Category: Pendidikan

Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012 (PMT-10)

Pendidikan merupakan suatu hal yang fundamental bagi kemajuan bangsa, maju dan mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Dengan kata lain kualitas pendidikan berimplikasi secara tidak langsung terhadap tingkat kesejahteraan manusia tidak terkecuali kualitas pelaksanaan proses belajar matematika.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di setiap jenjang pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Peranan matematika sangat penting dalam menunjang pembangunan di bidang pendidikan, bagi siswa penguasaan matematika akan menjadi sarana yang ampuh sebagai penunjang mempelajari mata pelajaran yang lain. Matematika juga membentuk kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, serta dinamis, sehingga manusia mampu menemukan dan menentukan ide-ide baru yang berguna bagi kepentingan teknologi dalam peranan bagi manusia.

Kenyataan yang dihadapi di SMA, bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran matematika mempunyai nilai rata-rata yang rendah. Hal ini dibuktikan pada Ujian Nasional Tahun 2010/2011, untuk SMA, nilai rata-rata untuk Matematika adalah 6,69, sedangkan nilai rata-rata untuk mata pelajaran lain lebih tinggi, yaitu rata-rata nilai Bahasa Inggris sebesar 6,80, rata-rata nilai Bahasa Indonesia sebesar 7,00, dan rata-rata nilai IPA sebesar 7,00 (Pusat Penelitian Pendidikan, Balitbang Depdiknas). 

Hal ini disebabkan oleh kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru, dan siswa belum memahami suatu materi diakibatkan ketidakpahaman dalam materi penunjang sebelumnya. Selain itu, proses pembelajaran matematika tidak menarik bagi siswa karena matematika di anggap pelajaran yang sukar dipahami dan menakutkan bagi siswa. Siswa sering tidak dapat menyelesaikan soal-soal matematika karena pemahaman konsep dasar yang mereka miliki sangat lemah. Matematika lebih mudah diingat apabila siswa belajar secara bermakna, yaitu siswa dapat mengaitkan konsep baru dengan konsep yang telah diketahui sebelumnya. Menurut Dahar (1989:54) mengemukakan bahwa: “Syarat untuk belajar ialah harus terjadi hubungan antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya”. Belajar juga merupakan aktivitas proses berfikir, Abdurahman (2005:155): “Berfikir adalah proses pemindahan realitas secara menyeluruh ke otak manusia melalui indera dan menjelaskan realitas tersebut menggunakan informasi terdahulu yang berkaitan dengan realitas tersebut”.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, salah satu usaha yang harus di lakukan adalah mengajarkan matematika dengan metode dan penyampaian yang tepat sehingga menyenangkan dan menarik bagi siswa, seperti yang diungkapkan  Simajuntak (1993:63): “Hendaknya sejak dini konsep-konsep matematika dapat diajarkan oleh guru dengan metode dan penyampaian yang tepat, sehingga siswa diharapkan dapat menguasai dengan baik suatu materi matematika yang selanjutnya dapat menjadi dasar untuk materi selanjutnya yang lebih sukar.”

  Salah satu yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah menggunakan peta konsep. Peta konsep merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Peta konsep ini diperkenalkan oleh Novak dalam bukunya yang berjudul : Learning  How To Learn”. Menurut Dahar (1989:131) mengemukakan: “Gagasan peta konsep yang menyatakan hubungan antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi untuk menolong guru guna mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsung. Untuk mengetahui penguasaan konsep-konsep pada siswa dan untuk menolong para siswa mempelajari cara belajar”. Dengan menggunakan peta konsep siswa dapat memahami materi yang diajarkan oleh guru dan belajar bermakna dapat berlangsung.

  Penggunaan peta konsep dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran kooperatif sehingga memudahkan proses belajar mengajar. Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengoptimalkan kerja sama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Johar (2006:30): “Pembelajaran kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar  yang digunakan guru untuk menciptakan kondisi belajar sesame siswa. Siswa yang satu membantu siswa lainnya  dalam mempelajari sesuatu”. Dengan pendekatan pembelajaran kooperatif kegiatan diarahkan secara sadar untuk menciptakan interaksi yang saling membantu belajar sesama anggota kelompok. Sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesame siswa. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang sangat positif terhadap siswa yang hasil belajarnya rendah. Manfaat pembelajaran kooperatif untuk siswa dengan hasil belajar rendah, antara lain dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, retensi atau penyimpangan materi pelajaran lebih lama.

Kooperatif memiliki beberapa tipe diantaranya yaitu kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Tipe TPS merupakan salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif. Pada model TPS siswa belajar secara berpasangan, dengan belajar dalam kelompok kecil seperti ini (hanya 2 orang) diharapkan siswa dapat berbagi tanggung jawab merata dibandingkan kelompok biasa (yang tediri atas 4-5 orang). Hal ini memungkinkan siswa lebih mandiri dan serius dalam belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan. Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk mengganti suasana pola diskusi kelas dengan asumsi bahwa semua resitusi dan diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu untuk berpikir, merespon dan saling membantu (Arends, 2001:325).

            Menurut kurikulum KTSP (2006), matematika adalah pelajaran wajib pada sekolah lanjutan. Ruang Lingkup Matematika di Sekolah Menengah Atas antara lain mencakup Aritmatika, Logika, Aljabar serta Trigonometri. Trigonometri merupakan materi yang di ajarkan di kelas XI SMA/MA semester ganjil. Disamping sebagai salah satu materi penyumbang soal dalam distribusi soal UN (Ujian Nasional) maupun tes SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), aplikasinya juga banyak dijumpai dalam berbagai bidang ilmu lainnya. Misalnya fisika, kimia. Materi trigonometri harus dikuasai oleh siswa pada sekolah lanjut. Namun, kenyataan di lapangan sangatlah memprihatinkan. Ternyata kebanyakan siswa dibeberapa SMA/MA sederajat di Banda Aceh masih memiliki kendala dalam menyelesaikan soal yang berhubungan dengan trigonometri jumlah dan selisih dua sudut, siswa sulit dalam mengingat dan menggunakan rumus-rumus trigonometri yang telah diperoleh sebelumnya untuk menyelesaikan masalah trigonometri yang dihadapinya. Oleh sebab itu, penerapan model pembelajaran TPS dirasakan cocok untuk diterapkan dalam materi trigonometri, dimana siswa diberi kesempatan untuk berfikir (think) dalam menentukan langkah mana yang akan ditempuh untuk menyelesaikan masalah, menurut Edward de Bono (dalam http://politikana.com/baca/2011/02/02/belajar-berpikir.html). Berfikir adalah “keterampilan mental yang memadukan kecerdasan dengan pengalaman sehingga murid menemukan sendiri konsep yang sebenarnya ingin disampaikan guru”. Penalaran seperti ini bukan memberikan hafalan rumus, tetapi kesempatan latihan berfikir untuk menentukan rumus atau suatu konsep yang akan diingat seumur hidup. Selanjutnya, siswa dapat berpasangan  (pair) dengan kawan sebangkunya dan berbagi (share) dengan kelompok lain sehingga lebih aktif dalam proses pembelajaran.

  Penelitian sebelumnya menggambarkan hasil penggunaan peta konsep  meningkatkan hasil belajar siswa, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Nur (1999:51): “Suatu kelompok siswa diajarkan 112 kata yang berhubungan dengan mineral dalam urutan acak. Kelompok yang lain diajarkan kata yang sama tetapi dengan urutan tertentu yaitu dengan menggunakan peta konsep, siswa pada kelompok ini mampu mengingat rata-rata 100 kata dibanding dengan kelompok yang diajarkan urutan acak hanya mampu mengingat  65 kata.

            Dari hasil yang dilakukan oleh Rahmi Maulida (2009) disimpulkan bahwa (1) Dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat dapat mencapai ketuntasan belajar siswa di kelas VII-4 SMP Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009, (2) kemampuan siswa dalam membuat peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 belum bias dikatakan baik (3) respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep melalui model pembelajaran kooperatif pada materi segi empat di kelas VII-4 Negeri 1 Lhoksemawe Tahun Ajaran 2008/2009 adalah positif.

Berdasarkan uraian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa penggunaan peta konsep dan pembelajaran kooperatif untuk materi trigonometri sangat cocok digabungkan. Sehingga penulis tertarik untuk mengamati apakah dengan menggunakan peta konsep melalui model pendekatan Think Pair Share (TPS) dapat mencapai hasil belajar yang baik dalam proses pembelajaran materi trigonometri. Dalam hal ini, maka penulis akan menuangkan dalam sebuah penelitian dengan judul “Penggunaan Peta Konsep Pada Materi Trigonometri Melalui Pendekatan TPS di Kelas XI SMAN 6 Banda Aceh Tahun Pelajaran 2011/2012”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Hubungan Motivasi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi PPKn di SDN Tasikmadu 2 Kota Malang Tahun Pelajaran 2010-2011 (PPKN-1)

Hubungan orang tua adalah hubungan yang paling mendasar dalam tumbuh kembangnya seorang anak. Prestasi belajar siswa juga tidak dapat terlepas dari kondisi lingkungan keluarga siswa. Siswa yang memiliki prestasi baik biasanya berasal dari lingkungan keluarga yang baik, begitu pula sebaliknya, apabila lingkungan keluarga kurang baik prestasi siswa juga memiliki kecenderungan yang rendah. Kondisi lingkungan keluarga yang baik dapat diharapkan dapat memberikan motivasi belajar yang baik sehingga prestasi belajar siswa dapat lebih maksimal
            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dibatasi pada mata pelajaran PPKN kelas VI semester 2.
            Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDN Tasikmadu 2 tahun pelajaran 2010-2011. Selanjutnya diambil sample siswa kelas VI, yaitu sebanyak 25 anak. Untuk mengumpulkan data digunakan angket dan nilai Try out ke 3 siswa khususnya mata pelajaran PPKN kelas VI semester 2 tahun ajaran 2010-2011.

 

            Berdasarkan analisis data, dengan menggunakan korelasi product moment pearson dengan taraf signifikansi 5% denga N = 25, hasilnya signifikan, karena dalam pengujian hipotesis, yaitu hubungan motivasi orang tua terhadap prestasi belajar siswa diperoleh r hitunglebih besar dari r tabel, yaitu 0,664 > 0,396.

            Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa  terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi orang tua terhadap prestasi belajar bidang studi PPKn di SDN Tasikmadu 2 tahun ajaran 2010-2011

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengajaran Bahasa Arab Di Madrasah Ibtidaiyah Miftakhul Huda Temanggung Siswa Kelas V (PBA-6)

Menurut Al-Ghazzawi yang dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang banyak digunakan oleh masarakat dunia, yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 (dua ratus juta) umat manusia dan bahasa ini digunakan secara resmi oleh kurang lebih 20 (dua puluh) Negara.[1]Bahasa Arab adalah salah satu bahasa hidup, yang dipakai sehari-hari dan merupakan bahasa resmi di Saudi Arabia, Marokko, Aljazair, Libya, Tunisia, Mesir, Sudan, Lebanon, Syria, Irak, Kuwait, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, Palestina, dan beberapa negara di semenanjung Arabia.[2] Di samping itu bahasa Arab juga merupakan bahasa kitab suci al-Qur’an dan al-Hadist. Bahasa Arab adalah bahasa ilmu pengetahuan agama Islam. Disamping digunakan sebagai alat komunikasi bahasa Arab juga dipakai sebagai bahasa ilmu pengetahuan, sehingga sangat menarik untuk dipelajari. Dalam ritual ibadah khususnya sholat, haji, dan doa juga menggunakan bahasa Arab. 

Dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam lebih mendalam, sebelumnya ia perlu menguasai bahasa Arab, karena dengan menguasai bahasa Arab pintu gerbang untuk mendalami al-Qur’an, hadist dan ilmu pendukungnya menjadi terbuka lebar. 

Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 dan 29 Tahun 1990, yang dimaksud dengan Madrasah adalah sekolah umum yag berciri khas agama Islam. Jadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah sekolah yang berciri khas agama Islam yang setingkat sekolah dasar.[3]Pelajaran bahasa Arab di madrasah sudah barang tentu diajarkan karena bahasa Arab termasuk bagian dari pelajaran yang harus diajarkan di madrasah, mulai dari tingkat MI sampai perguruan tinggi.

 

Para lulusan madrasah seyogyanya memiliki kebanggaan tersendiri karena kemapuannya dalam membaca, menulis dan memahami bahasa Arab, yang merupakan kunci untuk memahami al-Qur’an dan Hadis serta kitab-kitab keagamaan klasik.[4]Sayangnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Arab para lulusan madrasah semakin menurun, kalau tidak bisa dikatakan sangat lemah. Salah satu contoh untuk mendukung pernyataan ini, bisa dilihat dari kasus para calon mahasiswa IAIN Jakarta (yang sekarang telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri), pada tahun 1995 berikut ini:

Persyaratan untuk diterima sebagai mahasiswa baru di UIN Jakarta pada tahun 1995 adalah bahwa calon harus mendapat nilai tes bahasa Arab minimal 6 sampai 10. Hasilnya lebih kurang hanya lima yang mendapat nilai tes bahasa Arab 7 – 9, 132 anak memperoleh nilai 5 – 7, dari lebih kurang hampir 5000 (lima ribu) calon yang mayoritas adalah para lulusan madrasah dan lainnya mendapat nilai kurang dari 5. Keadaan serupa ternyata tidak hanya terjadi di UIN Jakarta saja, akan tetapi juga terjadi di IAIN dari daerah lain dan PTAIS lainnya. Dengan kata lain, di IAIN dan PTAIS lainpun banyak calon mahasiswa yang tidak atau kurang mampu menguasai bahasa Arab sesuai dengan standar kemampuan menguasai bahasa Arab untuk lulusan Madrasah Aliyah.[5]

Penurunan prestasi belajar khususnya pelajaran bahasa Arab pada dewasa ini menjadi perhatian dan sekaligus kekhawatiran yang dirasakan penulis dan ini juga merupakan salah satu faktor pendorong penulis dalam mengangkat tema ini dengan judul “Pengajaran Bahasa Arab di MI Miftakhul Huda Temanggung (Telaah Metode)“.

Mengapa pengajaran bahasa Arab yang penulis kemukakan? Adanya gagasan untuk mengetengahkan masalah metode dalam tulisan ini, dimaksudkan untuk memberikan manfaat pada dunia pengajaran bahasa, khususnya bahasa Arab. Sebab, setiap orang yang bergelut di bidang ini pasti menyadari pentingnya metode pembelajaran yang selayaknya dikuasai oleh calon pendidik atau pengajar.[6]Penguasaan materi ilmu bukanlah merupakan suatu jaminan kemampuan bagi seseorang untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun juga. Di samping itu, masalah metode bukanlah sesuatu yang mudah dicerna di dalam pengaplikasiannya (heuristik). Seperti yang ditulis oleh Edward M. Anthony dalam artikelnya dengan judul “Approach, Method and Technique” pada tahun 1963, dan dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar bahwasannya lapangan pengajaran bahasa diusahakan bisa mencapai taraf ilmiah ketimbang hanya mengambang pada taraf eksperimental dan empiris dan bisa juga memperdalam hakekat belajar dan mengajar bahasa. Dan bagaimana teknik yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas dan merupakan pelaksanaan dari metode yang sifatnya implementatif.[7]

Adapun alasan penulis memilih MI Miftakhul Huda Temanggung sebagai subjek penelitian adalah karena ada indikasi MI Miftakhul Huda Temanggung memiliki kelebihan dalam penguasaan bahasa Arab di antara MI-MI lainnya yang berada di wilayah sekecamatan Bulu, kabupaten Temanggung. Hal ini bisa dilihat dari hasil nilai rata-rata yang diperoleh ketika ujian semester genap pada tahun ajaran 2004-2005, yakni dengan nilai rata-rata 7,65. Sedangkan nilai rata-rata pelajaran bahasa Arab untuk MI sekecamatan Bulu adalah 60,01.

Alasan inilah yang membuat penulis merasa perlu melakukan suatu peneltian. Bagaimana cara pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut? Dan bagaimana peranan serta pengaruh guru –gurunya?

Penelitian ini diharapkan berhasil mendeskripsikan proses pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut disertai analisis kelebihan dan kekurangannya, kemudian memberi sumbangan pikiran bagi pengajaran bahasa Arab bagi lembaga-lembaga pendidikan lain setingkat Madrasah Ibtidaiyah.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pembelajaran Kitab Kuning Dengan Arab Pegon (PBA-5)

Arab pegon, sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu6. Jadi, huruf Arab pegon atau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal. Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis, dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu. 

Keberadaan Arab pegon di Nusantara sangat erat kaitannya dengan syi’ar Agama Islam, diduga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para ulama sebagai upaya menyebarkan Agama Islam7. Selain itu aksara Arab ini juga digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, dalam kesusasteraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, penggunaan huruf ini terutama untuk kesusasteraan Jawa yang bersifat agama Islam,8 aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Jawa disebut dengan aksara Pegon.9Bukan hanya kesusasteraan Jawa saja tapi ternyata mencakup Nusantara karena menurut Drs. Juwairiyah Dahlan, bagi mereka yang mempelajari kesusasteraan Indonesia seringkali menggunakan aksara Arab ini, bahkan di Malaysia disebut dengan aksara Jawi.

Dengan aksara Arab ini, telah ditulis dan dikarang ratusan buku mengenai ibadah, hikayat, tasawuf, sejarah nabi-nabi dan rosul serta buku-buku roman sejarah.  Pada zaman penjajahan Belanda, sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, seringkali aksara Arab dipergunakan dalam surat menyurat, bahkan dikampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan, banyak sekali orang yang masih buta aksara latin tetapi tidak buta aksara Arab, karena mereka sekurang-kurangnya dapat membaca aksara Arab, baik untuk membaca Al-Qur’an maupun menulis surat dalam bahasa daerah dengan aksara Arab.10Menurut Prof. Dr. Denys Lombard, menjelang tahun 1880 aksara Arab masih digunakan luas untuk menuliskan Bahasa Melayu dan beberapa bahasa setempat (seperti Bahasa Aceh atau Minangkabau) 11

 

Beragam usaha untuk mempertahankan penggunaan aksara Arab ini, salah satunya di daerah Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Buton. Menurut Laode Zaedi,12  aksara Arab dengan Bahasa Bugis/Walio dianggap sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah dan kini sedang digalakkan pelestariannya, salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi sebagai salah satu pilihan dalam kurikulum muatan lokal.  

Selain itu, keberadaan penggunaan Arab pegon di pondok pesantren terutama yang masih kuat kultur masyarakatnya13sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Karena selama ini pesantren masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam pencapaian berhasilnya pelajaran dan pengajaran Bahasa Arab. Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon dalam pengajarannya biasa disebut dengan Ngabsahi14atau Ngalogat15 dalam menerjemahkan dan memberi makna pada Kitab Kuning.

Pengertian umum yang beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan berbahasa arab, atau berhuruf arab, sebagai produk pemikiran ulama masa lampau (as-salaf)yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning adalah kitab-kitab yang, ( a) ditulis oleh ulama-ulama “asing”, tetapi secara turun-temurun menjadi referenceyang dipedomani oleh para ulama indonesia, (b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang “independen”, dan c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing”. 

Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di timur tengah, dikenal dua istilah yang menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-ashriyyah). Perbedaan pertama dari yang kedua dicirikan, antaara lain,  cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (baca: sandangan- fatkhah, dhommah, kasroh). Dan sebutan kitab kuning pada dasarnya mengacu pada katagori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah)

Spesifikasi kitab kuning secara umum terletak pada formatnya (lay-out), yang terdiri dari dua bagian: matn, teks asal (inti), dan syarh (komentar, teks penjelas atas matn). Dalam pembagian semacam ini, matnselalu di letakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarh-karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matn-diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning. Ukuran panjang-lebar kertas yang digunakan kitab kuning pada umumnya kira-kira 26 cm (quarto). Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 2 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkn salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara terpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengajian, santri hanya membawa korasantertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai-ulama. 

Hal yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal bahwa ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: adalah metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning dihadapan kiai-ulama yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahw dan sharf). Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai-ulama sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syaklatau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Penting ditegaskan bahwa  di kalangan pesantren, terutama yang klasik (salafi), memiliki cara membaca tersendiri yang dikenal dengan cara utawi-iki-iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan tata bahasa (nahw dan sharf) yang ketat. 

Selain kedua metode diatas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren, dewasa ini telah berkembang  metode jalsah (diskusi kelompok) dan halaqoh(seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan ditingkat kiai-ulama atau pengasuh pesantren, namun sekarang pun sudah sering dilakukan oleh santri. Guna membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.16   
         

Ilustrasi berikut ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas bagaimana metode ini dilaksanakan dalam praktik:


                الحمد لله الدي فضل بني ادم بالعلم والعمل على جميع العالم    

Teks tersebut diatas diambil dari kitab Ta’lim al Muta’lim. Huruf-huruf besar syang horisontal adalah teks asli Bahasa Arab, sedangkan huruf-huruf kecil di antara tulisan horisontal yang ditulis miring kebawah adalah terjemahannya dalam bahasa Jawa. Teks asli dalam Bahasa Arab ditulis dengan vowels (dalam bahasa Jawa disebut nganggo sandangan) atau Arab Pegon. Murid-murid harus belajar dari kitab-kitab gundul yang ditulis tanpa huruf hidup atau tanpa syakal. Ilustrasi tersebut menunjukkan bagaimana cara penerjemahan teks Arab ke dalam Bahasa Jawa. Perkataan Arab Al-Hamdu lillahiditerjemahkan utawi sekabehane puji iku keduwe Alloh, yang berarti ”Segala puji adalah kepunyaan Alloh”. Perkataan Al hamdu yang didahului oleh al dan diakhiri dengan huruf hidup U (dzamah U) dan dalam Bahasa Jawa didahului dengan kata utawi dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa perkataan tersebut adalah mubtda’ atau pokok kalimat. Hal ini sangat penting untuk diketahui oleh murid-murid, sebab kitab-kitab yang diajarkan dalam metode sorogan dan bandongan ditulis tanpa syakal, sehingga untuk dapat membacanya dengan benar dan cocok  para murid harus menguasai tatabahasa Arab.17

Tulisan sebagai lambang tertulis dari suatu bahasa berfungsi sebagai alat untuk dibaca agar dipahami maksud yang terkandung didalamnya. Kemampuan membaca dipakai untuk memahami maksud tulisan sehingga membaca untuk menjadi paham. Pemakaian Bahasa Jawa dalam penulisan Arab Pegon sebagai sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren merupakan salah satu simbol masuk dan bercampurnya Budaya Jawa sebagai usaha untuk lebih dapat memahami isi kitab kuning yang didalamnya menggunakan Bahasa Arab. 

Skripsi ini disusun sebagai salah satu upaya dalam pengembangan keilmuan yang mengkaji tentang permasalahan tradisi Arab pegon di pondok pesantren, dengan harapan dapat membantu mendudukkan pada proporsinya. Mengingat keterbatasan waktu dan pengetahuan, skripsi ini sengaja membatasi kajiannya pada proses penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon saja.  

Pada kesempatan ini penulis mengambil studi kasus di Madrasah Salafiyah III, Komplek Q, Krapyak, Yogyakarta. Alasan pemilihan tempat merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan, selain karena secara geografis dekat dengan kampus Universitas Islam Negeri Yogyakarta, segala macam informasi mudah didapat, dan satu hal yang sangat penting yaitu karena Madrasah Salafiyah III ini masuk dalam lingkup salah satu pesantren tradisional yang dari awal pendiriannya hingga saat ini masih konsistenmenggunakan Arab pegon

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Tingkat Perbandingan Bahasa Indonesia,Arab,Dan Inggris (PBA-4)

Skripsi ini  berjudul “Tingkat Perbandingan Dalam Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris Serta Implikasinya Dalam Pengajaran Bahasa Arab   (Suatu Analisis Kontrastif ).” Dari judul tersebut agar tidak terjadi asumsi serta pernafasan yang keliru mengenai obyek pembahasan yang dimaksud, di sini penulis perlu menguraikan, menjelaskan dan menegaskan judul tersebut.

1.                   Tingkat Perbandingan

Perbandingan berarti memberi nilai lebih terhadap sesuatu. Sehingga tingkat perbandingan dapat diartikan sebagai bentuk morfologi yang menunjukkan keadaan lebih dari sesuatu terhadap yang lain.

2.                   Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris

Yang dimaksudkan dengan ketiga bahasa adalah bahasa baku yang menjadi bahasa resmi negara masing-masing dan sesuai dengan tata bahasa yang sudah ditentukan.

 

3.                   Analisis Kontrastif

Analisis kontrastif adalah aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan antara kedua bahasa. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan atau memprediksi kesulitan-kesulitan belajar berbahasa yang akan dihadapi para siswa.[1]

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Prilaku Sifat Dan Mausuf Dalam Hubungan Sintaksis Bahasa Arab (PBA-3)


Sebagai manusia kita tidak akan pernah berhenti saling berinteraksi dengan manusia yang lainnya karena antara manusia yang satu dengan yang lainnya sangat saling membutuhkan dan sebagian cara berinteraksi manusia dengan manusia yang lainnya adalah dengan cara komunikasi antara sesama, baik itu dengan bahasa lisan atau bahasa tulisan. Sebagai media komunikasi berbagai Bahasa mengalami kemajuan sejalan dengan perkembangan budaya-masing-masing termasuk Bahasa Arab.

Bahkan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sudah dijadikan Bahasa Internasional dan kedua bahasa ini dijadikan sebagai mata pelajaran yang penting di Lembaga Pendidikan yang berciri khas Agama Islam. Dalam mempelajari bahasa-bahasa tersebut para siswa tidak akan luput dari kesulitan-kesulitan, karena bahasa-bahasa tersebut sangat variatif dan mempunyai aturan-aturan yang sangat banyak terutama Bahasa Arab. 

Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki tingkat kemajuan yang sangat pesat, sehingga Bahasa Arab sangat potensial untuk dijadikan sebagai Bahasa Internasional, karena Bahasa Arab dijadikan sebagai  pelajaran yang sangat mendasar di lembaga-lembaga pendidikan terutama Lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah Depertemen Agama.

Mempelajari Bahasa Arab, tidak akan pernah sempurna hanya dengan mempelajari Bahasa Arab itu sendiri, karena siswa akan menemukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, sehingga memperlambat siswa dalam memahami Bahasa Arab tersebut. 

Membicarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para siswa dalam mempelajari Bahasa, terutama Bahasa Arab, maka kita akan membicarakan pelajaran-pelajaran yang sangat mendukung para siswa untuk lebih cepat memahami Bahasa Arab terutama pelajaran Nahwu, karena dengan pelajaran Nahwulah para siswa bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar, bahkan dalam sebuah syair Bahasa Arab telah di sebutkan “ﻢﻬﻓﻴﻦﻠﻪﻧﻭﺩﻢﻼﻜﻠﺍﺬﺍ” (Muhammad, ibnu Aqil) yang artinya “Perkataan tanpa Ilmu Nahwu maka perkataan tersebut sulit dipahami”. 

Dengan demikian pelajaran Nahwu merupakan pelajaran dasar bagi para siswa untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Tapi sering kita jumpai banyak para siswa yang mengeluh dengan pelajaran Nahwu, karena siswa  sering salah dalam menggunakan atau  menerapkan kaidah atau aturan  yang ada dalam pelajaran Nahwu tersebut. Terutama mengenai sifat dan mausuf (Na’at dan Man’ut) padahal Sifat dan Mausuf merupakan hubungan sintaksis frasiologis yang tidak mencapai makna klausa yang banyak digunakan dalam berbahasa, baik bahasa lisan atau tulisan. 

Kemudian dalam penerapan hubungan sintaksis sifat dan mausuf sering kali terjadi kesalahan di kalangan pengguna Bahasa Arab, baik di Madrasah, Pondok pesantren, dan di Perguruan Tinggi khususnya di kalangan Mahasiswa STAIN sendiri.

Dengan adanya fenomena seperti inilah yang menarik minat pengkaji untuk mengadakan kajian dengan judul “PRILAKU SIFAT DAN MAUSUF DALAM HUBUNGAN SINTAKSIS BAHASA ARAB

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Penggunaan Metode Sinergetic Teaching Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Biologi Di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin (PBIO-7)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

    Sekolah merupakan wadah dalam melaksanakan pendidikan dan sekaligus bertanggung jawab untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional, Maka sekolah sebagai lembaga pendidikan formal bertanggung jawab dalam menanamkan dan memberi bekal ilmu pengetahuan, sikap kecakapan dan budi pekerti serta keterampilan yang berguna bagi siswa sebagai individu maupun lingkungan dimana individu itu berada baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Proses pembelajaran merupakan proses yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Pembelajaran berasal dari kata belajar yang mempunyai arti ”suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan nya”.

      

Seorang pendidik mempunyai peranan penting yaitu sebagai tokoh utama dalam keseluruhan proses pendidikan pada umumnya dan dalam proses pembelajaran pada khususnya. Seorang pendidik dalam menciptakan suasana pembelajaran yang baik harus berpedoman kepada kurikulum yang telah ditetapkan. Diantara 5 komponen kurikulum yang telah ditetapkan tersebut yakni sebagai berikut :

1.                  Tujuan.

2.                  Bahan Ajar / Materi Pembelajaran.

3.                  Metode Pembelajaran

4.                  Media Mengajar

5.                  Evaluasi Pembelajaran”.

Berdasarkan 5 komponen ini,maka penulis akan memfokuskan Pembahasan tentang komponen kurikulum yang ketiga, yaitu Metode Pembelajaran.


Metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional yang memegang peran sangat penting pada sistim pembelajaran.Wina Sanjaya menyatakan ”Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam suatu kegiatan, agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal”.

Metode memegang peranan yang sangat penting dalam rangkaian sistim pembelajaran, keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Nana sudjana berpendapat ”Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlansungnya pelajaran”.

Metode pembelajaran merupakan teknik penyajian bahan pelajaran kepada siswa dalam kelas, baik secara individu maupun kelompok/klasikal. Metode yang dipilih harus pula memperhatikan tujuan yang ingin dicapai serta sumber-sumber belajar yang ada. Penggunaan metode yang bervariasi tidak lain agar anak didik tidak merasa bosan selama pelajaran berlansung, serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa itu sendiri.

            

Guru memiliki peranan penting dalam Proses pembelajaran. Seorang guru harus mampu menciptakan pembelajaran aktif, dengan menggunakan Metode Pembelajaran aktif. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif. Siswa belajar dengan aktif artinya siswa yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dalam  belajar aktif, siswa diajak untuk ikut serta dalam semua proses pembelajaran tidak hanya mental tapi juga fisik. Dengan cara ini siswa akan merasakan suasana menyenangkan  sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. Salah satu contoh pembelajaran aktif adalah Metode Sinergetic Teaching. Dengan menggunakan metode ini diharapkan dapat mempermudah siswa untuk memahami pelajaran, meningkatkan ransangan belajar, serta menimbulkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar.

Penelitian awal yang peneliti lakukan di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin membuktikan bahwa, ada beberapa mata pelajaran yang sewaktu proses pembelajaran belum menggunakan metode pembelajaran aktif. Siswa hanya diajak untuk mendengarkan guru dalam menyampaikan materi sampai waktu habis. Hal ini menyebabkan siswa kurang fokus mengikuti proses pembelajaran.

Proses pembelajaran seperti ini juga terjadi pada mata pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin. Siswa tidak begitu antusias mengikuti pembelajaran disebabkan guru tidak menggunakan metode yang bervariasi. Siswa tidak terlihat aktif dalam proses pembelajaran,mereka hanya menerima saja yang disampaikan guru dan hanya sedikit sekali siswa yang mau bertanya ataupun ingin menjawab pertanyaan.

Berdasarkan  informasi yang ditemukan dilapangan tersebut, maka tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Akan tetapi, perlu kiranya dilakukan sebuah upaya untuk menindak Lanjuti ketimpangan yang ada. Salah satu alternatifnya adalah dengan menerapkan metode Sinergetic Teaching pada proses pembelajaran khususnya pada pelajaran biologi.

Metode Sinergetic Teaching merupakan sebuah metode pembelajaran yang menggabungkan dua jenis cara atau teknik belajar yang berbeda dengan membandingkan hasil dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan tersebut. Dalam hal ini peneliti akan menggabungkan dua strategi atau metode yang berbeda pada pelaksanaan proses pembelajaran. Strategi atau metode yang akan peneliti gunakan yaitu metode kelompok belajar (study group) dan metode Latihan (drill). Dengan menggunakan metode Sinergetic Teaching diharapkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajar sehingga siswa akan mendapatkan hasil yang lebih baik.Oleh karena itu penulis tertarik untuk menggabungkan kedua metode tersebut kedalam Metode Sinergetic Teaching.

      

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri 9 Merangin dengan judul: “PENGARUH PENGGUNAAN METODE SINERGETIC TEACHINGTERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BIOLOGI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 9 MERANGIN.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Pembelajaran Model Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas Viii Smp Negeri 1 Ketapang Kabupaten Sampang (PBI-13)

BAB I  

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Guru merupakan personel yang menduduki posisi strategis dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia pembelajaran. Menurut Peters (dalam Sudjana, 2009: 15) mengemukakan bahwa ada tiga tugas dan tanggung jawab guru, yakni guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing, dan guru sebagai administrator kelas.

Sebagian ahli mengatakan bahwa tugas dan peranan guru antara lain menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. Tugas guru dalam proses belajar mengajar meliputi tugas pedagogis dan tugas administrasi. Tugas padagogis adalah tugas membantu, membimbing, dan memimpin. Dalam situasi pembelajaran, gurulah yang memimpin dan bertanggung jawab penuh atas kepemimpinannya yang dilakukan itu. Ia tidak melakukan instruksi-instruksi dan tidak berdiri di bawah instruksi manusia lain kecuali dirinya sendiri, setelah masuk dalam situasi kelas.


Dari hal itu, guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat besar, di samping sebagai fasilitator dalam pembelajaran siswa, juga sebagai pembimbing dan mengarahkan peserta didiknya sehingga menjadi manusia yang mempunyai pengetahuan luas baik pengetahuan umum, kecerdasan, kecakapan hidup, keterampilan, budi pekerti luhur, dan kepribadian baik dan bisa membangun dirinya untuk lebih baik dari sebelumnya serta memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa.

 
Oleh karena itu, guru harus mengetahui  bagaimana situasi  dan kondisi ajaran itu disampaikan kepada peserta didik, saran apa saja yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan belajar, bagaimana cara atau pendekatan yang digunakan dalam penbelajaran, bagaimana mengorganisasikan dan mengelola isi pembelajaran, hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut, dan seberapa jauh tingkat efektifitas, efisiennya serta usaha-usaha apa yang dilakukan untuk menimbulkan daya tarik bagi peserta didik.

 

Dalam kegiatan pembelajaran terdapat dua kegiatan yang sinergi, yakni guru mengajar dan siswa belajar. Guru mengajarkan bagaimana siswa harus belajar. Sementara siswa belajar bagaimana seharusnya belajar melalui berbagai pengalaman belajar hingga terjadi perubahan dalam dirinya dari aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan yang efektif dan akan lebih mampu mengelola proses belajar mengajar, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.

Belajar memang bukan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi pada anak didik, tetapi belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan dari pelajar itu sendiri. Itulah keaktifan yang merupakan langkah-langkah belajar yang didesain agar siswa senang mendukung proses itu dan menarik minat untuk terlibat. 

Mengaktifkan belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara menghidupkan dan melatih memori siswa agar bekerja dan berkembang secara optimal. Guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan memorinya bekerja secara maksimal dengan bahasanya dan melakukan dengan kreatifitasnya sendiri. Mengajar menurut Nasution (dalam Ahmadi 2005: 39) adalah aktivitas guru dalam mengorganisasikan lingkungan dan mendekatkannya kepada anak didik sehingga terjadi proses belajar.

Dalam pembelajaran terdapat beberapa komponen yang berpengaruh dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia, salah satunya adalah “model atau metode pembelajaran”. Apabila ditinjau dari karakteristik setiap individu dari anak didik pasti memiliki perbedaan dalam hal kemampuan sikap, gaya belajar, perkembangan moral, perkembangan kepercayaan, perkembangan kognitif, sosial budaya dan sebagainya. Untuk itu guru harus mampu menjadikan mereka semua terlibat, merasa senang selama proses pembelajaran.

Pendidikan yang dianggap merupakan suatu alternatif dalam membentuk kepribadian manusia dianggap gagal. Hal ini dipengaruhi karena kurangnya perhatian terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa. 

Mengembangkan nilai-nilai yang diajarkan pada siswa sangat tergantung pada peranan guru dalam mengelola pembelajaran. Salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan guru dalam proses pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menguasai dan menerapkan model serta metode pembelajaran.

Model mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu, peranan model mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar terhadap keaktifan proses pembelajaran.

Dengan model dan metode yang tepat seseorang dapat meraih prestasi belajar secara berlipat ganda. Hal itu tentu saja merupakan peluang dan tantangan yang menggembirakan bagi kalangan pendidik. Tetapi jika bangsa Indonesia terlambat mengapresiasikan berbagai temuan mutakhir dalam bidang metodologi pendidikan, maka posisi kita akan semakin tertinggal di belakang. 

Model pembelajaran yang tepat dapat memberikan motivasi belajar yang tinggi, dimana sangat berpengaruh sekali pada pembentukan jiwa anak. Motivasi belajar yang membangkitkan dan memberi arah pada dorongan yang menyebabkan individu melakukan perbuatan belajar.

Guru dituntut untuk menguasai bermacam model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa. Dalam memilih model pembelajaran, kadar keaktifan siswa harus selalu diupayakan tercipta dan berjalan terus dengan menggunakan beragam model dan metode pembelajaran. Keaktifan siswa di kelas sangat diperlukan karena proses kerja sistem memori sangat membantu perkembangan emosional siswa.

Dengan model belajar aktif, siswa akan mampu memecahkan masalahnya sendiri, yang paling penting melakukan tugasnya sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Persoalannya bagaimana mengaktifkan siswa agar secara sukarela tumbuh kesadaran mau dan senang belajar, guru harus mempunyai strategi yang baik supaya pendidikan dan pengajaran yang disampaikan memperoleh respon positif, menarik perhatian, dapat dikembangkan dan terimplementasi dalam sikap yang positif  pula. Untuk mencapainya, seorang guru harus dapat memilih model pembelajaran yang menarik karena model pembelajaran yang biasa diterapkan monoton hanya terfokus pada materi saja.

Untuk meningkatkan mutu pembelajaran dalam kelas, banyak faktor yang harus dipertimbangkan diantaranya yaitu dalam hal penyampaian materi dari sumber melalui saluran atau media tertentu ke penerimaan siswa, sedangkan model pembelajaran yang digunakan di sekolah dirasakan masih kurang menciptakan suasana kondusif dan siswa terkesan pasif. Hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa ada respon dari siswa, sehingga yang diketahui siswa hanya tersimpan dalam memori saja, tidak diungkapkan. Penyebab dari kepasifan siswa di kelas yaitu takut salah atau tidak percaya diri dan siswa cenderung malu mengungkapkan pendapatnya.

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna lebih mengaktifkan belajar siswa di kelas yaitu dengan menggunakan medel JigsawLearning. Strategi ini dapat diterapkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan dan diketahui siswa dengan membagikan bahan ajar yang lengkap. Dalam strategi ini, siswa dibagi secara kelompok, siswa dapat mendiskusikan dalam kelompok kecil. Setiap anggota kelompok kecil berusaha membuat resume untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Bentuk kelompok baru secara acak dan setiap anggota kelompok untuk saling menjelaskan resume kepada sesama anggota dalam kelompok baru tersebut sehingga diperoleh pemahaman yang utuh. 

Dengan model pembelajaran ini, siswa dapat bekerja atau berpikir sendiri tidak hanya mengandalkan satu siswa saja dalam satu kelompok tersebut. Karena setiap siswa dituntut dapat meresume dan dapat mempresentasikan pada kelompok yang baru.

Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka perlu kiranya diadakan suatu penelitian pendidikan. Dalam hal ini, penulis ingin mengangkat satu judul yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini, yaitu: “Pengaruh Pembelajaran Model Jigsaw Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Ketapang Kabupaten Sampang”.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Impact Technique Untuk Meningkatkan Disiplin Siswa Dalam Praktikum Fisika (PFIS-6)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Belajar fisika akan menjadi lebih mengasyikkan apabila digabung dengan kegiatan nyata. Belajar dengan  banyak mengadakan praktikum, pengamatan, dan menggunakan berbagai fasilitas menjadikan fisika lebih menyenangkan dan melatih siswa mengembangkan aspek kognitif, psikomotoriknya dan afektif.
“Jika dihitung-hitung, kita sering kali lebih banyak disibukkan dengan mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan manajemen kelas yang melelahkan dan tak pernah kunjung selesai, daripada mengulang-ulang materi yang kita ajarkan” (Danie Beaulieu:13)
Observasi lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar di kelas diadakan sebelum melaksanakan penelitian. Observasi dilakukan di SMPN 172 Jakarta yang telah menggunakan KTSP dan penilaian didasarkan pada tiga aspek, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Observasi meliputi kunjungan ke laboratorium yang cukup menyediakan alat-alat praktikum. Pengelolaan praktikum yang dapat mengembangkan disiplin siswa sangat dibutuhkan. Hal ini dilakukan karena pelaksanaan praktikum sangat penting, sedangkan pada pelaksanaannya terdapat siswa yang tidak mematuhi tata tertib praktikum sehingga menimbulkan kegaduhan.

 

Masalah tersebut bisa diselesaikan dengan menggunakan Impact Technique. Hal ini sesuai dengan standar isi kurikulum KTSP IPA menekankan kemampuan bersikap dan keterampilan.
‘’Kompetensi adalah kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik’’(Badan Standar Nasional Pendidikan:49)
Impact Technique merupakan teknik yang berhubungan dengan manajemen ruang kelas, beberapa yang lain menitikberatkan pada permasalahan seputar sikap dan perilaku menghadapi siswa, dan sisanya masih dimaksudkan memberi dukungan pada kesulitan yang mungkin dialami oleh remaja (Beaulieu:11). Impact Technique digunakan dengan harapan dapat mengatasi masalah tersebut.
Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peningkatan Kemampuan Menceritakan Kembali isi cerita yang diperdengarkan melalui media boneka tangan siswa kelompok B TK. Muslimat Islamiah Kramat Jegu Tahun Pelajaran 2008/2009 (PBI-12)

BAB I 
PENDAHULUAN 
A.                 Latar Belakang
Pendidikan adalah adalah komunikasi, dalam arti bahwa dalam proses belajar mengajar terjadi penyampaian pesan yang berupa informasi dari guru sebagai komunikator dan murid sebagai penerima informasi atau komunikan. Namun, proses komunikasi yang terjadi dalam proses belajar mengajar hanya dilakukan untuk menghasilkan satu efek yaitu meningkatkan pengetahuan siswa terhadap pelajaran atau informasi yang diberikan guru.

 

Proses komunikasi dalam pendidikan adalah bentuk komunikasi kelompok secara langsung dimana seorang komunikan yakni guru yang berada diruang kelas, bertatap muka dan menyampaikan informasi berupa meteri pelajaran kepada beberapa orang siswa. Namun, adakalahnya proses penyampaian materi pembelajaran oleh guru tidak berjalan efektif karena proses pembelajaran yang dilakukan tidak mampu membuat siswa menyukai materi yang disampaikan, sehingga siswa terkesan malas untuk mengikuti pembelajaran, pada akhirnya efek yang diinginkan yaitu pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tidak tercapai. Oleh karena itu hendaknya sebelum melaksanakan pembelajaran, seorang guru yang bertindak sebagai komunikator di dalam kelas harus merencanakan segala hal yang berkaitan dengan penyampaian pelajaran kepada siswanya, baik dari segi penyampaian, metode maupun media yang digunakan. Melalui penyampaian yang bagus, penggunaan metode dan pemilihan media yang tepat maka akan menghasilkan proses kpembelajaran yang efektif.
 
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. 

 
Begitu juga yang terjadi pada jenjang pendidikan pra sekolah (Taman Kanak-Kanak) yang merupakan proses awal pembelajaran. Taman Kanak-Kanak merupakan pelatakan dasar-dasar pengetahuan, karena pada usia pra sekolah anak belum memiliki bekal pengetahuan sistematis yang pernah diajarkan kepadanya, kalaupun ada itu hanya berdasarkan pengajaran awal oleh orang tuanya. Oleh karena itu seorang guru di Taman Kanak-Kanak dituntut untuk mampu mengetahui kondisi anak didiknya, sehingga diharapkan guru yang bersangkutan mampu melaksanakan pembelajaran yang efektif dengan menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat.
Pada usia pra sekolah proses pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar anak, meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani. Pengembangan kemampuan anak ini tentunya dilaksanakan dengan pelajaran dan pengetahuan-pengetahuan dasar anak tentang diri mereka, lingkungan tempat tinggal maupun kebiasaan-kebiasaan mereka.
Sebagaimana terdapat dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak tujuan program kegiatan belajar TK adalah untuk membantnu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan  dan daya cipta yang diperlukan anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. (Moeslichatoen, 2004 : 3).
Salah satu kemampuan dasar yang harus dikembangkan pada anak usia TK adalah kemampuan berbahasa. Karena Bahasa adalah kegiatan mental yang sangat esensial bagi manusia. Tanpa bahasa yang membuahkan ucapan, tulisan dan bacaan, tak ada komunikasi antar manusia. Anak sangat memerlukan penguasaan bahasa. (Setiabudhi, 2003:7). Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Bahasa adalah alat komunikasi. Menurut Ricard (dalam Tarigan 1990:13) mengatakan bahwa komunikasi adalah pertukaran ide-ide, gagasan-gagasan, informasi dan sebagainya antara dua orang atau lebih.
Kemampuan berkomunikasi, berbicara dan berbahasa dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja. Mulai dari lingkungan keluarga kecil, keluarga besar, lingkungan sekitar tempat tinggal, dan sekolah. Untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak usia dini secara formal dapat diperoleh di sekolah taman kanak-kanak (TK).
Pengembangan kemampuan berbahasa yang biasa dilakukan di taman kanak-kanak (TK) dilakukan melalui berbagai macam program pembelajaran yang mendukung kemampuan berkomunikasi tersebut. Salah satunya adalah mengadakan kelas mendongeng (bercerita). Selain mengembangkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi anak, bercerita juga memiliki nilai hiburan terhadap anak. Banyak aspek pendidikan yang terdapat dalam bercerita. Cerita mengajarkan banyak hal terutama mengenai pesan-pesan moral dan pengetahuan yang disampaikan melalui tokoh-tokoh dalam cerita. Terbukti bahwa anak-anak akan terus mengingat tokoh-tokoh dalam cerita yang disampaikan, baik tokoh yang jahat maupun yang baik.
Selain itu cerita juga memiliki berbagai manfaat bagi anak diantaranya mengembangkan daya pikir dan imajinasi, kemampun berbicara, serta daya sosialisasi karena melalui cerita anak dapat belajar mengakui kelebihan orang lain sehingga mereka menjadi lebih sportif (geodesy.gb.itb.ac.id : 2007).
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode bercerita biasanya dimulai dengan penyampaian cerita oleh guru yang telah ditentukan baik tema maupun isi cerita yang disampaikan. Untuk itu guru dituntut agar mampu membawakan cerita dengan baik sehingga dapat dimengerti oleh siswanya. Selanjutnya pembelajaran dilakukan dengan memberikan kesempatan berupa tugas kepada siswa untuk menceritakan kembali cerita yang telah disampaikan oleh guru ke depan kelas di depan teman-temannya. Metode pembelajaran semacam ini bertujuan untuk mengasah kemampuan berbahasa siswa.
Namun, tidak semua siswa mau dan mampu untuk maju ke depan kelas dan menceritakan kembali cerita yang telah disampaikan oleh guru, setidaknya permasalahan itulah yang terjadi pada siswa kelompok B TK Muslimat “Islamiyah” Kramat Jegu setiap kali diadakan pembelajaran dengan metode cerita. Siswa kelompok B terlihat kesulitan ketika diminta untuk menceritakan kembali cerita di depan kelas. Pemahaman terhadap cerita yang disampaikan terlihat sangat kurang, hal ini terlihat dari beberapa pertanyaan yang coba disampaikan oleh guru pengajar ketika selesai menyampaikan cerita. Mereka terlihat kesulitan untuk memahami tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, isi cerita apalagi pesan-pesan yang disampaikan dalam cerita.
Secara konkret kondisi di TK Muslimat Islamiyah Kramat Jegu dalam bercerita di depan kelas, dari jumlah 29 siswa yang sudah mampu bercerita hanya 11 siswa, jadi yang belum mampu sekitar 23 %.
Berdasarkan data-data inilah maka penelitian tindakan kelas ini kami lakukan dengan menggunakan media pembelajaran boneka tangan dengan cara bercerita. Harapan peneliti, dengan pembelajaran bercerita menggunakan media boneka tangan, siswa lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sehingga akan tercipta suatu pembelajaran yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Dampaknya akan tercipta peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi cerita yang telah disampaikan.   

   

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

WordPress Themes