Category: Pendidikan Biologi

Pengaruh Penggunaan Metode Sinergetic Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Biologi Di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin (PBIO-7)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

    Sekolah merupakan wadah dalam melaksanakan pendidikan dan sekaligus bertanggung jawab untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional, Maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertanggung jawab dalam menanamkan dan memberi bekal ilmu pengetahuan, sikap kecakapan dan budi pekerti serta keterampilan yang berguna bagi siswa sebagai individu maupun lingkungan dimana individu itu berada baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Proses pembelajaran merupakan proses yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran berasal dari kata belajar yang mempunyai arti ”suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan nya”.

      

Seorang pendidik mempunyai peranan penting yaitu sebagai tokoh utama dalam keseluruhan proses pendidikan pada umumnya dan dalam proses pembelajaran pada khususnya. Seorang pendidik dalam menciptakan suasana pembelajaran yang baik harus berpedoman kepada kurikulum yang telah ditetapkan. Diantara 5 komponen kurikulum yang telah ditetapkan tersebut yakni sebagai berikut :

1.                  Tujuan.

2.                  Bahan Ajar / Materi Pembelajaran.

3.                  Metode Pembelajaran

4.                  Media Mengajar

5.                  Evaluasi Pembelajaran”.

Berdasarkan 5 komponen ini,maka penulis akan memfokuskan Pembahasan tentang komponen kurikulum yang ketiga, yaitu Metode Pembelajaran.


Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional yang memegang peran sangat penting pada sistim pembelajaran.Wina Sanjaya menyatakan ”Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam suatu kegiatan, agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal”.

Metode memegang peranan yang sangat penting dalam rangkaian sistim pembelajaran, keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Nana sudjana berpendapat ”Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlansungnya pelajaran”.

Metode pembelajaran merupakan teknik penyajian bahan pelajaran kepada siswa dalam kelas, baik secara individu maupun kelompok/klasikal. Metode yang dipilih harus pula memperhatikan tujuan yang ingin dicapai serta sumber-sumber belajar yang ada. Penggunaan metode yang bervariasi tidak lain agar anak didik tidak merasa bosan selama pelajaran berlansung, serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa itu sendiri.

            

Guru memiliki peranan penting dalam Proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, dengan menggunakan Metode Pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Siswa belajar dengan aktif artinya siswa yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dalam  belajar aktif, siswa diajak untuk ikut serta dalam semua proses pembelajaran tidak hanya mental tapi juga fisik. Dengan cara ini siswa akan merasakan suasana menyenangkan  sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Salah satu contoh pembelajaran aktif adalah Metode Sinergetic Teaching. Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat mempermudah siswa untuk memahami pelajaran, meningkatkan ransangan belajar, serta menimbulkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Penelitian awal yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin membuktikan bahwa, ada beberapa mata pelajaran yang sewaktu proses pembelajaran belum menggunakan metode pembelajaran aktif. Siswa hanya diajak untuk mendengarkan guru dalam menyampaikan materi sampai waktu habis. Hal ini menyebabkan siswa kurang fokus mengikuti proses pembelajaran.

Proses pembelajaran seperti ini juga terjadi pada mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin. Siswa tidak begitu antusias mengikuti pembelajaran disebabkan guru tidak menggunakan metode yang bervariasi. Siswa tidak terlihat aktif dalam proses pembelajaran,mereka hanya menerima saja yang disampaikan guru dan hanya sedikit sekali siswa yang mau bertanya ataupun ingin menjawab pertanyaan.

Berdasarkan  informasi yang ditemukan dilapangan tersebut, maka tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Akan tetapi, perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindak Lanjuti ketimpangan yang ada. Salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan metode Sinergetic Teaching pada proses pembelajaran khususnya pada pelajaran biologi.

Metode Sinergetic Teaching merupakan sebuah metode pembelajaran yang menggabungkan dua jenis cara atau teknik belajar yang berbeda dengan membandingkan hasil dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan tersebut. Dalam hal ini peneliti akan menggabungkan dua strategi atau metode yang berbeda pada pelaksanaan proses pembelajaran. Strategi atau metode yang akan peneliti gunakan yaitu metode kelompok belajar (study group) dan metode Latihan (drill). Dengan menggunakan metode Sinergetic Teaching diharapkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar sehingga siswa akan mendapatkan hasil yang lebih baik.Oleh karena itu penulis tertarik untuk menggabungkan kedua metode tersebut kedalam Metode Sinergetic Teaching.

      

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin dengan judul: “PENGARUH PENGGUNAAN METODE SINERGETIC TEACHINGTERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 9 MERANGIN.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Media Animasi Terhadap Penguasaan Konsep Sistem Sirkulasi Pada Siswa Kelas Xi Ipa Sma N 1 Indralaya (PBIO-6)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi modern tentang komputer merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pada bidang pendidikan, pemerintah dan masyarakat umum telah memberikan perhatian yang mendalam tentang kemajuan teknologi modern ini. Teknologi dapat membantu mencapai sasaran dan tujuan pendidikan sehingga proses belajar mengajar akan lebih berkesan dan bermakna (Asra, 2009). Teknologi informasi turut berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Perkembangan teknologi informasi meliputi perkembangan infrastruktur teknologi informasi, seperti hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage), dan teknologi komunikasi (Laudon, 2006 dalamNoviari, 2009). 
Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan komputer merupakan salah satu bagian dari teknologi informasi yang saat ini digunakan oleh para praktisi pendidikian dalam upaya menyajikan materi pelajaran. Komputer sebagai penyedia informasi dirasakan perlu untuk digunakan karena dapat menyajikan informasi dengan baik (Sihombing, 2010). Media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning matterial) yang diterima siswa diperoleh melalui media (Asra, 2009)

 

Media pengajaran yang sedang berkembang untuk saat ini yaitu multimedia. Penggunaan multimedia merupakan kombinasi dari grafik, teks, suara, video, dan animasi. Objek yang tidak dapat dilihat langsung, dapat digantikan dengan penggunaan multimedia yang berupa penayangan teks, grafik, suara, video, dan animasi. Multimedia mengandung unsur komputer. Multimedia memberikan kesempatan untuk belajar tidak hanya dari satu sumber belajar seperti guru, tetapi memberikan kesempatan kepada subjek untuk mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti dalam bentuk gambar dan kata-kata (Saguni, 2006). Media pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan pengalaman belajar ke arah yang lebih konkret. Multimedia sebagai gabungan berbagai jenis media mampu menciptakan suasana belajar yang begitu menarik dan menyenangkan sehingga akan memberikan motivasi belajar yang lebih tinggi dalam diri seswa. Multimedia memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tidak hanya dari guru, tetapi memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Hal ini salah satunya karena informasi disajikan dalam dua atau lebih bentuk seperti gambar dan kata-kata (Puspita, 2008).
Media animasi yang merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Kehadiran media animasi dalam pembelajaran Biologi sangat mendukung proses penyampaian berbagai informasi dari guru ke siswa. Proses-proses biologi yang kompleks dapat dengan mudah dijelaskan kepada siswa, seperti proses fotosintesis, respirasi aerob, dan berbagai proses dalam sistem organ manusia. Pada proses belajar mengajar, siswa sering dihadapkan pada materi yang abstrak dan diluar pengalaman sehari-hari sehingga matri pelajaran sulit diterima dan dipahami oleh siswa. Keistimewaan yang dimiliki oleh animasi intinya untuk memvisualisasikan konsep abstrak yang sulit dipraktekkan dikelas (Sihombing, 2010). 
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Radita (2010) didapatkan bahwa perencanaan penggunaan media pembelajaran dalam silabus dan RPP belum sesuai dengan realisasinya. Media pembelajaran yang sering digunakan terdiri dari 2-3 jenis media antara lain media visual yaitu charta, media benda yaitu model, dan media cetak yaitu LKS. Hanya beberapa guru yang mencantumkan penggunaan media komputer dalam RPP dan silabus. Kendala dalam merealisasikan penggunaan media komputer adalah kurangnya kreativitas guru. Padahal menurut penelitian O’Day (2006) menunjukkan penggunaan media animasi dalam pembelajaran biologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa.
            SMA Negeri 1 Indralaya adalah salah satu SMA yang terdapat di Ogan Ilir. SMA ini memiliki ruang multimedia yang didalamnya terdapat komputer dan LCD yang bisa menunjang proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan peneliti, ruang multimedia ini hanya digunakan oleh guru mata pelajaran komputer, sedangkan guru mata pelajaran lain jarang sekali menggunakan ruang multimedia ini.
Berdasarkan  uraian diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian tentang penggunaan media animasi dalam pembelajaran biologi di kelas XI SMA Negeri I Indralaya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian ”Pengaruh  Media Animasi terhadap Penguasaan Konsep Sistem Sirkulasi pada Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri I Indralaya”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kecakapan Hidup Siswa Pada Materi Prinsip-Prinsip Klasifikasi, Virus, Dan Monera Melalui Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) Dengan Model Iqro Di Man 2 Semarang (PBIO-5)

BAB I 
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang secara teknis-operasional dilakukan melalui pembelajaran. Program pembelajaran yang baik akan menghasilkan efek berantai pada kemampuan peserta didik untuk belajar  secara  terus menerus   melalui  lingkungannya  baik  lingkungan  alam maupun  lingkungan  sosial sebagai sumber  belajar  yang  tak  terbatas.  Melalui proses belajar dari lingkungan, individu dapat menemukan  kembali jati dirinya, dapat  melakukan  sesuatu  yang  baru,  merasakan hubungan  yang  lebih  akrab dengan alam dan sesamanya. Melalui keterampilan belajar akan ditemukan suatu bentuk   keterampilan  khusus  yang  sesuai  bakat  dan  minatnya serta  dapat digunakan sebagai basis untuk memperoleh penghasilan layak.
Keterampilan  khusus  tersebut  adalah  life  skills  yang  diperoleh  melalui keterampilan belajar. Menurut Gredler  dalam Anwar (2004), individu yang sudah memiliki  keterampilan   belajar   dapat   mengarahkan   dirinya   pada   berbagai keterampilan        baru     termasuk   keterampilan kejuruan. Mereka juga dapat mengembangkan kapasitasnya  untuk  memberkati hidup mereka melalui kreativitas sepanjang  masa. Jadi individu yang memiliki keterampilan belajar, akan  mudah  memperoleh  berbagai  keterampilan  lain, termasuk  keterampilan untuk bekerja yang merupakan bagian dari kreativitas kehidupan jangka panjang.
Individu  yang  memiliki  keterampilan  belajar  lebih  optimis  karena  memiliki banyak pilihan, sedangkan individu yang hanya memiliki keterampilan terbatas yang hanya memfokuskan pada satu keterampilan yang spesifik potensial menjadi orang yang pesimistik,  karena tidak memiliki banyak pilihan dan kemampuan transfer ilmu.
Pada kenyataannya menunjukkan bahwa hasil mutu lulusan secara umum yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik, sementara untuk membuka lapangan kerja sendiri para lulusan kependidikan maupun non kependidikan  juga  belum  memiliki  kesiapan  kerja  yang  matang.  Meskipun demikian, kita perlu menyiapkan anak didik agar mampu menghadapi tantangan kerja sekaligus peluang dalam mengisi pembangunan pendidikan di masa depan dengan sistem pembelajaran baru demi  keberhasilan anak didik  dalam proses belajar  mengajar,  Sehingga  pembelajaran  tidak hanya  mengandalkan  aspek kognitif saja, tetapi pembelajaran yang berorientasi pada kecakapan hidup sangat diperlukan  untuk menciptakan generasi bangsa yang siap memasuki dunia kerja dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Sesuai pendapat Mulyasa (2002) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mencantumkan kecakapan hidup sebagai hasil pengalaman belajar siswa,  sehingga dihasilkan siswa yang tidak hanya berprestasi tinggi dilihat dari perolehan angka  dan raportnya tetapi out comenya juga bagus. Nilai Biologi yang bagus seharusnya juga menggambarkan kemampuannya memperlakukan lingkungan seperti menjaga kebersihan, merawat tanaman  dengan  baik. 

Dengan  kemampuan  (skill)  individu  mampu  untuk melakukan  tugas  atau pekerjaan  yang  dibebankan  kepadanya,  sehingga  dapat memecahkan  masalah yang dihadapi seperti menjaga tubuh dari penyakit dan mengetahui penyebabnya serta bagaimana cara mencegahnya. Hal tersebut juga dipertegas   dalam   Depdiknas  (2003) bahwa  pengalaman  belajar  hendaknya memuat kecakapan hidup (life skills) yang harus dimiliki siswa. Menurut Hamalik (2001)  pengajaran  berdasarkan  pengalaman  memberi para  siswa  seperangkat situasi-situasi belajar dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru. MAN 2 Semarang sudah mengikuti  Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) namun belum mencantumkan kecakapan hidup (life  skills) sebagai hasil pengalaman belajar oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat memenuhi tujuan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang salah satunya pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup.

Interaksi antara siswa dengan lingkungannya dalam pembelajaran Biologi merupakan hal  yang  tidak  dapat  dikesampingkan.  Biologi  lebih  dari  sekedar kumpulan fakta atau konsep, karena dalam Biologi juga terdapat kumpulan proses dan nilai yang dapat diaplikasikan  serta dikembangkan dalam kehidupan nyata. Banyak  siswa  yang  tidak dapat   mengembangkan  pemahamannya  terhadap konsep-konsep   Biologi   tertentu  karena   antara   perolehan   pengetahuan   dan prosesnya tidak terintegrasi dengan baik dan tidak memungkinkan  siswa untuk menangkap makna secara fleksibel. Sebagai contoh siswa dapat menghafalkan berbagai   konsep   dan   fakta,   namun   tidak   mampu   menggunakannya   untuk menjelaskan  fenomena dalam kehidupan yang berhubungan dengan konsep dan fakta yang sudah dihafal tersebut. Sebagai konsekuensinya pembelajaran Biologi di sekolah diharapkan mampu  memberikan pengalaman kepada siswa, sehingga memungkinkan siswa melakukan penyelidikan  tentang fenomena Biologi. Jika Biologi hanya diajarkan dengan hafalan, maka siswa yang memiliki pengetahuan awal tentang  berbagai fenomena Biologi tidak dapat menggunakan pengetahuan mereka selama proses  pembelajaran yang dikembangkan guru. Belajar Biologi seharusnya dapat mengakomodir kesenangan dan kepuasan intelektual bagi siswa dalam  usahanya membongkar  dan  memperbaiki  berbagai  konsep  yang  masih keliru. Pembelajaran Biologi akan lebih bermakna jika siswa menemukan sendiri pengetahuannya dengan kegiatan ilmiah seperti merumuskan masalah, menyusun kerangka  berpikir,  menyusun hipotesis,  melakukan  eksperimen,  menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mempublikasikan hasil.
Berdasarkan hasil  wawancara  dengan  guru  Biologi  MAN  2  Semarang kelas X pada tahun ajaran 2004/2005, Pembelajaran Biologi di MAN 2 Semarang pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus dan monera menunjukkan hasil yang kurang memuaskan.  Hasil  belajar siswa  pada materi ini paling rendah dibandingkan  dengan materi  Biologi yang  lain.  Hal  tersebut  disebabkan  oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pembelajaran          yang   dilakukan   menggunakan  metode  ceramah  yang membuat siswa menjadi pasif. Para siswa hanya mendengarkan hal-hal yang   disampaikan  oleh  guru.  Kegiatan  mandiri  dianggap  tidak  ada maknanya, guru  cukup mempelajari materi dari buku, lalu disampaikan kepada  siswa.  Di  sisi  lain,   siswa  hanya  diam  dan  bersikap  pasif. Penggunaan metode ceramah ini hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan.  Menurut                                  Hamalik (2001) Pengajaran efektif             adalah pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri, sehingga menuntut siswa untuk aktif.
2. Materi pelajaran Biologi pada pokok kajian virus dan monera merupakan hal yang  abstrak, sehingga untuk memahaminya diperlukan metode yang tepat, sebagai alternatif pembelajaran melalui Jelajah Alam Sekitar (JAS) dan Iqro diharapkan dapat meminimalisasi tingkat kesulitan belajar. Sesuai pendapat  Ridlo  (2005)  Pendekatan  Jelajah  Alam  Sekitar  (JAS)  dengan model  Iqro  menekankan  pada  kegiatan   pembelajaran  yang  dikaitkan dengan situasi nyata, sehingga selain dapat membuka  wawasan berfikir yang beragam dari seluruh peserta didik, pendekatan ini  memungkinkan peserta  didik  dapat  mempelajari  berbagai  konsep  dan  cara  mengaitkan dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajar lebih berdaya guna bagi kehidupan sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan integritas dirinya. Dengan  pembelajaran ini diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat dan  kecakapan  hidup  (life  skills)  yang  diperlukan  peserta  didik  dalam hidup bermasyarakat dan lingkungan sosialnya dapat tercapai.
3. Berdasarkan pengalaman, bahwa siswa cepat lupa pada materi yang telah diberikan dalam satu konsep, namun melalui model Iqro dengan membaca ciptaan Tuhan yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar diharapkan siswa dapat  memahami  dan  mengingat  materi  pelajaran  dalam  jangka  waktu yang lebih lama, sehingga ilmu yang diperoleh  dapat digunakan dalam hidup  bermasyarakat  dan  lingkungan  sosial.  Menurut   Millieu   dalam Hamalik (2001), Alam sekitar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Pengajaran berdasarkan alam sekitar akan membantu anak didik untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya dan pembelajaran akan lebih berdaya  guna,  sehingga  materi  pelajaran  yang  disampaikan  tidak  cepat usang.

Berdasarkan faktor-faktor  yang  disebutkan  di  atas,  mendorong  penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas (action research) guna menerapkan suatu model pembelajaran yang dapat mendorong siswa lebih berperan aktif dan membantu siswa menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata di sekitarnya serta mampu membaca apa yang diciptakan Tuhan (Iqro). Menurut Smith & Cormack dalam Moleong (2006) penelitian tindakan kelas adalah proses untuk  memperoleh  hasil  perubahan  dan memanfaatkan  hasil  perubahan  yang diperoleh dalam penelitian itu. Penelitian ini berupa penelitian tindakan  kelas dengan  jumlah  kelas  yang  diteliti  hanya  satu  kelas  yaitu  kelas X-B.  Dalam penelitian ini penulis menggunakan model Iqro dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS).  Pembelajaran model Iqro mengajak siswa untuk   mendengarkan suara-suara alam, mengagumi ciptaan Tuhan,      mengekplorasi         lingkungan, menyatukan perasaan  dengan alam sehingga peserta didik tidak hanya mengerti tetapi terasah perasaan personal,  sosial dan seninya (Ridlo, 2005).  
Tujuan dari penerapan model Iqro ini untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa agar siswa lebih mencintai alam, hal ini  dikarenakan siswa kurang mempunyai kepedulian terhadap alam sehingga sering terjadi  kerusakan hutan, banjir dan berbagai masalah lingkungan yang disebabkan kurangnya  kepedulian masyarakat terhadap alam. Model Iqro ini selain mengasah kognitif siswa juga mengasah religius siswa. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) dipilih karena belajar Biologi berarti belajar tentang alam di sekitar kita baik plantae, animalia, fungi,  monera  dan  protista,  sehingga  dapat  menambah  kekaguman  terhadap kebesaran Tuhan dan materi yang dipelajari akan lebih bermakna karena dikaitkan dengan kenyataan yang ada di lingkungan. Dengan  demikian penerapan model Iqro melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus, dan monera diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kecakapan hidup siswa.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Perbedaan Hasil Belajar Antara Pendekatan Kontekstual Dengan Konvensional Pada Sub Konsep Keanekaragaman Hewan Di Kelas Vii Smp Negeri I Sragen Tahun Ajaran 2005/2006 (PBIO-4)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa akan datang. Pendidikan dapat dipahami sebagai suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan dan suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju ke arah kedewasaan. Proses pembelajaran di lingkungan sekolah (pendidikan formal) melibatkan berbagai komponen. Jika salah satu komponen tidak terpenuhi maka proses pembelajaran kurang berhasil. 

Dalam proses pembelajaran biologi melibatkan banyak unsur yang saling berikatan dan menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Unsur-unsur tersebut adalah pendidik (guru), peserta didik (siswa), kurikulum, pengajaran, tes dan lingkungan. Guru dan siswa merupakan subjek pendidikan yang sangat menentukan dalam konteks pengembangan di sekolah. Sebaik apapun kurikulum, jika motivasi guru dan siswa kurang memadai maka proses pembelajaran seperti yang diharapkan tidak akan terjadi.

Pembelajaran yang dilaksanakan dapat diketahui hasilnya dengan diadakan evaluasi hasil belajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Evaluasi hasil belajar bertujuan mengetahui kemajuan-kemajuan dan kelemahan siswa, guru, proses belajar mengajar beserta sebab akibatnya, sehingga siswa dapat mengetahui langkah apa yang akan diambil untuk meningkatkan hasil belajarnya. Dalam proses belajar mengajar dapat digunakan banyak pendekatan pembelajaran. Agar diperoleh hasil yang optimal diperlukan pendekatan yang tepat untuk mengajarkan suatu pengetahuan atau materi sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan sesuai untuk kurikulum 2004. Kompetensi berarti siswa mempunyai pengetahuan, mempunyai keterampilan, dan mempunyai nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Untuk menjadikan siswa yang berkompeten diperlukan pembelajaran yang baik tidak hanya dengan pembelajaran konvensional. Pengajaran biologi kelas VII konsep keanekaragaman hewan bertujuan untuk menerapkan konsep dasar-dasar klasifikasi serta tujuan klasifikasi untuk mengelompokkan makhluk hidup. Pemahaman terhadap konsep keanekaragaman hewan menyangkut ciri-ciri umum vertebrata dan invertebrata, contoh-contoh, bagian-bagian tubuh, serta penggunaan kunci determinasi sederhana. Keanekaragaman hewan meliputi semua hewan vertebrata dan invertebrata terdapat dalam jumlah yang sangat besar dan menunjukkan keanekaragaman yang sangat besar pula. Diperlukan kegiatan klasifikasi yaitu kegiatan pengelompokan dan pemberian nama setiap kelompok yang terbentuk serta memerlukan pendekatan dan media pembelajaran yang sesuai untuk mempermudah mempelajarinya (Suroso,2003).

Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan materi yang diajarkan dengan lingkungan sekitar siswa dan mendorong siswa untuk menghubungkan antara pengetahuan yang mereka peroleh dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dengan konsep ini diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa yaitu mengalami atau mengamati sendiri, tidak hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Anonim, 2002)
Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Sragen ini menunjukkan bahwa pembelajaran masih didominasi ceramah sehingga hasil belajar kurang sesuai dengan apa yang diharapkan, apalagi jika dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan belajar mengajar yang cenderung bersifat hafalan tanpa adanya pemahaman yang baik. Kebanyakan siswa mempunyai kemampuan mengahafalkan materi yang diterima dengan baik tetapi mereka kurang memahami secara lebih dalam apa yang mereka hafalkan. Sebagian besar siswa belum mampu menghubungkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan secara abstrak (hanya membayangkan) tanpa mengalami atau melihat sendiri. Padahal siswa memerlukan konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya karena pembelajaran tidak hanya berupa transfer pengetahuan tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh siswa yang akan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar mereka akan lebih bermakna jika siswa mengalami sendiri apa yang dipelajari daripada hanya mengetahui secara lisan saja.

Berdasarkan nilai ulangan harian biologi yang pertama untuk kelas VII A sampai VII D di SMP N 1 Sragen mempunyai tingkat keaktifan dan hasil belajar masih dibawah standar yaitu 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional). Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata ulangan harian sebesar 6,3 sampai 6,9. Hasil belajar ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan. Proses pembelajaran Biologi yang dilakukan di SMP N 1 Sragen masih didominasi metode ceramah tanpa didukung pendekatan pembelajaran lain atau media pembelajaran yang bervariasi. Proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan dibantu media asli belum pernah dilakukan pada konsep keanekaragaman hewan, sehingga manfaat penggunaan pendekatan kontekstual terhadap peningkatan hasil belajar biologi belum pernah diketahui. 

Hasil belajar siswa yang rendah yaitu dibawah 7,5 (untuk Sekolah Standar Nasional) disebabkan berbagai faktor antara lain : untuk pokok bahasan Keanekaragaman Hewan materi terlalu banyak sehingga sulit dipahami karena terbatasnya media, guru kurang memotivasi siswa karena dalam KBM sebagian besar masih didominasi dengan ceramah sehingga pembelajaran kurang menarik, dalam pembelajaran dengan pendekatan konvensional menyebabkan siswa kurang dilibatkan secara aktif sehingga minat dan motivasi siswa juga kurang, dan pendekatan pembelajaran kurang tepat dan materi kurang mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 

Memadukan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa akan sangat berarti dalam proses pembelajaran. Pembelajaran kontekstual menciptakan kelas yang didalamnya siswa akan terlibat lebih aktif, dan bukan hanya sebagai pengamat yang pasif, sehingga proses belajar siswa akan dapat lebih optimal dan hasil belajar juga meningkat (Anonim, 2002). Penelitian ini difokuskan pada perbedaan hasil belajar antara pendekatan kontekstual dan
pendekatan konvensional pada sub konsep keanekaragaman hewan di kelas VII SMP N 1 Sragen.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Pemberian Tugas Setiap Akhir Pertemuan Terhadap Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas V Pada SD Inpres Buttatianang I Makassar (PBIO-3)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Konsep mengenai pendidikan yang dikembangkan saat ini, merupakan rangkaian upaya manusia Indonesia untuk meningkatkan sumber daya yang akhir-akhir ini santer diperbincangkan sehubungan dengan peningkatan sumber daya manusia pembangunan.
Pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran yang diterapkan di seluruh tanah air, sudah tentu tidak terlepas tuntutan zaman dan kebutuhan pendidikan yang cenderung melibatkan seluruh strata sistem kemasyarakatan dalam suatu proses interaksi dan komunikasi yang berimbang sebagai penjabaran operasional fungsi dan strategi bagi dunia pendidikan. Mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi.

 

Rumusan mengenai sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran senantiasa mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional serta telah ditetepkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara Republik Indonesia dengan ketetapan MPR Nomor II/ MPR/1993, bidang pendidikan bahwa “Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cita tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan”.
Untuk merealisasikan kerangka dasar pendidikan seperti yang telah dipaparkan di atas, tentunya diperlukan upaya maksimal dari berbagai pihak, dalam melihat tugas dan tanggung jawab pendidikan itu, tanpa harus terikat dengan kondisi formal pendidikan semata.
Kiranya perlu dipahami bahwa indikator keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran tentunya tidak hanya terbatas pada sederetan angka-angka prestasi belajar, akan tetapi harus terkait dengan kemampuan seseorang anak didik merefleksikan program belajarnya dalam bentuk aplikasi sikap positif melalui serangkaian aktivitas yang selektif dan efektif. Dalam prestasi yang demikian itu, maka kita dapat memahami bahwa aspek nilai yang ditransfer dalam dunia pendidikan dan pengajaran harus selalu terkait dengan unsur pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diproyeksikan melalui kurikulum dan silabus pengajaran, untuk selanjutnya dioperasionalisasikan melalui kegiatan pengajaran. Diukur dengan menggunakan instrumen test yang tepat.
Kenyataan empiris proses pendidikan dan pengajaran yang dikembangkan berbagai lembaga pendidikan menunjukkan bahwa penerapan pola pendidikan dan pengajaran yang tepat, tampaknya masih kurang mendapat perhatian yang memadai dari tenaga pengajar. Sehingga proses pengajaran cenderung tidak relevan dengan pola pendekatan atau metode pengajaran yang digunakan. Hal ini menyebabkan sisi kualitas pengajaran yang diharapkan kurang terpenuhi. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk melihat efektivitas suatu pendekatan dan metode pengajaran proses belajar mengajar yang dilakukan dapat berhasil guna dan memudahkan bagi siswa dalam memahami suatu disiplin ilmu atau mata pelajaran diterimanya.
Berdasarkan dari pemikiran di atas, penulis dengan segenap kemampuan untuk mencoba melakukan suatu penelitian sekitar penggunaan metode pemberian tugas dalam pengajaran IPA yang oleh penulis diduga meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN IQRO’ GUNA MENINGKATKAN KETERCAPAIAN KECAKAPAN HIDUP SISWA PADA PEMBELAJARAN PRINSIP-PRINSIP KLASIFIKASI, VIRUS, ..(PBIO-2)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan yang sangat pesat terjadi dalam berbagai bidang seperti politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini merupakan ciri/karakter dari dinamika di abad 21 yang merupakan abad informasi. Seiring dengan perubahan tersebut, lembaga pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu mempersiapkan peserta didik agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.


Salah satu cara untuk mengantisipasi perubahan yang pesat tersebut, maka pendidikan yang hanya menekankan pada penanaman konsep (produk) menjadi tidak sesuai lagi. Selain penanaman konsep, pendidikan dewasa ini harus mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan yang berguna untuk menghadapi permasalahan dalam kehidupan. Kecakapan ini sering disebut dengan Life Skills. Dalam kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) telah diupayakan untuk mensinergikan berbagai mata pelajaran dengan kecakapan hidup (Life Skills) sebagai pengalaman belajar. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru MA Al Asror Semarang didapatkan bahwa rata-rata nilai harian siswa kelas X pada materi virus dan
monera masih rendah. Nilai harian siswa pada tahun 2003/2004 dan tahun
2004/2005 secara klasikal <6,5. Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa aktivitas siswa rendah dan siswa cenderung pasif. Hal ini dimungkinkan karena metode pembelajarannya cenderung teoritik yaitu guru masih menggunakan metode ceramah. Jadi dalam proses pembelajaran masih banyak didominasi oleh guru.
Model pembelajaran iqro’ adalah suatu model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada aktivitas siswa dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.

Model pembelajaran iqro’ mempunyai tiga sintaks yaitu eksplorasi, konseptualisasi, dan komunikasi. Dengan model pembelajaran iqro’ siswa diajak untuk aktif mengeksploitasi lingkungan disekitar siswa, baik lingkungan alam, sosial, budaya, agama dan sebagainya. Dengan memanfaatkan lingkungan atau alam sekitar diharapkan pembelajaran biologi akan lebih menyenangkan dan lebih mudah untuk dipahami sehingga siswa dapat mencapai hasil yang lebih baik, siswa juga dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga hasil belajarnya lebih berdaya guna bagi kehidupannya.
Berdasarkan masalah-masalah yang ada dan segala sesuatu yang mendukung, penulis berkeinginan untuk menerapkan model pembelajaran iqro’ pada materi prinsip-prinsip klasifikasi, virus, dan monera. Dengan demikian diharapkan hasil belajar siswa lebih meningkat dan kecakapan hidup siswa dapat lebih ditingkatkan serta dalam kehidupan di masyarakat dapat mengaplikasikan kecakapan yang dimiliki untuk mengatasi masalah/problem yang dihadapi.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

WordPress Themes