Category: Ilmu Kesehatan

Pendugaan Hubungan Antara Kurang Gizi Pada Balita Dengan Kurang Energi Protein Ringan Dan Sedang Di Wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang Tahun 2005 (IKS-9)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Alasan Pemilihan Judul
Salah satu masalah pokok kesehatan di negara sedang berkembang adalah masalah gangguan terhadap kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh kekurangan gizi. Masalah gizi di Indonesia masih didominasi oleh masalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia zat Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Kurang Vitamin A (KVA). Penyakit kekurangan gizi banyak ditemui pada masyarakat golongan rentan, yaitu golongan yang mudah sekali menderita akibat kurang gizi dan juga kekurangan zat makanan (Syahmien Moehji, 2003:7). Kebutuhan setiap orang akan makanan tidak sama, karena kebutuhan akan berbagai zat gizi juga berbeda. Umur, Jenis kelamin, macam pekerjaan dan faktor-faktor lain menentukan kebutuhan masing-masing orang akan zat gizi. Anak balita (bawah lima tahun) merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat, sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering dan sangat rawan menderita akibat kekurangan gizi yaitu KEP.

KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi zat energi dan zat protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan atau gangguan penyakit tertentu. Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan anak hanya nampak kurus karena ukuran berat badan anak tidak sesuai dengan berat badan anak yang sehat. Anak dikatakan KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks berat badan menurut umur (BB/U) baku WHO-NCHS,1983. KEP ringan apabila BB/U 70% sampai 79,9% dan KEP sedang apabila BB/U 60% sampai 69,9%, % Baku WHO-NCHS tahun 1983 (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:18,131).
Kekurangan gizi merupakan salah satu penyebab tingginya kematian pada bayi dan anak. Apabila anak kekurangan gizi dalam hal zat karbohidrat (zat tenaga) dan protein (zat pembangun) akan berakibat anak menderita kekurangan gizi yang disebut KEP tingkat ringan dan sedang, apabila hal ini berlanjut lama maka akan berakibat terganggunya pertumbuhan, terganggunya perkembangan mental, menyebabkan terganggunya sistem pertahanan tubuh, hingga menjadikan penderita KEP tingkat berat sehingga sangat mudah terserang penyakit dan dapat berakibat kematian (Solihin Pudjiadi, 2003:124).
Di Indonesia angka kejadian KEP berkisar 10 % dari 4.723.611 balita menurut laporan Depkes RI tahun 2003, di Jawa Tengah sendiri angka penderita KEP yang ada yaitu sebesar 12,75 % dari 336.111 balita yang diukur menurut Dinkes Prop Jateng tahun 2004, di kota Semarang angka KEP yaitu 11,55 % dari 6.671 balita menurut laporan DKK Semarang tahun 2004, di Puskesmas Sekaran yang membawahi 5 kelurahan yaitu kelurahan Ngijo, kelurahan Patemon, kelurahan Kalisegoro, kelurahan Sekaran dan Kelurahan Sukorejo angka kasus KEP yang ada yaitu 9,82 % dari 576 balita menurut laporan Puskesmas Sekaran tahun 2005. Oleh karena itu, usaha-usaha perbaikan gizi masyarakat di negara ini harus diprioritaskan guna mengurangi angka penderita yang ada dan untuk dijadikan bagian dari program pembangunan nasional.
Faktor penyebab langsung terjadinya kekurangan gizi adalah ketidakseimbangan gizi dalam makanan yang dikonsumsi dan terjangkitnya penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan. Ketiga faktor tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga serta tingkat pendapatan keluarga (I Dewa Nyoman Supariasa, 2001:13). Faktor ibu memegang peranan penting dalam menyediakan dan menyajikan makanan yang bergizi dalam keluarga, sehingga berpengaruh terhadap status gizi anak (Soekirman, 2000:26).
Dari alasan tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara kurang gizi pada balita dengan KEP ringan dan sedang di wilayah Puskesmas Sekaran Kecamatan Gunungpati Semarang.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Hubungan Antara Intensitas Penerangan Dan Suhu Udara Dengan Kelelahan Mata Karyawan Pada Bagian Administrasi DI PT. Hutama Karya Wilayah IV Semarang (IKS-8)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan ketenagakerjaan merupakan upaya menyeluruh dan ditujukan kepada peningkatan, pembentukan dan pengembangan tenaga kerja yang berkualitas, produktif, efisien, efektif dan berjiwa wirausaha, sehingga mampu mengisi, menciptakan dan memperluas lapangan kerja serta kesempatan berusaha.

 

Dalam pembangunan ketenagakerjaan, perlu dibina dan dikembangkan perbaikan syarat-syarat kerja serta perlindungan tenaga kerja dalam sistem hubungan industrial Pancasila menuju kepada peningkatan kesejahteraan tenaga kerja (Depkes, 2003:25).
Agar tenaga kerja berada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang berarti dapat terjamin keadaan kesehatan dan produktivitas setinggi-tingginya maka perlu ada keseimbangan yang menguntungkan dari faktor yaitu beban kerja, beban tambahan akibat dari lingkungan kerja, dan kapasitas kerja (Suma’mur PK, 1993:48).
Kondisi lingkungan kerja perkantoran (administrasi) pada umumnya lebih baik bila dibandingkan dengan lingkungan kerja bagian produksi. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa pekerjaan administrasi yang mengandalkan pikiran dinilai lebih membutuhkan pemusatan kosentrasi, sedangkan pekerjaan produksi lebih banyak menggunakan kekuatan fisik tubuh. Selain itu beberapa sarana maupun peralatan kerja administrasi seperti komputer, panel-panel kontrol dan lain-lain memerlukan kondisi ruangan tertentu untuk dapat dioperasikan secara optimal. Kondisi yang demikian seringkali menimbulkan keluhan-keluhan akibat ketidaktahuan pengelola gedung dalam mengatur suhu udara, ventilasi maupun tata letak sarana dan prasarana kantor (Soewarno, 1992:57). Secara umum harus dapat menciptakan kondisi kerja sebaik-baiknya dengan jalan mengendalikan semua faktor lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi pekerjaan dan efisiensi manusia, antara lain masalah penerangan yang memungkinkan tenaga kerja dapat mengamati obyek yang dikerjakan dengan cepat, jelas dan aman (Suma’mur PK, 1993:97).
Penerangan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, serta mempunyai kaitan yang sangat erat dengan meningkatnya produktivitas (AM Sugeng Budiono, 1991:37).
Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyek yang dikerjakannya secara jelas, cepat, dan tanpa upaya yang tidak perlu. Lebih dari itu penerangan yang memadai memberikan kesan pemandangan yang lebih baik dan keadaan yang menyegarkan. Sebaliknya jika lingkungan kerja memiliki penerangan yang buruk dapat berakibat sebagai berikut : kelelahan mata dengan berkurangnya daya dan efisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan pegal-pegal di daerah mata, dan sakit kepala di sekitar mata, kerusakan alat penglihatan dan meningkatnya kecelakaan (Suma’mur PK, 1998:93).
Penerangan yang buruk akan mengakibatkan rendahnya produktivitas juga kualitas maupun sakit mata, lelah dan pening kepala bagi pekerja. Penerangan yang lebih baik dapat memberikan hal berupa efisiensi yang lebih tinggi, dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi kesulitan serta tekanan penglihatan terhadap pekerjaan (AM Sugeng Budiono, 1991:37).
PT. Hutama Karya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa kontruksi yang terletak di jalan A. Yani No. 173 Semarang. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Keselamatan Kerja dan HIPERKES, hasil yang di dapat dari pengujian 39-129 Lux. Untuk mencukupi kebutuhan penerangannya, PT. Hutama Karya menggunakan penerangan buatan, karena tidak ada jendela sehingga penerangan dalam ruang kerja kurang mencukupi. Sesuai dengan Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 tahun 1964, tentang syarat kebersihan, kesehatan dan penerangan dalam tempat kerja, untuk ketelitian kerja jenis pekerjaan kantor membutuhkan intensitas penerangan sebesar 300 Lux (HIPERKES, 2004:6).
Dalam pengaturan suhu udara PT. Hutama Karya Semarang menggunakan ventilasi dengan sistem Air Conditioner (AC). Hal tersebut menyebabkan polusi, terutama polusi udara yang di akibatkan ventilasi sistem Air Conditioner (AC) yang mempunyai sirkulasi udara sendiri, sehingga akan mempengaruhi suhu udara ruangan. Penggunaan Air Conditioner (AC) dalam ruangan dapat menyebabkan mata kering dan merah. Kekurangan air mata dapat menyebabkan mata kekurangan nutrisi dan oksigen sehingga mata akan cepat lelah (Tjandra Yoga A, 2002:90).
Berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Keselamatan Kerja dan HIPERKES, hasil yang di dapat dari pengujian suhu udara 24,0o C dengan standar yang telah ditetapkan 24o C-26o C. Melihat keadaan tersebut maka ingin mengetahui apakah ada hubungan antara intensitas penerangan dan suhu udara dengan kelelahan mata karyawan pada bagian administrasi di PT. HUTAMA KARYA Semarang.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kapasitas Vital Paru Tukang Ojek Di Alun-Alun Ungaran Kabupaten Semarang Bulan Maret Tahun 2007 (IKS-7)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Transportasi memegang peranan penting dalam akitivitas manusia, baik transportasi udara, laut maupun darat. Kepadatan lalu-lintas alat transportasi berkaitan erat dengan jumlah penduduk dan ketersediaan sarana-prasarana. Lalu lintas dan angkutan jalan raya sebagai bagian dari sistem transportasi menempati posisi vital dan strategis dalam pembangunan nasional. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam industri otomotif begitu pesat, sehingga laju pertambahan kendaraan juga meningkat dengan cepat yang mengakibatkan transportasi manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain menjadi mudah dan cepat. Dalam kondisi ini persaingan di sektor transportasi menjadi semakin ketat dan untuk memenangkan persaingan diperlukan sumber daya manusia pekerja di sektor transportasi yang sehat dan produktif (Eryus AK.,2001:2).

Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor yang digunakan per satuan waktu pada wilayah tertentu, semakin tinggi pencemaran udara. Pada tahun 2005 jumlah kendaraan bermotor di Jateng sekitar 3,8 juta unit yang terdiri dari sepeda motor mencapai 70 persen, sedangkan mobil 30 persen, bahkan jumlahnya tahun 2006 bakal bertambah lagi (www.kompas.com).
Para ahli memperkirakan sekitar 60-80% penduduk perkotaan di dunia menghirup udara yang kualitasnya buruk bagi kesehatan atau setidaknya dengan kadar polutan mendekati Nilai Ambang Batas. Seorang pengemudi bus umum tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat kimia, baik dari sumber yang bersifat internal (dalam kendaraan) maupun eksternal (luar kendaraan). Beberapa bahan pencemaran yang dikenal seperti gas Karbon Monoksida (CO), Timbal (Pb), Ozon (O3), Nitrogen Oksida (NOX), Belerang Oksida (SOX), radikal bebas dan debu (Dadi S, 2003:9). Begitu pula bagi seorang tukang ojek yang keseharian pekerjannya berhubungan langsung jalan raya, tentunya juga tidak terlepas dari keterpaparan oleh zat-zat kimia pencemar tersebut.
Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan N0. 23 tahun 1992 pada bagian lima kesehatan lingkungan pasal 22 menyebutkan kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat. Kesehatan Lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya yang meliputi penyehatan air, udara, pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan, pengendalian vektor penyakit, dan pengadaan atau pengamanan lainnya (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia, 1992:17)
Berdasarkan laporan pengujian kualitas udara ambien di Kabupaten Semarang tahun 2003 yang dilakukan oleh Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten Semarang dengan lokasi di depan Pasar Bandarjo Ungaran didapatkan hasil analisa untuk parameter Sulfur dioksida (SO2) 75,11μg/Nm2, Nitrogen oksida (NO2) 49,19μg/Nm2, Karbon monoksida (Co) 7,72 μg/Nm2, Floating/debu (PM10) 71,67 μg/Nm2. Dari hasil pengujian dan pengukuran parameter kualitas udara ambien di lokasi tersebut dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 tahun 2001 dapat disimpulkan bahwa parameter yang diuji di lokasi tersebut masih dibawah Baku Mutu Udara Ambien. Dampak pencemaran udara terhadap kehidupan manusia biasanya dirasakan dalam waktu relatif lebih lama. Salah satu dampak pencemaran udara ini adalah munculnya gangguan sistem pernafasan pada manusia (Karden Eddy Sontang Manik, 2003:18).
Seiring pertambahan umur, kapasitas paru-paru akan menurun. Kapasitas paru orang berumur 30 tahun ke atas rata-rata 3.000 ml sampai 3.500 ml, dan pada mereka yang berusia 50-an tentu kurang dari 3.000 ml. Kapasitas paru-paru yang sehat pada laki-laki dewasa bisa mencapai 4.500 ml sampai 5.000 ml atau 4,5 sampai 5 liter udara. Sementara itu, pada perempuan, kemampuannya sekitar 3 hingga 4 liter (Tjandra Yoga Aditama, Kompas.co.id:2005)
Perubahan struktur, fungsi saluran nafas dan jaringan paru-paru dapat juga disebabkan oleh kebiasaan merokok. Perubahan pada saluran nafas besar yaitu sel mukosa membesar (hipertrofi) dan kelenjar mukus bertambah banyak (hiperplasia) sedangkan pada saluran nafas kecil, terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Perubahan pada jaringan paru-paru yaitu terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli. Akibat perubahan anatomi saluran nafas pada perokok akan timbul perubahan pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Hal ini menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun (PPOM). Dikatakan merokok merupakan penyebab utama timbulnya PPOM, termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma (Hans Tandra, Kompas.Com:2001). 
Agar fungsi pernafasan menjadi baik, berolahraga merupakan cara yang sangat baik untuk meningkatkan ventilasi fungsi paru. Olahraga merangsang pernafasan yang dalam dan menyebabkan paru berkembang, oksigen banyak masuk dan disalurkan ke dalam darah, karbondioksida lebih banyak dikeluarkan. Seseorang yang sehat berusia 50 tahun keatas yang berolahraga teratur mempunyai volume oksigen 20-30% lebih besar daripada orang berusia muda yang tidak berolahraga (M. Arifin Nawas, Sinar harapan.com:2005).
Tukang ojek bekerja dengan waktu yang tidak tentu bisa mulai pagi hari, siang hari, bahkan sampai malam hari. Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 11, 13 dan 15 November 2006 pada 4 pangkalan ojek di alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang, 46% dari 50 orang tukang ojek mempunyai penyakit pernafasan, dengan prevalensi tertinggi 86,96% untuk penyakit batuk, 4,35% untuk masing-masing penyakit batuk dan nyeri dada, batuk dan sesak dada, TBC dan asma. Sarana pelayanan kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh tukang ojek adalah Puskesmas (47,83%), Rumah Sakit/BP4 (17,39%), Dokter (4,35%), Dokter/Puskesmas (4,35%) dan 30,43% tukang ojek tidak memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan yang ada apabila mereka sedang sakit, hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya kesadaran tukang ojek terhadap kesehatan dirinya sendiri. 72% tukang ojek memanfaatkan waktu sengganggangnya sambil menunggu penumpang dengan menghisap rokok. Berdasarkan masa kerja tukang ojek, 64% bekerja kurang dari 6 tahun, 18% bekerja antara 6-10 tahun dan 18% bekerja lebih dari 10 tahun. Kondisi Lingkungan, beban kerja tambahan dan kapasitas kerja yang berhubungan dengan pekerjaan tukang ojek dapat mempengaruhi kesehatan terutama gangguan pernapasan.
Berdasarkan kenyataan di atas peneliti ingin meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru tukang ojek di Alun-alun Ungaran Kabupaten Semarang pada bulan Maret tahun 2007.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Tingkat Konsumsi Energi Dan Konsumsi Protein Serta Hubungannya Dengan Status Gizi Anak Asuh Usia 10-18 Tahun (Studi Pada Penyelenggaraan Makanan Di Panti Asuhan Pamardi Putra Kabupaten Demak) Tahun 2005 (IKS-6)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor utama yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional. Untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut maka harus dilakukan upaya-upaya yang saling berkesinambungan. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas SDM, faktor kesehatan dan gizi memegang peranan penting, karena orang tidak akan dapat mengembangkan kapasitasnya secara maksimal apabila yang bersangkutan tidak memiliki status kesehatan dan gizi yang optimal (Depkes, 2001: 1).
Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia baik fisik maupun non fisik harus dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung terus sepanjang hidup. Salah satu upaya yang harus dilaksanakan adalah peningkatan dan perbaikan gizi dan kesehatan.
Undang-undang Dasar (UUD) 1945 pasal 34 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Salah satu institusi yang berusaha menyelenggarakan fungsi tersebut di atas adalah Panti Asuhan. Pada institusi ini telah dikembangkan suatu upaya dalam rangka meningkatkan status gizi anak-anak asuhnya.

 

Panti Asuhan adalah salah satu institusi yang harus mendapatkan perhatian penuh karena pada institusi inilah anak-anak asuh yang ada di dalamnya memerlukan perlindungan kesejahteraan dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya. Faktor yang dapat membantu proses pencapaian pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak-anak asuh tersebut diantaranya adalah adanya kecukupan konsumsi zat gizi yang seimbang yang harus dikonsumsi setiap hari.
Anak-anak asuh di Panti Asuhan merupakan sasaran strategis dalam upaya perbaikan gizi masyarakat. Hal ini penting karena sebagian besar anak-anak asuh di Panti Asuhan tersebut adalah anak usia sekolah yang merupakan generasi penerus tumpuan harapan bangsa yang harus dipersiapkan kualitasnya dengan baik.
Pada usia remaja (10-18 tahun), terjadi proses pertumbuhan jasmani yang pesat, di samping aktivitas fisik yang tinggi. Dari hasil SKRT 2001 dan data SUSENAS 2002, diperoleh data bahwa prevalensi gizi kurang pada remaja dengan IMT < 5 percentil sebesar 17,4 % serta prevalensi anemi sebesar 25,5 %. Sedangkan dilihat dari kecukupan energinya, 38,3 % remaja di Indonesia memiliki Tingkat Konsumsi Energi 70 % dari AKE yang dianjurkan (Permaisih, 2003: 2). Dari hasil tersebut, diketahui bahwa status gizi buruk pada remaja masih tinggi serta rata-rata tingkat konsumsi energi pada usia remaja masih di bawah standar AKG yang dianjurkan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) darah yang dilakukan pada bulan Desember 2004 lalu diketahui bahwa rata-rata anak asuh di Panti Asuhan Pamardi Putra Demak berstatus gizi baik. Dari pemeriksaan Hb yang dilakukan di Panti tersebut diperoleh hasil yaitu 20 % (10 anak asuh) memiliki kadar Hb kurang dari 12 gram % serta 80 % (40 anak asuh) memiliki kadar Hb di atas 12 gram % (Sumber: Laporan Tahunan Panti Asuhan, 2004) . Keadaan ini menunjukkan bahwa kadar Hb anak asuh di Panti Asuhan Pamardi Putra rata-rata berada di atas standar kadar Hb pada anak usia sekolah yaitu di atas 12 gram % (Sumber WHO, 1975 dalam I Dewa Nyoman S, 2001: 169)

Salah satu upaya untuk mempertahankan status gizi anak asuh tersebut agar tetap baik adalah panti asuhan perlu mempertahankan dan meningkatkan konsumsi gizi agar tetap adekuat pada proses penyelenggaraan makanannya. Dalam rangka pelaksanaan upaya ini tentunya setiap Panti Asuhan memiliki cara pengaturan dan penyelenggaraan makanan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan masing- masing.
Panti asuhan Pamardi Putra adalah salah satu panti asuhan di kabupaten Demak yang didirikan pada tanggal 1 Juni 1945 dengan alamat yaitu di Kelurahan Bintoro Kecamatan Demak Kabupaten Demak. Panti asuhan ini adalah panti asuhan tertua di kabupaten Demak dan satu-satunya yang dikelola oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi Jawa Tengah. Sampai saat ini, panti ini memiliki anak asuh sebanyak 50 orang yang terdiri dari 31 laki-laki dan 19 perempuan. Dengan manajemen yang dikelola pemerintah, maka sudah seharusnya panti ini memiliki keistimewaan cara pengaturan dan penyelenggaraan makanan yang mungkin berbeda dengan panti-panti yang lain termasuk di dalamnya adalah upaya mempertahankan dan meningkatkan status gizi anak asuh dengan perbaikan konsumsi energi dan protein.
Bertolak dari latar belakang tersebut di atas, maka penelitian ini akan mencoba untuk mengetahui bagaimana gambaran Tingkat Konsumsi Energi (TKE), Tingkat Konsumsi Protein (TKP) serta status gizi anak asuh di Panti Asuhan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul “Tingkat Konsumsi Energi dan Konsumsi Protein serta Hubungannya dengan Status Gizi Anak Asuh Usia 10-18 Tahun (Studi pada Penyelenggaraan Makanan di Panti Asuhan Pamardi Putra Kabupaten Demak) Tahun 2005.”
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Hubungan Antara Status Gizi Dengan Kejadhan Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Tahun 2006 (IKS-5)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Lembaga Demografi Universitas Indonesia tahun 1985 memperkirakan jumlah lansia di Indonesia dewasa ini mencapai 15 juta jiwa atau sekitar 7,5% dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 19,9 juta jiwa atau sekitar 8,48% dari jumlah penduduk. Jumlah ini akan meningkat lagi pada tahun 2020 menjadi 28,8 juta jiwa atau sekitar 11,34% dari seluruh populasi. Peningkatan jumlah usia lanjut diperkirakan diikuti dengan peningkatan usia harapan hidup dari 59,8 tahun pada tahun 1990 menjadi 71,1 tahun pada tahun 2020 (Depkes RI 2003:1).

Berbagai pihak menyadari bahwa jumlah warga lansia di Indonesia yang semakin bertambah akan membawa pengaruh besar dalam pengelolaan masalah kesehatannya. Golongan usia lanjut ini akan memberikan masalah kesehatan khusus yang membutuhkan pelayanan kesehatan tersendiri mulai dari gangguan mobilitas alat gerak sampai pada gangguan jantung (M.N.Bustan 1997:114).
Lima peny`kit utama yang banyak diderita oleh penduduk usia lanjut di Indonesia adalah anemia dengan persentase sebesar 50%, penyakit kardiovaskuler memiliki persentase sebesar 29,5%, infeksi saluran pernafasan sebesar 12,2%, penyakit kanker memiliki persentase sebesar 12,2% dan TBC memiliki persentase sebesar 11,5% (Depkes RI 2003:2).


Pada tahun 1995, WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa di dunia penyakit kardiovaskuler merupakan sebab kematian terbesar pada populasi usia 65 tahun ke atas dengan jumlah kematian lebih banyak di negara berkembang. Diperkirakan penyakit kardiovaskuler merupakan 50% sebab kematian di negara industri maju dan ¼ kematian di negara berkembang (Boedhi Darmojo 2006:262)
Indonesia sendiri telah mengalami pergeseran penyakit, dari penyakit menular menjadi penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung. Menurut survei kesehatan rumah tangga, prevalensi penyakit kardiovasuler menduduki urutan ke-10 pada tahun l980 dengan prevalensi sebesar 5,2% dan meningkat menjadi sebesar 6,3% diurutan ke-8 pada tahun 1986 (peningkatan kurang lebih
21,2%). Prevalensi sebagai penyebab kematian juga meningkat. Pada tahun 1980 penyakit kardiovaskuler menempati peringkat ke-3 dengan persentase sebesar
9,9%, peringkat ke-2 pada tahun 1986 dengan persentase sebesar 9,7% dan peringkat pertama pada tahun 1990 dengan persentase sebesar 16,5% (Sarwono Waspadji, dkk 2003:41).

Penyakit kardiovaskuler yang paling banyak dijumpai pada usia lanjut adalah penyakit jantung koroner, hipertensi, penyakit jantung pulmonik. Hipertensi merupakan faktor risiko penting bagi penyakit kardiovaskuler yang lain. Dahulu hipertensi pada lansia pernah diabaikan karena dianggap bukan masalah, tetapi sekarang telah diakui bahwa hipertensi pada lansia memegang peranan besar sebagai faktor risiko baik untuk jantung maupun otak yang berakibat pada munculnya stroke dan penyakit jantung koroner (Boedhi Darmojo 2006:275).

Oleh karena itu untuk menurunkan angka morbiditas dan angka mortalitas karena penyakit kardiovaskuler adalah dengan memperbaiki keadaan hipertensi (M.N. Bustan 1997:31).

Sebuah studi epidemiologi membuktikan bahwa obesitas merupakan ciri khas pada populasi pasien yang hipertensi. Dibuktikan juga bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan timbulnya hipertensi dikemudian hari (Slamet Suyono, 2001:458). Hasil survei Indeks Massa Tubuh (IMT) tahun 1995 sampai pada tahun 1997 di 27 ibukota propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih mencapai 6,8% pada laki-laki dewasa dan 13,5% pada perempuan dewasa. Meskipun angka tersebut tidak menunjukkan secara langsung jumlah lansia yang obesitas, namun penelitian Monica pada tahun 1994 menunjukkan bahwa hipertensi didapati pada 19,9% lansia yang gemuk dan
29,8% pada lansia yang obesitas (Azrul Azwar 2004).

Keadaan berat badan berlebih sering dijumpai pada lansia. Peningkatan jumlah lemak pada lansia ini dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan makanan. Penurunan fungsi hormon tertentu (estrogen dan progesterone) juga akan mempengaruhi metabolisme lemak. Peningkatan jumlah lemak akan meningkatkan beban jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tekanan darah cenderung lebih tinggi sehingga timbul hipertensi (Emma S. Wirakusumah 2000:36).

Pada tahun 2004 rata-rata kasus penyakit hipertensi di Jawa Tengah adalah 9.800,54 kasus (Dinkes Prop. Jateng 2004). Di Kabupaten Rembang pada tahun 2005 berdasarkan hasil surveilens penyakit tidak menular hipertensi merupakan penyakit yang menempati urutan pertama dengan jumlah kasus sebesar 7.064 kasus yang dibedakan sebanyak 5.102 kasus hipertensi essensial dan 1.962 kasus hipertensi lain. Jumlah kasus terbanyak hipertensi essensial terdapat pada kelolpok usia dewasa. Pada golongan umur 45 tahun sampai dengan umur 64 tahun dengan kasus sebanyak 2.848 kasus dan 1.400 kasus pada golongan umur
65 tahun keatas (DKK Rembang 2005).

Pada tahun 2005, di Kecamatan Rembang berdasarkan hasil rekapitulasi kegiatan Posyandu Lansia yang dilaporkan kepada UPT P4K (Unit Pelaksana Teknis Pusat Pemberantasan Penyakit dan Promosi Kesehatan) wilayah Rembang menunjukkan bahwa hipertensi merupakan keluhan utama para lansia. Jumlah lansia peserta posyandu lansia sebanyak 1.592 di wilayah Kecamatan Rembang terdapat 238 lansia yang menderita hipertensi, sedangkan untuk keadaan status gizi lansia berdasarkan Indeks Massa Tubuh menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki status gizi normal dengan jumlah sebanyak 1.186 orang, lansia yang memiliki status gizi kurang berjumlah 215 orang dan lansia dengan status gizi lebih berjumlah 191 orang.


Uraian di atas merupakan latar belakang yang membuat penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai indikator status gizi dengan kejadian hipertensi pada kelompok lansia di wilayah Kecamatan Rembang, sehingga penulis memberi judul untuk penelitian ini adalah “HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG TAHUN 2006”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Contoh Skripsi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Kesehatan adalah hal yang penting bagi setiap manusia karena dengan tubuh yang sehat kita dapat melakukan segala kegiatan. Tapi tak hanya dibutuhkan tubuh yang sehat dalam kehidupan ini, juga jiwa yang sehat. Untuk memiliki itu semua kita harus menjaga keseimbangan hidup kita dan menerapkan pola hidup sehat baik lahir maupun batin.

Membuat skrispi kesehatan dapat mengambil judul tema yang tengah terjadi di masyarakat atau tentang penyakit-penyakit yang ada di masyarakat. Banyak kasus penyakit yang terjadi akhir-akhir ini dan belum ditemukan pengobatan yang maksimal, misalnya HIV/AIDS, penyakkit lupus dan lain-lain.

Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.

Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul skripsi kesehatan masyarakat, lagi mencari contoh skripsi kesehatan masyarakat gratis. mudah-mudahan contoh skripsi ini dapat membantu anda dalam membuat skripsi kesehatan masyarakat yang anda jalani.

Berikut Contoh Skripsi kesehatan masyarakat Lengkap. Klik Judulnya untuk melihat isinya. 

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Karakteristik Tenaga Kesehatan Dalam Pelaksanaan Askes Di Puskesmas Camming Kecamatan Libureng Kabupaten Bone (IKS-4)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar belakang
    Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional karenanya merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Pembangunan kesehatan di Indonesia dilaksanakan dalam suatu Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang unsur-unsurnya terdiri dari individu /perorangan, keluarga, masyarakat, pemerintah (sektor kesehatan dan non kesehatan) dan swasta (SKN, 1992).

    Salah satu sektor yang sangat esensial adalah pengembangan di bidang kesehatan, karena sektor kesehatan sangat mempengaruhi sektor pembangunan lainnya. Oleh karena itu dalam konsep pembangunan nasional ditentukan perlunya pembangunan yang berwawasan kesehatan, kebijakan ini tentu sangat relefan dengan posisi Indonesia dengan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia berada pada urutan 110 dari 117 negara (UNDP,2002).


    Dalam PP No. 32 tahun 1996 pasal 15 mengatakan bahwa dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat , pemerintah dapat mewajibkan tenaga kesehatan untuk di tempatkan pada sarana kesehatan tertentu untuk jangka waktu tertentu. (Yaslis Ilyas,2000).

    Sistem Kesehatan Nasional (SKN) menegaskan bahwa pembiayaan upaya kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat temasuk swasta dan perorangan. Pembiayaan tersebut dapat bersumber antara lain dari dan bersama masyarakat yang dikembangkan atas dasar gotong-royong dan kekeluargaan. Pendekatan ini berintikan suatu sistem penyelenggaraan pembiayaan pemeliharaan kesehatan secara pra-upaya (pre-paid health care) yang tidak lain adalah konsep dana pra upaya kesehatan masyarakat (Amran Rasak,2000).

    Untuk menjamin meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui pemerataan dan peningkatan mutu upaya kesehatan serta pengendalian pembiayaan kesehatan yang penuh tantangan (UU Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992 pasal 66).

    Secara sederhana masalah pokok pembiayan kesehatan antara lain disebabkan karena kurangnya dana yang tersedia, penyediaan yang sesuai, pemamfaatan dana yang tidak tepat, pengelolan dana yang belum sempurna, serta biaya kesehatan yang makin meningkat (Azrul Azwar, 1996).

    Hingga saat ini pemerintah selalu berperan sebagai motor penggerak utama pembangunan kesehatan, namun sejak beberapa tahun akhir-akhir ini telah nampak peran serta masyrakat dalam pembangunan kesehatan berdasarkan data Depertemen Kesehatan bahwa total pembiayaan pemeliharaan kesehatan yang berasal dari masyarakat sebesar 70 % dan hanya 30 % yang berasal dari pemerintah, hal ini sesui dengan peran yang diharapkan oleh sistem kesehatan nasional (Depkes RI,1997).

    Pada tahun 1968 yang mengatur hak dan kewajiban peserta (Pegawai Negeri Sipil, penerima pensiun, dan anggota keluarganya) yang disertai berbagai pembahasan-pembahasan. Dalam pembiayaan pegawai, gaji mereka dipotong 2 persen sebagai dana pra upaya pemeliharaan kesehatan. Sedangkan administrasinya dilakukan oleh suatu badan khusus yang ditunjuk Depertemen Kesehatan dalam hal ini Badan Penyelenggara Dana Pemeliharaan Kesehatan (BPDPK) atau PT. (Persero) Asuransi Kesehatan.
    Secara real, peserta asuransi kesehatan PT. (Persero) Askes Indonesia yang pegawai negeri berjumlah 13.822.400 dan peserta sukarela 1.217.616 di tahun 2003 (Buletin info askes, 2004) . Di Propinsi Sulawesi selatan data pesertaa askes sosial berjumlah 685.051, di Kabupaten Bone jumlah peserta askes sebanyak 29.252 (PT. Persero Askes IX Makassar, 2004) khusus di Puskesmas Camming Kecematan Libureng Kabupaten Bone jumlah peserta askes sebanyak 76 orang.

    Peraturan Pemerintah R.I No. 6 tahun 1992 tentang Perubahan Pelaksanaan dan Status Perum Husada Bhakti menjadi PT. (Persero) askes Indonesia yang dalam hal ini bertanggung jawab terhadap peningkatan pelayanan kesehatan bagi pegawai negeri sipil serta anggota keluarganya, vetran dan perintis kemerdekaan serta perluasan kepesertaan askes (Vuluntary) tidak mempunyai fasilitas-fasilitas kesehatan sendiri, oleh karena itu digunakanlah fasilitas kesehatan yang telah dikembangkan pemerintah atau fasilitas kesehatan milik swasta yang di tunjuk.

    Pelayan kesehatan yang baik dari segi pelayanan kedokteran maupun pelayan kesehatan masyarakat harus memiliki syarat pokok kesehatan yaitu tersedia dan berkesinambungan, dapat diterima dengan wajar, mudah dicapai, mudah dijangkau dan bermutu. (Azwar, 1996).

    Berdasarkan hal tersebut di atas mengenai standard pelayanan kesehatan yang baik maka dalam penelitian ini, peneliti akan mencoba melihat bagaimana standar pelayanan dalam hal ini pelaksanaan asuransi kesehatan yang ada di Puskesmas Camming Kecematan Libureng Kabupaten Bone, yang dapat dilihat dari berbagai aspek yang merupakan inti pelaksana pelayanan kesehatan yaitu petugas kesehatan kita akan melihat dari kemampuan yang dimiliki oleh petugas yaitu dari aspek masa kerja, pendidikan, pelatihan, dan sikap petugas.

    Masa kerja merupakan jangka waktu seseorang bekerja pada suatu organisasi, berarti semikin lama orang bekerja, berarti semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki, sehingga produktivitas kerja dengan mudah ditingkatkan dan juga menggunakan waktu kerja produktif sangat baik. (Yaslis Ilyas 1999).
    Pendidikan adalah segala usaha untuk membina dan mengembangkan kemampuan jasmani dan rohani yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luar sekolah dalam rangka Pembangunan Nasional yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. (Atmodiro, 2000).

    Pelatihan sebagai salah satu tindakan pemberian pemahaman dan pengetahuan bagi petugas terhadap pekerjaannya, maka pelatihan ini dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagai keterampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu dalam waktu relatif singkat. Disamping itu pelatihan juga bertujuan mempersiapkan tenaga kerja untuk masa yang akan datang. Jadi dengan pemberian pelatihan, pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat waktu.

    Pengertian sikap biasanya berhubungan dengan suatu obyek. Sikap dapat memberikan penilaian (menerima atau menolak) tehadap obyek yang dihadapai. Sikap tidak dapat diamati secar langsung, sikap harus diduga dari pernyataan. Persyaratan dan tindakan-tindakan. Sikap menunjuk bukan pada tingkah laku itu sendiri melainkan kepada perangkat atau kecenderungan reaksi yang diungkapkan dalam keberaturan berpolanya tingkah laku (Wiseso, 1987).

    Dilihat pada Puskesmas Camming Kecamatan Libureng Kabupaten Bone mengenai pelaksanaan asuransi kesehatan belum maksimal yaitu adanya keluhan peserta menganai lamanya prosedur pelayanan dari segi administrasi, sehingga peserta lama menunggu dalam pemberian pelayanaan, dari segi pelayanan, peserta lama menunggu dibandingkan dengan pasien umum. (keluhan masyarakat).

    Dari masalah tersebut diatas maka peneliti akan mencoba melihat bagaimana pelaksanaan asuransi kesehatan yang selama ini dilaksanakan di Puskesmas Camming Kecamatan Libureng Kabupaten Bone.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    HUBUNGAN MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFATAN KARTU SEHAT OLEH GAKIN DI DESA TENGARAJA PADA PELAYANAN PUSKESMAS (IKS-02)

    HUBUNGAN MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFATAN KARTU SEHAT OLEH GAKIN DI DESA TENGARAJA PADA PELAYANAN PUSKESMAS SUNGAI GUNTUNG KECAMATAN KETEMAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR TAHUN 2007

    KODE : IKS-02

    BAB I
    PENDAHULUAN


    1.1 Latar Belakang
    Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan yang optimal. Untuk melaksanakan hal tersebut telah dirumuskan 6 program pokok pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan masyarakat (Depkes RI, 2002:18).

    Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia WHO (1948) dalan Depkes RI (2005: 15), Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar masyarakat terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.


    Selama lima dekade, pembangunan kesehatan dilaksanakan melalui pengembangan dan perluasan jaringan pelayanan kesehatan agar berada sedekat mungkin dengan penduduk yang membutuhkannya. Perubahan pola penyakit yang menimbulkan beban ganda, perkembangan teknologi kesehatan dan kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis pembayaran out of pocket, dan subsidi pemerintah untuk semua lini pelayanan, membawa ketimpangan dalam pelayanan kesehatan dan mendorong peningkatan biaya kesehatan. Krisis moneter yang terjadi sekitar tahun 1997 telah meningkatkan jumlah penduduk miskin dan meningkatkan biaya kesehatan berlipat ganda, sehingga menekan akses penduduk, terutama penduduk miskin, terhadap pelayanan kesehatan (Depkes RI, 2005: 45).

    Untuk mengatasi hal tersebut berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. Sejak tahun 1998, pemerintah melaksanakan beberapa upaya pemeliharaan kesehatan penduduk miskin. Dimulai dengan pengembangan Program Jaring Pengaman Sosial (JPS-BK) tahun 1998-2001, Program Dampak Pengurangan Subsidi Energi (PDPSE) tahun 2001 dan Program Kompensasi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Tahun 2002-2004. Pada awal tahun 2005, melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/Menkes /XI/2004 menetapkan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM), melalui pihak ketiga, dengan menunjuk PT Askes (Persero). Sasaran awal mengacu pada data BPS 2004 adalah sebesar 36.146 jiwa (Depkes. RI, 2005: 7).

    Puskesmas sebagai penanggung jawab harus mengetahui situasi dan kondisi penduduk di wilayah kerja, termasuk keluarga miskin. Pemberian pelayanan gratis bagi keluarga miskin sudah dilakukan sejak lama oleh puskesmas, namun sejak dikeluarkan program jaring pengaman sosial bidang kesehatan, pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dengan kartu sehat menjadi lebih intensif dilaksanakan karena adanya dana khusus yang disalurkan langsung kepada kepala puskesmas dan bidan desa (Depkes. RI, 2001: 15).

    Tujuan dari kartu sehat ini adalah untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat miskin dalam memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dipungut biaya, dimana selama ini merupakan salah satu faktor penentu tidak terjangkaunya pelayanan bagi keluarga miskin. Dengan demikian diharapkan pemerataan pelayanan kesehatan secara bertahap dapat diwujudkan terutama dikalangan keluarga tidak mampu (Depkes RI, 2003:55).
    Paket pemeliharaan kesehatan adalah kumpulan upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau badan penyelenggara untuk kepentingan peserta / keluarga dan anggota keluarganya. Paket pemeliharaan kesehatan terdiri-dari paket pemeliharaan kesehatan dasar (pelayanan dasar, pelayanan rawat jalan, rawat inap, gawat darurat) dan paket pemeliharaan kesehatan (Depkes RI, 2003:55).
    Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hilir sampai akhir Desember 2005, telah menyebarkan kartu sehat sebanyak 176.777 kartu pada keluarga miskin yang berada di tujuh kecamatan, sementara keluarga miskin yang memanfaatkan kartu sehat baru 66.471 KK (37,75%) artinya tidak semua keluarga miskin yang memanfatkan kartu sehat. Akibatnya dana JPSBK masih banyak yang belum dimanfaatkan (Dinkes Indragiri Hilir, 2005).

    Berdasarkan survey awal terhadap 10 orang Gakin di Desa Tengaraja wilayah kerja Puskesmas Sungai Guntung didapatkan informasi bahwa sebanyak 7 orang Gakin (70%) merasa tidak puas dengan pelayanan kesehatan yang diberikan, makanya mereka tidak lagi menggunakan kartu sehat tersebut dan 3 orang Gakin (30%) merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang diberikan.
    Berdasarkan faktor di atas, masih rendahnya pemanfaatan kartu sehat oleh gakin diduga berhubungan dengan kehadalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik terhadap pelayanan kartu sehat sebanyak 70%.
    Sehubungan dengan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan mutu pelayanan dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2007”.

    1.2 Perumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang di atas, adapun perumusan masalah dalam penelitian ini hubungan mutu pelayanan dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2007.

    1.3 Tujuan Penelitian
    1.3.1 Tujuan Umum
    Untuk mengetahui hubungan mutu pelayanan dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Tahun 2007.

    1.3.2 Tujuan Khusus
    a. Diketahuinya pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    b. Diketahuinya kehandalan (Reliability) pelayanan yang diberikan petugas kesehatan di Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    c. Diketahuinya empati (Empathy) yang diberikan petugas kesehatan di Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    d. Diketahuinya bukti fisik (Tangible) yang diberikan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    e. Diketahuinya daya tanggap (Respinsivences) yang diberikan petugas kesehatan di Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    f. Diketahuinya jaminan (Asurance) yang diberikan petugas kesehatan di Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    g. Diketahui hubungan kehandalan (Reliability) dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    h. Diketahui hubungan empati (Empathy) dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    i. Diketahui hubungan bukti fisik (Tangible) dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    j. Diketahui hubungan daya tanggap (Respinsivences) dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.
    k. Diketahui hubungan jaminan (Asurance) dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir Riau Tahun 2007.

    1.4 Manfaat Penelitian
    1.4.1 Manfaat bagi peneliti adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti sendiri tentang kartu sehat program PKPS BBM Bindkes Program Kompensasi Pengarangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Bidang Kesehatan.
    1.4.2 Bagi Institusi terkait, penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi pelaksanaan program kartu sehat yang perlu bagi perbaikan mekanisme pelaksanaan program kartu sehat di keluarga miskin.
    1.4.3 Sebagai bahan masukan atau bacaan bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat khususnya dan mahasiswa Unbrah pada umumnya.
    1.4.4 Sumbangan data dasar yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut, khusus dalam program pengembangan pelayanan kesehatan bagi Gakin.

    1.5 Ruang Lingkup Penelitian
    Berhubung dengan keterbatasan peneliti, maka penelitian ini hanya membahas tentang hubungan mutu pelayanan dengan pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin di Desa Tengaraja pada Pelayanan Puskesmas Sungai Guntung Kecamatan Kateman Kabupaten Indragiri Hilir meliputi variabel independent yaitu kehadalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan pertugas kesehatan dan variabel dependen adalah pemanfaatan kartu sehat oleh Gakin.


    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Hubungan Antara Status Gizi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Tahun 2006 (IKS-3)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Lembaga Demografi Universitas Indonesia tahun 1985 memperkirakan jumlah lansia di Indonesia dewasa ini mencapai 15 juta jiwa atau sekitar 7,5% dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 19,9 juta jiwa atau sekitar 8,48% dari jumlah penduduk. Jumlah ini akan meningkat lagi pada tahun 2020 menjadi 28,8 juta jiwa atau sekitar 11,34% dari seluruh populasi. Peningkatan jumlah usia lanjut diperkirakan diikuti dengan peningkatan usia harapan hidup dari 59,8 tahun pada tahun 1990 menjadi 71,1 tahun pada tahun 2020 (Depkes RI 2003:1).

    Berbagai pihak menyadari bahwa jumlah warga lansia di Indonesia yang semakin bertambah akan membawa pengaruh besar dalam pengelolaan masalah kesehatannya. Golongan usia lanjut ini akan memberikan masalah kesehatan khusus yang membutuhkan pelayanan kesehatan tersendiri mulai dari gangguan mobilitas alat gerak sampai pada gangguan jantung (M.N.Bustan 1997:114).


    Lima penyakit utama yang banyak diderita oleh penduduk usia lanjut di Indonesia adalah anemia dengan persentase sebesar 50%, penyakit kardiovaskuler memiliki persentase sebesar 29,5%, infeksi saluran pernafasan sebesar 12,2%, penyakit kanker memiliki persentase sebesar 12,2% dan TBC memiliki persentase
    sebesar 11,5% (Depkes RI 2003:2).

    Pada tahun 1995, WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa di dunia penyakit kardiovaskuler merupakan sebab kematian terbesar pada populasi usia 65 tahun ke atas dengan jumlah kematian lebih banyak di negara berkembang.

    Diperkirakan penyakit kardiovaskuler merupakan 50% sebab kematian di negara industri maju dan ¼ kematian di negara berkembang (Boedhi Darmojo 2006:262)
    Indonesia sendiri telah mengalami pergeseran penyakit, dari penyakit menular menjadi penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung. Menurut survei kesehatan rumah tangga, prevalensi penyakit kardiovasuler menduduki urutan ke-10 pada tahun l980 dengan prevalensi sebesar 5,2% dan meningkat menjadi sebesar 6,3% diurutan ke-8 pada tahun 1986 (peningkatan kurang lebih
    21,2%). Prevalensi sebagai penyebab kematian juga meningkat. Pada tahun 1980 penyakit kardiovaskuler menempati peringkat ke-3 dengan persentase sebesar
    9,9%, peringkat ke-2 pada tahun 1986 dengan persentase sebesar 9,7% dan peringkat pertama pada tahun 1990 dengan persentase sebesar 16,5% (Sarwono Waspadji, dkk 2003:41).

    Penyakit kardiovaskuler yang paling banyak dijumpai pada usia lanjut adalah penyakit jantung koroner, hipertensi, penyakit jantung pulmonik. Hipertensi merupakan faktor risiko penting bagi penyakit kardiovaskuler yang lain. Dahulu hipertensi pada lansia pernah diabaikan karena dianggap bukan masalah, tetapi sekarang telah diakui bahwa hipertensi pada lansia memegang peranan besar sebagai faktor risiko baik untuk jantung maupun otak yang berakibat pada munculnya stroke dan penyakit jantung koroner (Boedhi Darmojo 2006:275).

    Oleh karena itu untuk menurunkan angka morbiditas dan angka mortalitas karena penyakit kardiovaskuler adalah dengan memperbaiki keadaan hipertensi (M.N. Bustan 1997:31).

    Sebuah studi epidemiologi membuktikan bahwa obesitas merupakan ciri khas pada populasi pasien yang hipertensi. Dibuktikan juga bahwa faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan timbulnya hipertensi dikemudian hari (Slamet Suyono, 2001:458). Hasil survei Indeks Massa Tubuh (IMT) tahun 1995 sampai pada tahun 1997 di 27 ibukota propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih mencapai 6,8% pada laki-laki dewasa dan 13,5% pada perempuan dewasa. Meskipun angka tersebut tidak menunjukkan secara langsung jumlah lansia yang obesitas, namun penelitian Monica pada tahun 1994 menunjukkan bahwa hipertensi didapati pada 19,9% lansia yang gemuk dan
    29,8% pada lansia yang obesitas (Azrul Azwar 2004).

    Keadaan berat badan berlebih sering dijumpai pada lansia. Peningkatan jumlah lemak pada lansia ini dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan makanan. Penurunan fungsi hormon tertentu (estrogen dan progesterone) juga akan mempengaruhi metabolisme lemak. Peningkatan jumlah lemak akan meningkatkan beban jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya tekanan darah cenderung lebih tinggi sehingga timbul hipertensi (Emma S. Wirakusumah 2000:36).

    Pada tahun 2004 rata-rata kasus penyakit hipertensi di Jawa Tengah adalah
    9.800,54 kasus (Dinkes Prop. Jateng 2004). Di Kabupaten Rembang pada tahun
    2005 berdasarkan hasil surveilens penyakit tidak menular hipertensi merupakan
    penyakit yang menempati urutan pertama dengan jumlah kasus sebesar 7.064 kasus yang dibedakan sebanyak 5.102 kasus hipertensi essensial dan 1.962 kasus hipertensi lain. Jumlah kasus terbanyak hipertensi essensial terdapat pada kelompok usia dewasa. Pada golongan umur 45 tahun sampai dengan umur 64 tahun dengan kasus sebanyak 2.848 kasus dan 1.400 kasus pada golongan umur
    65 tahun keatas (DKK Rembang 2005).

    Pada tahun 2005, di Kecamatan Rembang berdasarkan hasil rekapitulasi kegiatan Posyandu Lansia yang dilaporkan kepada UPT P4K (Unit Pelaksana Teknis Pusat Pemberantasan Penyakit dan Promosi Kesehatan) wilayah Rembang menunjukkan bahwa hipertensi merupakan keluhan utama para lansia. Jumlah lansia peserta posyandu lansia sebanyak 1.592 di wilayah Kecamatan Rembang terdapat 238 lansia yang menderita hipertensi, sedangkan untuk keadaan status gizi lansia berdasarkan Indeks Massa Tubuh menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki status gizi normal dengan jumlah sebanyak 1.186 orang, lansia yang memiliki status gizi kurang berjumlah 215 orang dan lansia dengan status gizi lebih berjumlah 191 orang.

    Uraian di atas merupakan latar belakang yang membuat penulis tertarik untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) sebagai indikator status gizi dengan kejadian hipertensi pada kelompok lansia di wilayah Kecamatan Rembang, sehingga penulis memberi judul untuk penelitian ini adalah “HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KECAMATAN REMBANG KABUPATEN REMBANG TAHUN 2006”.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PENGEMUDI TAKSI BLUE BIRD GROUP POOL WARUNG BUNCIT JAKARTA SELATAN (IKS-01)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Dalam sebuah laporan berita di beberapa media komunikasi beberapa bulan lalu, di tuliskan bahwa saat ini, Indonesia merupakan negara dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja terburuk jika bandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, berita tersebut di laporkan oleh ILO atau Humas Organisasi Buruh Dunia dalam peringatan hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja, hal ini dikemukakan berdasarkan tragedi kecelakaan akibat kerja yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu, dimana tragedi tersebut sedikitnya telah menyebabkan empat orang meninggal dan lebih dari 50 luka-luka akibat ledakan yang menghancurkan pabrik petrokimia serta adanya ledakan dan kebakaran lainnya di pabrik-pabrik gas dan metal 1.

    Begitu pula dengan status keselamatan dan kesehatan kerja transportasi di Indonesia, sebagai negara yang berpeluang besar untuk berkembang, tercatat kecelakaan transportasi darat di Indonesia juga sangat menonjol, hal ini dinyatakan melalui data kecelakaan lalu lintas yang pada tahun 1998 saja membawa korban 11.778 orang tewas.

    Tercatat sampai saat ini beberapa tayangan kecelakaan transportasi, di beberapa media komunikasi di Indonesia begitu banyak dan selalu ada setiap harinya, belum lagi data kecelakaan kerja yang di miliki oleh PT. Jasa Marga di sepanjang tahun ini 2.
    Sepanjang tahun 2000 sudah banyak kejadian kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia, mulai dari kasus terbesar sampai kasus yang terkecil, kasus kecelakaan besar misalnya terbakarnya bus giri indah jawa tengah yang menyebabkan 26 penumpangnya tewas terpanggang, begitu juga dengan data yang dimiliki oleh IRD Rumah Sakit Dr.soetomo bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian terbesar, yakni 49%, melebihi penyakit infeksi yang hanya 15% serta penyakit-penyakit lainnya, padahal selama ini penyebab kematian terbesar adalah penyakit infeksi. 3
    Tercatat dalam data Kepolisian RI pada tahun 2003 jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian dengan jumlah kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.694 luka ringan, dengan data itu rata-rata setiap hari terjadi 40 kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia. dan setiap tahunnya rata-rata 30.000 nyawa melayang di jalan raya, maka dengan angka setinggi itu, saat ini Indonesia duduk di peringkat ke-3 negara di ASEAN yang jumlah kecelakaan lalu lintasnya paling tinggi,
    sehingga pemerintah menyatakan bahwa kecelakaan lalu lintas digolongkan sebagai pembunuh nomor 3 di Indonesia,” Sekadar diketahui bahwa penyebab kematian nomor 1 dan 2 adalah penyakit jantung dan stroke. 4
    Data Departemen Perhubungan menyebutkan mayoritas penyebab utama kecelakaan lalu lintas adalah kondisi kendaraan yang tidak layak jalan dan kelelahan fisik pengemudi, dan penyebab yang biasa terjadi dalam kecelakaan lalu lintas adalah karna faktor manusia yaitu pengemudi kendaraan itu sendiri.5
    Indonesia telah memiliki undang-undang yang mengatur lalu lintas yaitu UU RI no.14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya, didalam pasal 3 UU tersebut berbunyi “Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien, mampu memadukan transportasi lainnya, menjangkau seluruh pelosok wilayah daratan, untuk menunjang pemerataan, pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong, penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat”, namun yang menjadi masalah, mengapa kasus-kasus kecelakaan tersebut masih terus terjadi, malah sering muncul kecelakaan-kecelakaan besar? 6
    Dr. Suma’mur dalam buku nya yang berjudul “Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan”, mengelompokkan kecelakaan menjadi 3 yaitu, kecelakaan akibat kerja di perusahaan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan dirumah, sehingga dapat dikatakan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan bagian dari kecelakaan kerja.7
    Abdul Rahim Tualeka dalam artikelnya berjudul “kecelakaan lalu lintas” yang dimuat dalam Jurnal Bina Diknakes edisi 39 mengatakan bahwa sumber penyebab dasar dalam timbulnya resiko kecelakaan kerja dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu Unsafe Condition antara lain, standar kerja yang kurang baik, standar perencanaan yang kurang tepat, standar perawatan yang kurang tepat, standar pembelian yang kurang tepat, pemakaian abnormal, dan Unsafe Human Act yaitu kurangnya pengetahuan, kurang keterampilan, motivasi kurang baik, masalah fisik dan mental . 8
    Berdasarkan pernyataan-pernyataan sebelumnya, dimana angka kecelakaan akibat kerja khususnya kecelakaan lalu lintas di Indonesia relatif tinggi, serta berdasarkan sumber baca yang menyatakan bahwa sumber penyebab dasar terjadinya kecelakaan adalah karna Unsafe Condition dan Unsafe Human Act, penulis berinisiatif mengetahui lebih jauh dengan mencoba mencari kebenaran secara empiris mengenai hubungan perilaku kerja dengan kecelakaan kerja, dan menuliskannya dalam bentuk skripsi dengan judul “Hubungan Perilaku Kerja Pada Pengemudi Taksi Blue Bird Dengan Kecelakaan Kerja Di Pool Warung Buncit Blue Bird Group Jakarta Selatan”.
    Diluar dari hal tersebut melalui keterbatasan yang penulis miliki, pengemudi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pengemudi taksi dan kecelakaan kerja yang dimaksud adalah kecelakaan lalu lintas.

    B. Identifikasi Masalah
    Pada dasarnya setiap jenis pekerjaan memiliki resiko kecelakaan kerja yang berbeda-beda, baik dalam bidang industri maupun bidang transportasi dan sebagai salah satu perusahaan di Indonesia yang bergerak dibidang transportasi, yang memiliki lebih dari 14.000 ribu kendaraan di beberapa kota dengan berbagai jenis kendaraan ini, maka para pengemudi Blue Bird Group juga memiliki potensi mengalami kecelakaan kerja yaitu kecelakaan lalu lintas, Beberapa penyebab kecelakaan tersebut pada dasarnya adalah karna Unsafe Condition yang berasal dari alat kerja yakni kondisi kesiapan kendaraan dan mesin, serta lingkungan kerja dan Unsafe Human Act yang berasal dari tenaga kerja itu sendiri sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan dan keterampilan, motivasi yang kurang baik, masalah fisik dan mental yang terlihat dalam perilaku tenaga kerja.

    C. Pembatasan Masalah
    Penelitian yang akan diteliti adalah berdasarkan Unsafe Human Act yakni mengenai perilaku tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya yaitu apakah perilaku para pengemudi dalam bekerja memiliki potensi terjadinya kecelakaan kerja yakni kecelakaan lalu lintas, masalah dalam penelitian ini dibatasi pada dua variabel, yakni kecelakaan kerja dan perilaku, pembatasan masalah ini dilakukan agar penelitian dapat dilakukan secara fokus dan lebih mendalam.

    D. Perumusan Masalah
    Masalah tersebut diatas dapat dirumuskan dalam kalimat tanya yang menyangkut variabel bebas dan terikat sebagai berikut.
    “Apakah ada hubungan perilaku dengan kecelakaan kerja pada pengemudi taksi Blue Bird Pool Warung Buncit Jakarta Selatan”.


    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    WordPress Themes