Category: Pendidikan Matematika

Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012 (PMT-10)

Pendidikan merupakan suatu hal yang fundamental bagi kemajuan bangsa, maju dan mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dengan kata lain kualitas pendidikan berimplikasi secara tidak langsung terhadap tingkat kesejahteraan manusia tidak terkecuali kualitas pelaksanaan proses belajar matematika.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di setiap jenjang pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Peranan matematika sangat penting dalam menunjang pembangunan di bidang pendidikan, bagi siswa penguasaan matematika akan menjadi sarana yang ampuh sebagai penunjang mempelajari mata pelajaran yang lain. Matematika juga membentuk kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, serta dinamis, sehingga manusia mampu menemukan dan menentukan ide-ide baru yang berguna bagi kepentingan teknologi dalam peranan bagi manusia.

Kenyataan yang dihadapi di SMA, bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika mempunyai nilai rata-rata yang rendah. Hal ini dibuktikan pada Ujian Nasional Tahun 2010/2011, untuk SMA, nilai rata-rata untuk Matematika adalah 6,69, sedangkan nilai rata-rata untuk mata pelajaran lain lebih tinggi, yaitu rata-rata nilai Bahasa Inggris sebesar 6,80, rata-rata nilai Bahasa Indonesia sebesar 7,00, dan rata-rata nilai IPA sebesar 7,00 (Pusat Penelitian Pendidikan, Balitbang Depdiknas). 

Hal ini disebabkan oleh kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, dan siswa belum memahami suatu materi diakibatkan ketidakpahaman dalam materi penunjang sebelumnya. Selain itu, proses pembelajaran matematika tidak menarik bagi siswa karena matematika di anggap pelajaran yang sukar dipahami dan menakutkan bagi siswa. Siswa sering tidak dapat menyelesaikan soal-soal matematika karena pemahaman konsep dasar yang mereka miliki sangat lemah. Matematika lebih mudah diingat apabila siswa belajar secara bermakna, yaitu siswa dapat mengaitkan konsep baru dengan konsep yang telah diketahui sebelumnya. Menurut Dahar (1989:54) mengemukakan bahwa: “Syarat untuk belajar ialah harus terjadi hubungan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya”. Belajar juga merupakan aktivitas proses berfikir, Abdurahman (2005:155): “Berfikir adalah proses pemindahan realitas secara menyeluruh ke otak manusia melalui indera dan menjelaskan realitas tersebut menggunakan informasi terdahulu yang berkaitan dengan realitas tersebut”.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, salah satu usaha yang harus di lakukan adalah mengajarkan matematika dengan metode dan penyampaian yang tepat sehingga menyenangkan dan menarik bagi siswa, seperti yang diungkapkan  Simajuntak (1993:63): “Hendaknya sejak dini konsep-konsep matematika dapat diajarkan oleh guru dengan metode dan penyampaian yang tepat, sehingga siswa diharapkan dapat menguasai dengan baik suatu materi matematika yang selanjutnya dapat menjadi dasar untuk materi selanjutnya yang lebih sukar.”

  Salah satu yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah menggunakan peta konsep. Peta konsep merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Peta konsep ini diperkenalkan oleh Novak dalam bukunya yang berjudul : Learning  How To Learn”. Menurut Dahar (1989:131) mengemukakan: “Gagasan peta konsep yang menyatakan hubungan antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi untuk menolong guru guna mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsung. Untuk mengetahui penguasaan konsep-konsep pada siswa dan untuk menolong para siswa mempelajari cara belajar”. Dengan menggunakan peta konsep siswa dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru dan belajar bermakna dapat berlangsung.

  Penggunaan peta konsep dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran kooperatif sehingga memudahkan proses belajar mengajar. Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Johar (2006:30): “Pembelajaran kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar  yang digunakan guru untuk menciptakan kondisi belajar sesame siswa. Siswa yang satu membantu siswa lainnya  dalam mempelajari sesuatu”. Dengan pendekatan pembelajaran kooperatif kegiatan diarahkan secara sadar untuk menciptakan interaksi yang saling membantu belajar sesama anggota kelompok. Sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesame siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang sangat positif terhadap siswa yang hasil belajarnya rendah. Manfaat pembelajaran kooperatif untuk siswa dengan hasil belajar rendah, antara lain dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, retensi atau penyimpangan materi pelajaran lebih lama.

Kooperatif memiliki beberapa tipe diantaranya yaitu kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Tipe TPS merupakan salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif. Pada model TPS siswa belajar secara berpasangan, dengan belajar dalam kelompok kecil seperti ini (hanya 2 orang) diharapkan siswa dapat berbagi tanggung jawab merata dibandingkan kelompok biasa (yang tediri atas 4-5 orang). Hal ini memungkinkan siswa lebih mandiri dan serius dalam belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk mengganti suasana pola diskusi kelas dengan asumsi bahwa semua resitusi dan diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, merespon dan saling membantu (Arends, 2001:325).

            Menurut kurikulum KTSP (2006), matematika adalah pelajaran wajib pada sekolah lanjutan. Ruang Lingkup Matematika di Sekolah Menengah Atas antara lain mencakup Aritmatika, Logika, Aljabar serta Trigonometri. Trigonometri merupakan materi yang di ajarkan di kelas XI SMA/MA semester ganjil. Disamping sebagai salah satu materi penyumbang soal dalam distribusi soal UN (Ujian Nasional) maupun tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), aplikasinya juga banyak dijumpai dalam berbagai bidang ilmu lainnya. Misalnya fisika, kimia. Materi trigonometri harus dikuasai oleh siswa pada sekolah lanjut. Namun, kenyataan di lapangan sangatlah memprihatinkan. Ternyata kebanyakan siswa dibeberapa SMA/MA sederajat di Banda Aceh masih memiliki kendala dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan trigonometri jumlah dan selisih dua sudut, siswa sulit dalam mengingat dan menggunakan rumus-rumus trigonometri yang telah diperoleh sebelumnya untuk menyelesaikan masalah trigonometri yang dihadapinya. Oleh sebab itu, penerapan model pembelajaran TPS dirasakan cocok untuk diterapkan dalam materi trigonometri, dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir (think) dalam menentukan langkah mana yang akan ditempuh untuk menyelesaikan masalah, menurut Edward de Bono (dalam http://politikana.com/baca/2011/02/02/belajar-berpikir.html). Berfikir adalah “keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dengan pengalaman sehingga murid menemukan sendiri konsep yang sebenarnya ingin disampaikan guru”. Penalaran seperti ini bukan memberikan hafalan rumus, tetapi kesempatan latihan berfikir untuk menentukan rumus atau suatu konsep yang akan diingat seumur hidup. Selanjutnya, siswa dapat berpasangan  (pair) dengan kawan sebangkunya dan berbagi (share) dengan kelompok lain sehingga lebih aktif dalam proses pembelajaran.

  Penelitian sebelumnya menggambarkan hasil penggunaan peta konsep  meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Nur (1999:51): “Suatu kelompok siswa diajarkan 112 kata yang berhubungan dengan mineral dalam urutan acak. Kelompok yang lain diajarkan kata yang sama tetapi dengan urutan tertentu yaitu dengan menggunakan peta konsep, siswa pada kelompok ini mampu mengingat rata-rata 100 kata dibanding dengan kelompok yang diajarkan urutan acak hanya mampu mengingat  65 kata.

            Dari hasil yang dilakukan oleh Rahmi Maulida (2009) disimpulkan bahwa (1) Dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat dapat mencapai ketuntasan belajar siswa di kelas VII-4 SMP Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009, (2) kemampuan siswa dalam membuat peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 belum bias dikatakan baik (3) respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 adalah positif.

Berdasarkan uraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa penggunaan peta konsep dan pembelajaran kooperatif untuk materi trigonometri sangat cocok digabungkan. Sehingga penulis tertarik untuk mengamati apakah dengan menggunakan peta konsep melalui model pendekatan Think Pair Share (TPS) dapat mencapai hasil belajar yang baik dalam proses pembelajaran materi trigonometri. Dalam hal ini, maka penulis akan menuangkan dalam sebuah penelitian dengan judul “Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Persepsi Guru Matematika Terhadap Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kbk) Mata Pelajaran Matematika Di Sma Negeri 1 Makassar (PMT-9)

BAB I 
PENDAHULUAN 

Latar Belakang

Pendidikan adalah penentu terbesar perkembangan masa depan bangsa. Makin besar perhatian kita terhadap bidang pendidikan, ditambah lagi dengan ketepatan arah pendidikan yang dicanangkan, niscaya akan membawa bangsa atau daerah tersebut pada tingkat kemajuan yang memadai, sehingga tidak akan tertinggal atau ditinggalkan oleh bangsa lain. Pendidikan di Indonesia dewasa ini masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di negara lain. Untuk mengantisipasi hal tersebut salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah materi atau yang biasa disebut kurikulum.

Kurikulum dalam suatu sistem pendidikan merupakan komponen yang penting. Dikatakan demikian karena kurikulum merupakan penuntun dalam proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. Oleh karena itu kurikulum selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Tujuan pendidikan dapat berubah secara fundamental bila suatu negara yang dijajah menjadi negara yang merdeka, sehingga dengan sendirnya kurikulum pun harus mengalami perubahan yang menyeluruh.

Kurikulum dapat pula mengalami perubahan bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar mengajar, sehingga timbul berbagai bentuk kurikulum. Perubahan dalam masyarakat, eksplosi ilmu pengetahuan, dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan-perubahan itu menyebabkan kurikulum yang berlaku tidak lagi relevan, dan ancaman serupa ini akan senantiasa dihadapi setiap kurikulum, betapapun relevannya pada suatu saat.

Agar pendidikan memiliki relevansi dengan perkembangan zaman, maka perlu sekali praktek pendidikan diarahkan pada pendidikan yang berbasis kompetensi. Artinya praktek pendidikan dapat membekali siswa sejumlah keterampilan (life skill). Dengan life skill, yang tidak semata-mata mengandalkan kemampuan akademik melainkan juga non akademik, siswa dapat memaknai perjalanan hidupnya dengan kearifan.

 

Berkaitan dengan life skill, para guru atau pendidik harus dapat menguasai keterampilan tertentu, sehingga para siswa dapat difasilitasi untuk meningkatkan keterampilan dasarnya menjadi suatu keterampilan yang lebih tinggi. Santoso (dalam Qomari Anwar, 2002) mengatakan bahwa tugas penting seorang pendidik atau guru ialah menguasai keterampilan melatih, dan membimbing siswa supaya mau dan mampu secara cermat dan tekun melakukan observasi terhadap berbagai peristiwa atau persoalan yang terjadi di sekelilingnya.

Dalam rumusan tujuan pembelajaran, life skill didefinisikan sebagai suatu kecakapan mengaplikasikan kemampuan dasar keilmuan atau kejuruan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bermakna dan bermanfaat bagi peningkatan taraf kehidupannya serta harkat dan martabatnya, dan juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya (Suderadjat : 2004).

Sekolah sebagai sebuah masyarakat kecil (mini society) yang merupakan wahana pengembangan peserta didik dituntut untuk menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis (democratic instruction) agar terjadi proses belajar mengajar yang menyenangkan (joyfull learning). Dengan iklim yang demikian, pendidikan diharapkan mampu melahirkan calon-calon penerus pembangunan masa depan yang sabar, kompeten, mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif, dan siap menghadapi berbagi macam tantangan, dengan tetap bertawakal terhadap Sang penciptanya. Untuk kepentingan tersebut diperlukan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan nasional, yang dipandang oleh berbagai pihak sudah tidak efektif, dan tidak mampu lagi memberikan bekal, serta tidak dapat mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengn bangsa-bangsa lain di dunia. Perubahan mendasar tersebut berkaitan dengan kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan mempersyaratkan berbagai perubahan pada komponen-komponen pendidikan lain.

Berbagai pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang dapat membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, guna menjawab tantangan arus globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.

KBK diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien dan berhasil guna.

Sejak tahun anggaran 2000/2001 Pusat Kurikulum Balitbang Diknas telah melakukan pengembangan KBK. Mulai tahun ajaran 2001/2002 KBK diimplementasikan secara terbatas dalam bentuk mini piloting di beberapa daerah/sekolah. Daerah yang dijadikan mini piloting yaitu Sidoarjo di Jawa Timur, Bandung di Jawa Barat, Serang di Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta dan di DKI Jakarta (Siskandar: 2003). Sementara pemerintah kota Makassar merencanakan untuk memberlakukan KBK pada tahun pelajaran 2003/2004, namun masih banyak sekolah yang belum memberlakukannya, dan pelaksanaannya masih dalam tahap uji coba (Nuryadi: 2004). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah seorang guru Matematika SMA Negeri 1 Makassar, terdapat beberapa persepsi guru tentang pelaksanaan KBK mata pelajaran matematika di SMA Negeri 1 Makassar.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Contoh Skripsi Pendidikan Matematika

Contoh Skripsi Pendidikan Matematika

Matematika adalah suatu ilmu pasti atau eksak yang mempunyai rumus-rumus dalam penyelesaiannya. Kata mattematika berasal dari bahsa Yunani yaitu mathematika yang berarti studi besaran, ruang, struktur dan perubahan.

Pada masa kini ilmu matematika telah banyak mengalami kemajuan, jadi jika ingin membuat skripsi matematika kita dapat mengambil contoh judul mengenai perkembangan ilmu matematika.

Terkadang sebagai mahasiswa, Anda bingung ketika akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi, terutama ketika menentukan judul. Sehingga Anda perlu mencari inspirasi untuk judul sripsi yang akan Anda buat.

Buat teman-teman yang kebetulan lagi sibuk mikirin tentang pembuatan judul skripsi matematika, lagi mencari contoh skripsi pendidikan matematika gratis. mudah-mudahan contoh skripsi matematika ini dapat membantu anda dalam membuat skripsi matematika  yang anda jalani dengan mudah.
 
Berikut contoh-contoh skripsi pendidikan matematika dalam bentuk MS-WORD. silahkan klik judul skripsi matematika di bawah ini untuk melihat isi lengkapnya.

Judul Skripsi Pendidikan Matematika (PMT)

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
    atau klik disini

    Model Pakem Dengan Pendekatan Tematik Untuk Sains Kelas Ii Sd Negeri Sekaran I TAHUN 2008/2009 (PMT-7)

    Mutu  pendidikan   perlu   ditingkatkan   untuk   mewujudkan   manusia   yang berkualitas  tinggi,   diantaranya   pendidikan   di  SD   N  Sekaran  I.  Untuk meningkatkan kualitas siswa, dalam proses belajar mengajar diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan mutu pendidikan siswa.
    Selama  ini,  pembelajaran  cara  lama  di  mana  guru  mengajar  dengan berceramah,   siswa   sering   diperlakukan   sama   oleh   guru   baik   dalam pelaksanaan KBM (Kegiatan  Belajar Mengajar)  maupun evaluasi. Berbagai kemampuan  siswa  (belajar  mandiri,  bekerjasama,  berpikir  kritis,  mencari informasi,                   memecahkan      masalah,           mengambil        keputusan dsb)tidak dikembangkan untuk memberikan bekal bagi mereka untuk terjun ke dunia modern  yang penuh tantangan dan persaingan  antar bangsa. Philip Rekdale (2005)  melakukan penelitian menyangkut sejauh mana PAKEM mendukung pelaksanaan   Kurikulum   Tingkat   Satuan   Pendidikan   (KTSP).   

    Penelitian tersebut meliputi dua aspek yaitu mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka  belajar             (learning   how   to  learn),  cara  belajar  secara  penemuan (discovery), secara kreatif, analisa, dan kritis, supaya mereka dapat menjadi pelajar  selama  hidup  (life  long  learner)  yang  efektif.  Melalui  pendekatan Tematik,            pembelajaran     PAKEM          dapat    diimplementasikan sehingga memungkinkan keterlibatan siswa dalam belajar, sehingga siswa aktif terlibat dalam prosespembelajaran (Sukayati,2004).
    Keberhasilan  siswa  selama  ini  hanya  dilihat  dengan  menggunakan ukuran UAN (Ujian Akhir Nasional) dan nilai NEM mencapai di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 6,52. Telah disadari bahwaUAN hanya mengukur aspek kognitif saja (tingkat rendah dalam taksonomi Bloom). Di sisi lain, KBM yang berhasiladalah KBM yang dapat meningkatkan berbagai kemampuan  siswa. Pembelajaran  di  kelas  II  SD  Negeri  Sekaran  I  telah menggunakan pendekatan tematik tetapi belum menerapkan model PAKEM, siswa-siswa   kelas   II   di   SD   Negeri   Sekaran   I   belajar   sains   denganmendengarkan   ceramah   dari   guru,   jika   guru   mengajar   hanya   dengan berceramah  maka  kemampuan  yang  dikembangkan  pada  diri  siswa  adalah kemampuan  mendengarkan,  mengingat,  dan  menjawab  pertanyaan  dengan menggunakan ingatan. Semuanya dengan daya retensi yang sangat rendah. Akibatnya  siswa  tidak  terlatih  mencari  informasi,   menyaring   informasi, menggunakan  informasi,  berdiskusi,   mengajukan   pertanyaan,   melakukan pengamatan,  penelitian,  percobaan,  membuat  laporan  dsb.  Jika  dilihat  dari hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa ada masalah yang harus segera diselesaikan   dalam   pembelajaran   di   SD   pada   kelas   rendah   khususnya pengembangan  kemampuan  dasar  kognitif,   serta  hasil  belajar  mengenal konsep  Sains.  Oleh  karena  itu  perlu  dikembangkan  model  pembelajaran PAKEM   dengan   pendekatan   Tematik   Sains   SD   untuk   menumbuhkan keterampilan berpikir.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
    atau klik disini

    Metode Auto Regresi Dan Auto Korelasi Untuk Meramalkan Jumlah Penjualan Pakaian Di Toko Yuanita Purwodadi (PMT-6)

    Toko Yuanita Purwodadi merupakan perusahaan perseorangan yang bergerak dalam bidang perdagangan. Tujuan  utama perusahaan adalah untuk bisa meningkatkan jumlah penjualan dalam rangka memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan harus mempunyai perencanaan yang baik. Dalam menentuk<.span>an atau membuat suatu perencanaan dibutuhkan dasar dan alasan yang kuat, berdasarkan situasi sekarang atau yang sudah terjadi.
    Perubahan  suatu  kejadian  dapat  dinyatakan  dengan  perubahan  nilai variabel.  Produksi,  hasipenjualan,  biaya  produksiharga  hasil  produksi, pendapatan, umur, dan curah hujan adalah beberapa contoh nilai variabel yang selalu  berubah.  Apabila  nilavariabel  itu tetap dari  suatu waktke waktu berikutnya,  maka mudah sekali untuk membuat peramalan yang tepat sesuai kenyataan. Akan  tetapi, pada umumnya nilai suatu variabel selalu berubah. Itulah sebabnya ramalan tentang suatu nilai variabel  tidak selalu tepat sesuai kenyataan.

    Toko Yuanita Purwodadi terletak di tengah-tengah pusat perbelanjaan masyarakat di kecamatan Kradenan, kecamatan Gabus, kecamatan Pulokulan, dan  kecamatan  Ngaringan.  Letak  yang  strategis  mendorong  Toko  Yuanita Purwodad untuk  menjual  barang-barang  yang  diperlukan  masyarakat  di sekitar TokoYuanitaPurwodadi.
    TokYuanita  Purwodadi  adalah  toko  yanmenjual  barang-barang kebutuhan masyarakat  seperti alat kecantikan, alat tulis sekolah dan kantor serta kebutuhan rumah tangga lainnya. Pakaian merupakan kebutuhan pokok masyarakat  dan Toko Yuanita   dalam memberikan pelayanan sangat ramah dan  harg barang-barang  yang  ditawarkan  sesuai  dengan  keadaan  sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
    Dalam  keadaan  ekonomi  yang  belum  pulih  akibat  krisis  moneter seperti  saat ini Toko Yuanita  Purwodadi sudah mengalami  kemajuan  yang sanga baik.   Ha ini  bis diliha dari   baran yan dijua suda bisa menghasilka pendapatan  dan  keuntungan.  Barang  yang  dijual  di  Toko Yuanita Purwodadi  tidak semua diminati oleh masyarakat, seperti peralatan dapur dan yang paling  diminati oleh masyaraka adalah pakaian misalnya, baju, celana, T-shirt, kaos kaki.  Penulis tertarik untuk meningkatkan jumlah penjualan pakaian di Toko Yuanita Purwodadi yaitu dengan menambah variasi jenis pakaian. Untuk menentukan penambahan pakaian yang tepat, diperlukan peramalan.
    Hasil peramalan jumlah penjualan merupakan data yang menunjukkan tingkat  kemampuan menjual dari Toko Yuanita Purwodadi untuk masa yang akan datang.  Hasil ramalan jumlah penjualan sangat bermanfaat sebagai dasar perencanaan. Pemilihan metode peramalan yang tepat dapat meminimumkan kesalahan  dalam meramal  (fordcast             error),  sehingga  hasil  peramalan  bisa mendekati kenyataan.
    Salah satu metode peramalan yaitu Auto Regresi dan Auto Korelasi. Metode  ini  membahas  tentang  pengaruh  dan  hubungan  antara  nilai  suatu variabel yang telah terjadi pada suatu periode dan yang terjadi pada periode berikutnya. Untuk  mengetahui besarnya pengaruh suatu variabel, digunakan Auto Regresi, sedangkan  untuk mengukur kuat tidaknya hubungan variabel tersebut digunakan Auto Korelasi.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File
    atau klik disini

    MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN HITUNG CAMPURAN KELAS III MI MA’ARIF BLOTONGAN SALATIGA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA KARTU MAINAN ..(PMT-3)

    BAB I
    PENDAHULUAN


    A. Latar Belakang

    Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta – fakta yang harus dihapal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan strategi belajar “baru” yang lebih memperdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri (Diknas 2003 : 2). Melalui landasan filosofi kontruktivisme, CTL siswa diharapkan belajar melalui”mengalami” bukan “menghapal”.

    Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas : 2002 : 1). Dengan konsep itu belajar diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status mereka, dan bagaimana mencapainya. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.

    Dalam kelas kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai suatu tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa tersebut. Begitulah peran guru dalam kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.


    Pada masa seperti sekarang ini kualitas sumber daya manusia sangat di perlukan karena untuk*menghadapi tantangan dunia pada era globalisasi yang penuh dengan persaingan, tidak menutup kemungkinan bila sebuah negara tidak mempunyai kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan tertinggal jauh dengan negara-negara lain, rendahnya kualitas pendidikan dapat diartikan sebagai kurang berhasilnya suatu proses belajar mengajar di suatu lingkungan pendidikan tersebut. Jika dilihat dari penyebabnya biasa dari siswa, guru sarana dan prasarana maupun model pembelajaran yang di gunakan. Jika minat dan motivasi dan kemampuan siswa rendah, kualitas pendidik yang kurang profesional
    Pada umumnya siswa disekolah mempunyai kesan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit bagi mereka oleh karena itu guru – guru matematika perlu memiliki strategi dan penguasaan yang baik tentang berbagai metode dan pendekatan dalam proses pembelajaran matematika.

    Dalam melaksanakan tugasnya guru tidak hanya berperan sebagai nara sumber kepada siswanya saja, tetapi guru mempunyai peranan sebagai pembimbing dan juga fasilitator. Guru sendiri menyadari peranan yang dipegangnya dalam pertemuan dengan siswa . Berperan sebagai guru mengandung tantangan, karena di satu pihak guru harus sabar, ramah, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, dan menciptakan suasana yang efektif ; dilain pihak guru harus memberikan tugas, mendorong siswa untuk berusaha mencapai tujuan, mengadakan koreksi, menegur dan menilai sebelum proses belajar mengajar di mulai. Siswa pada suatu kelas umumnya merupakan kumpulan individu – individu yang heterogen, artinya mereka memiliki perbedaan individual dalam proses belajar mengajar. Perbedaan- perbedaan tersebut antara lain perbedaan intelegensi, bakat, minat, kepribadian, kondisi fisiologis, dan faktor lingkungan. Dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut, maka ada siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan ada pula siswa yang kurang mampu dalam mengikuti pelajaran.

    Sesungguhnya matematika itu merupakan ilmu abstrak yang butuh ketelitian, kesabaran, keuletan dan kesungguhan guru dalam menerapkan konsep dan mengetahui keadaan kondisi murid. Pada umumnya siswa berfikir dari hal – hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak. Agar siswa dapat berfikir yang abstrak digunakan bantuan yaitu dengan menggunakan media pendidikan atau alat peraga. Keterlibatan latar belakang keluarga dan ketimpangan ekonomi yang begitu minim berdampak pada motivasi anak menekuni pelajaran matematika dan juga berpengaruh pada hasil belajar anak yang belum memenuhi taraf maksimal. Maka dari itu peneliti membuat alat peraga yang sederhana yang bisa dijangkau oleh masyarakat yang minim akan ekonomi, yaitu alat peraga kartu mainan yang bahannya dari kertas dan bisa dibeli dengan harga terjangkau.

    Kondisi nyata pada Madrasah Ibtidayah Ma’arif Blotongan tahun pelajaran 2004/2005 yang berjumlah 142 siswa mereka tergolong rendah dalam standar kompetensi pada umumnya. oleh karena itu hal ini memungkinkan untuk dinaikkan dengan melalui penanganan pendidikan semaksimal mungkin.

    Matematika adalah sebagai ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaanya . Dalam usaha untuk menanggulangi rendahnya hasil belajar matematika dan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Maka pemerintah telah melakukan berbagai usaha antara lain dengan perubahan kurikulum pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam melaksanakan pengajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Pada tahun 1975 telah disusun kurikulum matematika yang kemudian disempurnakan tahun 1984 kemudian disempurnakan lagi tahun 1994 dan tahun 2004 . sekarang yang dipergunakan adalah yaitu kurikulum tahun 2006 yang disebut dengan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pelaksanaan kurikulum Berbasis Kompetensi ini berorentasi pada tujuan instruksional yang hendak dicapai dan prinsip belajar tuntas, (mastery learning ). Agar tujuan instruksional dapat dicapai dan ketuntasan belajar dapat terwujud dengan maksimal , maka kesalahan-kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal cerita pada pokok bahasan operasi hitung campuran perlu diketahui sedini mungkin. Hal ini untuk menghindari kesulitan belajar yang berlarut-larut dan terbawa sampai pada jenjang yang lebih tinggi. Kemudian soal cerita merupakan hal yang paling sulit dialami siswa didalam menyelesaikannya.

    Berdasarkan latar belakang diatas penulis ingin mengadakan penelitian dengan judul: Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Soal Cerita Hitung Campuran Kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Menggunakan Alat Peraga Kartu Mainan dan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Tahun Pelajaran 2005/2006

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Meningkatkan Kreatifitas Siswa Melalui Pembelajaran Pohon Matematika Pada Materi Luas Bangun Datar Kelas V SD Plus Baitussalam Tahun Pelajaran 2007/2008 .(PMT-2)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Di zaman yang serba canggih dan modern seperti sekarang, ketika komputer merajai seluruh sendi kehidupan, seluruh manusia dituntut untuk bisa kreatif dan inovatif. Mampu beradaptasi dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendidikan memegang peranan vital. Pendidikan harus bekerja keras dan berupaya untuk menciptakan generasi-generasi yang handal dan kreatif.

    Menyikapi kenyataan di atas yang sekaligus merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, maka paradigma pembelajaran juga harus diubah. Dari yang semula hanya “banyak mengajari” menjadi “banyak mendorong anak untuk belajar”, dari yang semula di sekolah hanya diorientasikan untuk menyelesaikan soal menjadi berorientasi mengembangkan pola pikir kreatif . Oleh karena itu seorang pendidik harus sanggup menciptakan suasana belajar yang nyaman serta mampu memahami sifat peserta didik yang berbeda dengan anak yang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh Soepartinah Pakasi mengenai peranan pendidik dalam membangkitkan minat belajar anak didik. Karena dengan mengerti dan memahami bahwa setiap siswa berbeda, maka secara otomatis seorang pendidik akan mampu memposisikan dirinya dihadapan masing-masing individu anak didik.

    Dalam semua jenjang pendidikan, pelajaran matematika memiliki porsi terbanyak dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain. Tetapi kenyataan yang terjadi selama ini, siswa malah menganggap matematika sebagai monster yang menakutkan. Matematika didakwa sebagai biang kesulitan dan hal yang paling dibenci dari proses belajar di sekolah. Padahal ketidak senangan terhadap suatu pelajaran berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Karena tidak senang akan membuat siswa enggan dan malas untuk belajar. Dan secara langsung akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

    Untuk mengatasi ketidak senangan siswa terhadap matematika diperlukan adanya pembenahan baik dari tenaga pendidik maupun dari peserta didik itu sendiri. Apabila seorang pendidik bisa meningkatkan minat belajar siswa terhadap matematika, diharapkan kesulitan yang ada pada diri siswa akan lebih mudah diatasi. Untuk itu diperlukan seorang tenaga pendidik yang kreatif dan profesional, yang mampu mempergunakan pengetahuan dan kecakapannya dalam menggunakan metode, alat pengajaran dan dapat membawa perubahan dalam tingkah laku anak didiknya. Dari yang semula benci menjadi sayang dan berminat untuk belajar. Karena pada dasarnya hasil dari belajar terletak pada perubahan tingkah laku secara menyeluruh.


    Pada umumnya proses pelaksanaan belajar mengajar matematika di sekolah hanya mentransfer apa yang dipunyai guru kepada siswa dalam wujud pelimpahan fakta matematis dan prosedur penghitungan, Bahkan sering terjadi, dalam menanamkan konsep hanya menekankan bahwa konsep – konsep itu merupakan aturan yang harus dihafal, tidak perlu tahu dari mana asal – usul rumus tersebut. Siswa diprogram hanya untuk bisa menghafal rumus dan mengerjakan soal tanpa harus tahu apa makna dan fungsi soal tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

    Dengan adanya pembelajaran matematika yang tidak bermakna serta hanya sebatas menghafal rumus dan mengikutinya untuk mengerjakan soal, penalaran siswa menjadi kurang berkembang. Padahal kemampuan penalaran siswa merupakan aspek penting, karena dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain, baik masalah matematika maupun masalah kehidupan sehari-hari. Karena dengan adanya penalaran, siswa akan mampu mengaplikasikan hal yang dipelajarinya kedalam dunia nyata. Bahkan menurut Krulik dan Rudnick, kemampuan penalaran merupakan aspek kunci dalam megembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dari siswa.

    Pembelajaran matematika yang hanya berorientasi pada proses transfer dari guru ke siswa merupakan pandangan behaviorisme. Matematika dipandang sebagai barang jadi yang dapat dipindahkan dari seorang keorang lain. Menurut pandangan behaviorisme siswa bersifat pasif dan pembelajaran lebih berpusat pada guru . Bagi behavioris pengetahuan itu statis dan sudah jadi dan belajar hanya merupakan suatu proses mekanik untuk mengumpulkan fakta.
    Selanjutnya lahirlah pandangan konstruktivisme yang beranggapan bahwa pengatahuan tidak dapat ditransfer tetapi harus dibangun sendiri oleh siswa di dalam pikirannya . Menurut pandangan konstruktivisme, pengetahuan dibangun secara aktif oleh individu melalui proses yang berkembang secara terus menerus . Pengetahuan merupakan suatu proses menjadi melalui kegiatan aktif siswa meneliti lingkungannya. Dengan kata lain pengetahuan dapat dibentuk oleh siswa dalam pikirannya sendiri setelah adanya interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan Ausubel, Novak dan Hanesian menyatakan bahwa suatu pembelajaran akan bermakna jika informasi yang baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Dengan demikian, pengetahuan yang telah dibangun seseorang akan semakin kuat dan kokoh.

    Pada proses ini, terjadi pembaharuan pengetahuan seseorang yang dikembangkan melalui situasi dan pengalaman baru. Sehingga pengetahuan yang lebih dahulu diperoleh dapat disesuaikan dengan pengetahuan yang baru.
    Inti dari pembelajaran konstruktivis adalah keaktifan siswa pada proses pembelajaran. Penekanan belajar siswa aktif ini sangat penting dan perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan kita. Karena dengan keaktifan dan kreatifitas, siswa akan dapat mandiri dalam kehidupan. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal karena mereka berpikir dan mencipta, bukan meniru saja.
    Berdasarkan pada prinsip filsafat konstruktifisme, muncul berbagai model pembelajaran yang berupaya untuk mengembangkan keaktifan dan kreatifitas siswa. Diantaranya adalah : contructivism, problem solving, problem posing, realistic mathematics education, dan open ended approach. Semua model pembelajaran tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan setiap materi pelajaran memiliki karakteristik tersendiri sehingga tidak semua materi pelajaran bisa disampaikan dengan satu model pembelajaran tertentu. Selain penguasaan cara penyampaian pelajaran melalui berbagai model pembelajaran, seorang guru juga harus menguasai materi yang diajarkan secara luas dan mendalam. Karena dengan penguasaan materi seorang guru akan mampu dan mengerti bahwa terdapat bermacam cara untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan, tanpa terpaku pada salah satu rumus saja. Sehingga siswa tidak hanya meniru contoh penyelesaian dari guru dan berkutat pada satu macam cara. Tetapi siswa dapat dengan bebas mengeluarkan pemikirannya, meski bimbingan dari guru tidak boleh diabaikan.

    Dengan menyadari dan tidak mengajukan jalan satu-satunya sebagai jawaban yang benar, kreatifitas dan pemikiran siswa akan lebih berkembang. Dan dengan sendirinya penalaran dan pemahaman yang dimiliki siswa akan semakin tumbuh subur. Adapun model pembelajaran yang memberikan kebebasan berpikir kepada siswa diantaranya adalah problem posing dan open ended.
    Model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan meminta siswa untuk mengajukan masalah . National Council of Techer of Mathematics (NCTM) juga menyarankan agar para guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merumuskan soal dari informasi-informasi yang diberikan . Adapun manfaat dari pengajuan soal ini diantaranya adalah dapat mempertinggi kemampuan memecahkan masalah dan sedikit menhilangkan ketakutan siswa terhdap matematika. Karena dengan dapat membuat soal sendiri, siswa akan merasa percaya diri dengan pengertian dan pemahamannya. Hal ini disebabkan siswa merasa bahwa salah satu dari materi yang diajarkan dapat ia pecahkan. Dan kemungkinan besar dapat menghilangkan ketakutan dalam dirinya.

    Sedang model pembelajaran open ended merupakan suatu model pembelajaran yang dilakukan dengan menyajikan masalah yang memiliki jawaban tidak tunggal atau cara penyelesaian yang tidak tunggal. Dengan diterapkannya strategi ini, diharapkan siswa dapat berpikir bebas karena tidak terpaku pada satu patokan saja. Dan ketika siswa bebas mengungkapkan gagasannya, asal logis dan rasional, maka akan mendorong siswa untuk berpikir kreatif. Kreatif menurut Krulik, Pundick dan Milou adalah bentuk penalaran tertinggi dari tahapan berpikir . Dan dengan kemampuan penalaran yang tinggi, siswa akan mudah mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapinya, baik dalam proses belajar disekolah maupun dalam kehidupan nyata.

    Problem posing dan open ended merupakan model pembelajaran yang memberikan keleluasan berpikir kepada siswa. Namun banyak kendala untuk mempraktiknnya. Diantaranya adalah kebiasaan kita yang hanya terpaku pada satu jawaban atau selalu mengikuti rumus yang dituliskan oleh guru. Maka dari itu diperlukan adanya suatu pendekatan yang memadukan problem posing dan open ended serta pelaksanaan yang mudah diterapkan. Dan salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan adalah model pembelajaran melalui pendekatan pohon matematika.

    Pohon matematika adalah model pembelajaran yang merupakan gabungan dari model problem posing dan open ended. Pada pembelajaran ini, siswa diminta untuk menumbuhk`n daun dengan membangun konsep matematika dari suatu pohon yang berupa pokok bahasan yang diberikan. Pada setiap pohon yang dibangun terdapat beberapa cabang. Semakin banyak daun yang tumbuh, nilai akan semakin banyak. Namun, bila ada daun yang salah akan mengurangi nilai. Dan materi yang akan dijadikan pokok bahasan pada penelitian ini adalah materi luas bangun datar.

    Di dalam matematika, luas bangun datar adalah syarat mutlak sebelum mempelajari volume bangun ruang. Adapun bangun datar yang dipergunakan adalah persegi panjang, jajar genjang, trapesium, belah ketupat dan layang-layang. Didalam kehidupan nyata, penerapan konsep luas bangun datar banyak dijumpai. Tetapi masih banyak siswa yang tidak memahami materi ini. Hal ini dikarenakan dalam memecahkan masalah, siswa tidak dapat menghubungkan antara pengetahuan dan konsep yang telah dipelajari dengan masalah yang dihadapi. Berdasar kenyataan tersebut, dengan tidak mengurangi faktor lain pada proses pembelajaran, perlu adanya perubahan strategi pembelajaran sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.

    Adapun SD Plus Baitussalam dipilih sebagai tempat penelitian dikarenakan peneliti juga sekaligus sebagai pengajar di sekolah tersebut. Sehingga dengan demikian diharapkan akan mempermudah dalam proses perijinan.

    Berdasar uraian di atas, peneliti mencoba untuk mengembangkan pembelajaran matematika melalui pendekatan dengan pohon matematika yang diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas siswa kelas V SD Plus Baitussalam tahun pelajaran 2007/2008 pada materi luas bangun datar.

    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa KelaS VIII SMP Bhakti Praja Gebog Kudus Tahun Pelajaran 2006/2007 Pada Materi Pokok ..(PMT-1)

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    SMP Bhakti Praja bukanlah pilihan pertama dari lulusan SD/MI di sekitar Gebog, walau merupakan satu-satunya SMP swasta di kecamatan Gebog. Setelah hasil seleksi SMP negeri diumumkan, siswa yang tidak diterima baru mendaftar di SMP Bhakti Praja Gebog. Dengan demikian input SMP Bhakti Praja Gebog adalah saringan atau sisa dari anak-anak terpilih, dengan motivasi orangtua yang kurang mendukung, latar belakang ekonomi orangtua kebanyakan buruh pabrik, sehingga proses belajar mengajar di SMP Bhakti Praja Gebog, terutama pada mata pelajaran matematika yang bagi sebagian siswa adalah pelajaran yang kurang menarik terasa berat.

    Masalah menonjol yang dihadapi oleh pendidikan matematika adalah pada umumnya hasil belajar siswa yang kurang memuaskan, hal ini dikarenakan kurangnya minat siswa terhadap pelajaran matematika sehingga tidak sedikit dari mereka yang menganggap bahwa matematika adalah ilmu yang sulit dan tidak menarik. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian khusus dari guru selaku pendidik untuk menemukan metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan materi dan bahan yang diberikan kepada siswa, karena suatu pembelajaran akan efektif jika metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Di samping menguasai metode pembelajarannya seorang guru juga harus menguasai teknik menerangkan,
    mengajarkan konsep matematika, cara membangkitkan motivasi siswa, cara
    menggunakan alat bantu dan teknik mengevaluasi seberapa jauh proses belajar mengajar dalam kelas telah tercapai.


    Oleh karena itu para pendidik matematika perlu memahami dan mengembangkan berbagai metode, keterampilan dan strategi dalam mengajarkan matematika. Tujuannya antara lain agar dapat menyusun program pengajaran yang dapat membangkitkan motivasi siswa agar mereka belajar dengan antusias. Lebih daripada itu agar siswa merasa benar-benar ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses kegiatan belajar-mengajar, mengingat metode pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru matematika yang kebanyakan didominasi oleh guru itu sendiri.

    Sistem persamaan linear dua variabel adalah salah satu materi pokok matematika di kelas VIII. Materi pokok yang berkaitan dengan masalah sehari-hari ini terasa sulit dipahami siswa kelas VIII SMP Bhakti Praja Gebog. Indikatornya siswa kurang mampu menyelesaikan soal-soal tentang sistem persamaan linear dua variabel apalagi bila disajikan dalam soal cerita, akibatnya lebih dari 75% siswa belum tuntas belajar dan rata-rata nilai ulangan harian kurang dari 6,00 serta kurang dari 75% siswa yang terlibat aktif ketika proses pembelajaran berlangsung.

    Model pembelajaran berbasis masalah dipilih sebagai salah satu alternatif karena model ini merupakan pendekatan pengajaran yang
    menggunakan masalah-masalah dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan terampil memecahkan, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep-konsep dasar. Ciri-ciri utama pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya dan peragaan.
    Guru dalam model pembelajaran berbasis masalah, berperan sebagai penyaji masalah, fasilitator, membantu siswa memecahkan masalah dan menjadi salah satu sumber belajar siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan, motivasi dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa.

    Dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar mereka. Di samping itu, kegiatan pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dalam materi pokok sistem persamaan linear dua variabel amatlah strategis, seiring dengan implementasi KBK, sehingga kreativitas guru dapat ditingkatkan, serta ketersediaan berbagai fasilitas yang dimiliki secara terbatas dapat ditingkatkan.



    Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

    WordPress Themes