, yang merupakan faktor sumber daya yang penting. 
Berhasil atau tidaknya suatu perusahaan tergantung pada keefektifan dan keefisienan dari para karyawan. PT Romance Bedding and Furniture merupakan perusahaan keluarga, dimana sebagian besar jabatan manajemen puncak dipegang oleh anggota keluarga, sehingga sering menimbulkan masalah yang menyangkut ketidaktaatan pihak manajemen puncak terhadap peraturan, seperti waktu kerja yang kurang disiplin. 
Hal ini membuat para karyawan tidak memiliki semangat dan disiplin kerja yang tinggi, yang secara tidak langsung berdampak pada kesejahteraan kerja para karyawan yang ikut menurun. Segala keputusan mengenai karyawan terletak ditangan pemilik perusahaan, termasuk dalam hal menetapkan jumlah karyawan, yang hanya didasarkan atas perkiraan, hubungan kekerabatan, dan sebagainya, yang menimbulkan ketidaksesuaian antara kualitas dan kuantitas tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan. 
Di sisi lain, perusahaan jarang memberhentikan karyawan, sebagai contoh, karyawan yang mangkir hanya diberikan teguran, dan kurang ditindak dengan tegas atas kelalaian yang dilakukan, sehingga mengakibatkan rendahnya motivasi karyawan untuk lebih disiplin. Hal tersebut di atas menarik untuk dijadikan bahan pembahasan. 
Untuk itu, judul yang dipilih adalah “Audit Operasional atas Manajemen Sumber Daya Manusia pada PT Romance Bedding and Furniture”. Penelitian manajemen SDM yang dilakukan pada PT Romance Bedding and Furniture, ditujukan untuk memberikan rekomendasi, agar dapat meningkatkan kinerja perusahaan, serta turut memberikan masukan dan menentukan kebijakan di bidang SDM. 
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
atau klik disini

WordPress Themes